Daily Update : 24-03-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa saham AS ditutup melemah setelah Parlemen AS memutuskan untuk menunda jadwal pemungutan suara terkait Obamacare. Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,11 persen. (Bloomberg)
  • Penjualan rumah baru di AS melanjutkan ekspansi dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,1 persen mom pada bulan Februari. Pertumbuhan penjualan tersebut ditopang oleh pemulihan ekonomi dan penguatan sektor ketenagakerjaan AS di tengah tingginya tingkat suku bunga mortgage. (ABC News)
  • Penjualan ritel UK pada bulan Februari 2017 mencatatkan kenaikan sebesar 1,4 persen mom di tengah kekhawatiran terhadap dampak Brexit bagi ekonomi UK dan kenaikan inflasi yang terus berlanjut. (BBC)
  • Singapura mencatatkan inflasi sebesar 0,7 persen mom pada bulan Februari 2017 sejalan dengan proyeksi sebelumnya. Inflasi tersebut terutama didorong oleh kenaikan biaya transportasi darat pribadi. (RTT News)

BERITA DOMESTIK

  • Bank Indonesia (BI) resmi merilis Peraturan BI (PBI) Nomor 19/2/PBI/2017 tentang Transaksi Sertifikat Deposito di Pasar Uang sebagai regulasi terhadap perdagangan sertifikat deposito (Negotiable Certificate Deposit/NCD) di pasar keuangan yang mulai berlaku efektif pada 1 Juli mendatang. PBI yang baru tersebut mengatur sejumlah aspek terkait Sertifikat Deposito yang ditransaksikan di pasar uang, termasuk bahwa BI melakukan pengawasan terhadap Sertifikat Deposito yang ditransaksikan di pasar uang guna memitigasi potensi risiko sistemik dalam sistem keuangan melalui penguatan aspek governance, kejelasan mekanisme transaksi, dan kewenangan pengawasan. (Bank Indonesia)
  • Menteri Keuangan, melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 43/PMK.07/2017, menetapkan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBH CHT) tahun 2017 sebesar Rp2,99 triliun, lebih besar dibanding DBH CHT tahun 2016 yang sebesar Rp2,83 triliun. Tiga provinsi yang mendapatkan DBH CHT terbesar di tahun 2017, yaitu (1) Jawa Timur sebesar Rp1,55 triliun, (2) Jawa Tengah sebesar Rp690,58 miliar, dan (3) Jawa Barat sebesar Rp346,06 miliar. (CNN Indonesia)
  • Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan meluncurkan prototype kartu pintar Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) multifungsi atau Kartu Indonesia 1 (Kartin1) sebanyak 200 kartu pada pekan depan. Prototype Kartin1 dapat digunakan sebagai kartu uang elektronik (e-money) dan menyimpan data Kartu Tanda Penduduk elektronik atau e-KTP. (CNN Indonesia)
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mempermudah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) melalui revisi Peraturan OJK (POJK) Nomor IX C7. Dalam peraturan baru nanti, OJK akan membagi perusahaan menjadi skala menengah dengan aset sebesar Rp100 miliar dan skala kecil dengan aset sebesar Rp50 miliar. Jumlah efek yang ditawarkan juga akan direvisi menjadi lebih dari Rp40 miliar sehingga dana yang didapatkan dari publik lebih besar. (Kontan)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 13-03-2017 s.d 19-03-2017 | Download File :



“Pasca kenaikan Fed fund rate, ketidakpastian pasar keuangan global mulai mereda yang direspon positif oleh para pelaku pasar keuangan”

Perekonomian negara maju

Bank sentral AS, the Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 0,75 – 1,0 persen, sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar sebelumnya. The Fed menegaskan pihaknya akan tetap menjalankan kebijakan moneter yang akomodatif guna mendorong penguatan data ketenagakerjaan dan inflasi. Sebelumnya, rilis data inflasi AS pada bulan Februari mencatatkan level tertingginya dalam lima tahun terakhir didorong oleh kenaikan harga bahan pangan dan biaya sewa, sementara penjualan ritel melambat yang dipengaruhi  oleh penurunan penjualan kendaraan.

Inflasi di kawasan Eropa pada bulan Februari 2017 mencapai angka tertinggi dalam empat tahun terakhir, yaitu sebesar 2 persen atau sesuai target yang ditetapkan bank sentral. Kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan pangan akibat cuaca dingin yang melanda kawasan Eropa Selatan. Sementara itu, neraca perdagangan kawasan Eropa pada bulan Januari masih mencatatkan defisit di tengah kenaikan pertumbuhan ekspor yang terjadi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan ekspor terutama didorong oleh kenaikan harga sektor energi.

Bank of England (BoE) menahan suku bunga acuannya pada level 0,25 persen setelah mempertimbangkan perlambatan pertumbuhan upah dan tingginya laju inflasi di negara tersebut. Namun, BoE memberikan sinyal terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang apabila laju inflasi semakin meningkat. Tingginya laju inflasi juga menghambat pertumbuhan upah dengan tingkat upah riil yang turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir meskipun tingkat pengangguran turun ke level 4,7 persen yang merupakan level terendah sejak 1975.

Bank sentral Jepang (BoJ) mempertahankan kebijakan moneternya dengan menjaga suku bunga acuannya tetap pada level -0,1 persen. Selain itu, BoJ juga mempertahankan batas atas yield obligasi Pemerintah tenor 10 tahun mendekati nol persen dan melanjutkan pembelian obligasi dengan total nilai sebesar 80 triliun yen hingga akhir tahun 2017. Data lainnya menunjukkan produksi industri Jepang pada bulan Januari mengalami kontraksi meskipun lebih redah dibanding perkiraan pasar.

Perekonomian negara berkembang

Rilis data dari Kantor Statistik Nasional Tiongkok menunjukkan pertumbuhan produksi industri dan investasi fixed-assetspada periode Januari – Februari 2017 mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal. Kenaikan produksi industri didorong oleh meningkatnya permintaan barang manufaktur, baik dari dalam maupun luar negeri.  Di sisi lain, penjualan ritel melambat dibanding bulan sebelumnya setelah Pemerintah Tiongkok mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan insentif pajak bagi penjualan mobil ukuran kecil.

Inflasi India pada bulan Februari tercatat lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya terutama didorong oleh kenaikan harga bahan pangan. Dengan hasil tersebut, para analis memperkirakan bank sentral India akan menaikkan suku bunga acuannya pada 6 April 2017 mendatang. Sebelumnya, bank sentral India memperkirakan laju inflasi akan berada pada rentang 4,0 – 4,5 persen di tahun 2017-2018. Dari sektor perdagangan, ekspor India pada bulan Februari mencatatkan pertumbuhan double digit didukung oleh kenaikan ekspor mesin dan tingginya permintaan dari luar negeri. Namun, kenaikan pertumbuhan impor yang lebih tinggi membuat defisit neraca perdagangan India semakin melebar.

Lembaga pemeringkat Moody’s merevisi outlook sovereign credit rating Brazil dari negative menjadi stable dengan peringkat Ba2. Penilaian Moody’s tersebut merefleksikan adanya perbaikan fundamental perekonomian Brazil setelah sebelumnya Pemerintah Brazil menyetujui batasan anggaran belanja Pemerintah dan reformasi lanjutan atas kebijakan ketenagakerjaan dan sistem pensiun di negara tersebut.

Perekonomian nasional

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 4,75 persen dengan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing sebesar 4,0 dan 5,50 persen. BI tetap mewaspadai sejumlah risiko yang bersumber dari global terkait kenaikan inflasi global, arah kebijakan ekonomi dan perdagangan AS, dampak lanjutan kenaikan Fed Fund Rate, risiko geopolitik di Eropa, serta risiko dari domestik berupa dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi.

Neraca Perdagangan Indonesia pada bulan Februari 2017 mencatatkan surplus sebesar USD1,32 miliar, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD1,43 miliar. Surplus kali ini terjadi di tengah meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas, sementara defisit neraca perdagangan migas mengalami kenaikan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memperbesar porsi kewajiban investasi berupa pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh Industri Keuangan Non Bank (IKNB) di tahun 2017. Peningkatan porsi investasi pada SBN Pemerintah ini tetap mengacu pada Peraturan OJK (POJK) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Investasi SBN bagi Lembaga Jasa Keuangan Non Bank. Hal ini perlu dilakukan oleh lembaga IKNB untuk ikut menjaga defisit Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Perkembangan komoditas global

Harga minyak mentah global pada pekan ini mengalami penguatan tipis secara mingguan di tengah kekhawatiran bahwa pemotongan produksi OPEC akan gagal untuk mengurangi kelebihan pasokan global. Sejalan dengan penguatan harga minyak mentah, harga batubara mengalami penguatan mingguan yang dipengaruhi oleh melemahnya dollar AS. Harga emas juga mengalami penguatan didorong oleh pernyataan Bank sentral AS yang mengisyaratkan bahwa pengetatan moneter akan dilakukan secara bertahap. Harga nikel tercatat mengalami penguatan mingguan yang dipengaruhi oleh isu penutupan operasi tambang di Filipina yang berpotensi menekan pasokan nikel global. Keputusan tersebut diperkirakan menekan volume ekspor bijih nikel global ke level 15 juta ton atau turun 50 persen dari volume ekspor pada tahun 2016. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami pelemahan terpicu oleh sentimen melemahnya harga minyak kedelai.

Perkembangan sektor keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan lalu sebagian besar menguat dipengaruhi oleh kenaikan Fed fund rate. Kenaikan kali ini menjadi sentimen positif bagi pasar karena selain rencana kenaikan yang telah diperkirakan sebelumnya, dengan kenaikan tersebut tingkat ketidakpastian di pasar keuangan global mulai berkurang. Sejalan dengan perkembangan indeks global, nilai tukar global juga ditutup sebagian besar menguat terhadap Dolar AS.

Dari pasar keuangan domestik, IHSG mencatatkan penguatan mingguan dan ditutup pada level 5.540,432 atau menguat 2,78 persen secara mingguan. Pada pekan ini, net buy oleh investor nonresiden tercatat sebesar Rp6,06 triliun sementara secara ytd investor nonresiden masih mencatatkan net sell sebesar Rp4,28 triliun.

Nilai tukar Rupiah mencatatkan penguatan mingguan dan ditutup pada level Rp 13.345 per dolar AS. Penguatan tersebut sejalan dengan penguatan mata uang global dan kawasan kecuali Real. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga di sepanjang pekan. Hal ini tercermin dari volatilitas spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang stabil.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmarkmengalami penurunan 16 s.d. 28 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia per tanggal 16 Maret 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp699,15 T (37,74%), atau secara nominal naik sebesar Rp2,58 T dibandingkan dengan pekan sebelumnya (09/03) yang sebesar Rp696,57 T (37,83%).

ISU UTAMA: Satu Ketidakpastian Global Mereda

  • Melalui pertemuan FOMC pada tanggal 15 Maret 2017, the Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75% - 1%.
  • Menyusul keputusan the Fed, Bank Indonesia, Bank Sentral Inggris (BoE) dan Bank Sentral Jepang (BoJ) mempertahankan suku bunga acuannya.
  • Perdagangan internasional Indonesia pada bulan Februari 2017 mengalami penurunan aktivitas dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
  • Melambatnya kegiatan perdagangan Indonesia pada bulan Februari tersebut dipengaruhi salah satunya oleh menurunya aktivitas perdagangan dengan Tiongkok.
  • Indonesia memiliki fundamental perekonomian yang cukup kuat dan sehat sebagai modal penting dalam menghadapi gejolak global.

Kenaikan suku bunga the Fed

Pada 15 Maret 2017, the Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75% - 1%. Ini melanjutkan langkah serupa yang diambil the Fed pada Desember 2016 dan Desember 2015 silam. Kenaikan suku bunga the Fed tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan fase pemulihan ekonomi AS yang terus berlanjut, ditandai oleh aktivitas ekonomi yang menguat serta pengangguran yang menurun.

Langkah normalisasi kebijakan moneter AS tersebut telah diantisipasi oleh pasar. Sebelumnya, the Fed mengindikasikan bahwa pada tahun 2017 akan terjadi kenaikan suku bunga acuan sebanyak 2 hingga 3 kali apabila data-data mendukung. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa berbagai indikator penting khususnya inflasi dan pasar tenaga kerja telah sesuai dengan ekspektasi the Fed, sehingga pengumuman kenaikan suku bunga the Fed tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan di pasar. Pasar saham di kawasan lainnya mampu tetap berada di zona hijau pasca pengumuman tersebut, dengan IHSG menjadi salah satu indeks saham yang mencatatkan peningkatan terbaik sebesar 1,58% dibanding penutupan sebelumnya, sementara Rupiah mengalami apresiasi sebesar 0,29%.

Respon kebijakan moneter global dan Indonesia

Langkah yang dilakukan oleh the Fed tersebut sedikit banyak mempengaruhi kebijakan moneter yang dilakukan oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia, Inggris, Jepang dan Tiongkok. Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo (7DRR) pada tingkat 4,75%.  BI melihat bahwa di lingkungan global masih terdapat beberapa potensi risiko yang perlu untuk diwaspadai, seperti kenaikan lanjutan suku bunga the Fed. Demikian halnya dengan BoE dan BoJ yang juga mempertahankan besaran suku bunga acuannya. Sementara itu, Bank Sentral Tiongkok (PBoC) menaikkan suku bunga reverse repo tenor 7 hari, 14 hari, dan 28 hari masing-masing sebesar 10 bps, di tengah adanya kenaikan ekspektasi inflasi dan harga properti serta perubahan suku bunga acuan AS.

Kebijakan normalisasi di AS merupakan sebuah implikasi dari adanya perbaikan ekonomi di negara tersebut. Hal tersebut di satu sisi memberikan sinyal yang baik mengingat AS adalah perekonomian terbesar di dunia, dan diharapkan akan ada spillover positif dari perbaikan ekonominya. Namun di sisi lain, normalisasi kebijakan di AS tersebut dapat memberi risiko keluarnya arus modal dari Indonesia, yang berpotensi dapat menekan harga asset, seperti surat berharga dan mata uang.

Perdagangan internasional Indonesia bulan Februari 2017

Selain kenaikan suku bunga the Fed, pekan lalu juga diatandai dengan rilis data perdagangan internasional Indonesia bulan Februari 2017. Aktivitas perdagangan selama bulan tersebut mengalami penurunan dengan ekspor maupun impor mengalami penurunan masing-masing sebesar 6,2% dan 6,0% dibanding bulan sebelumnya, tetapi bila dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu capaian ini masih mencatatkan pertumbuhan positif. Melambatnya kegiatan perdangan Indonesia pada bulan Februari tersebut dipengaruhi oleh salah satunya dari menurunnya aktivitas perdagangan dengan Tiongkok yang merupakan salah satu negara mitra dagang utama Indonesia. Liburan tahun baru imlek yang cukup panjang di Tiongkok berdampak pada menurunnya aktivitas di pelabuhan negara tersebut. Selain itu, penurunan ekspor ke India terutama pada komoditas batu bara juga turut menyumbang penurunan aktivitas perdagangan Indonesia pada bulan Februari. Walaupun demikian, secara keseluruhan, surplus neraca perdagangan Indonesia masih melanjutkan trennya. Hal ini tentunya memiliki dampak positif terhadap peningkatan cadangan devisa Indonesia.

Fundamental perekonomian Indonesia masih baik

Disamping peningkatan cadangan devisa dan penurunan utang luar negeri, serta berlanjutnya tren surplus neraca perdagangan Indonesia merupakan salah satu indikator yang menunjukan bahwa fundamental perekonomian Indonesia semakin membaik. Perkembangan positif berbagai indikator tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi gejolak yang terjadi pada tataran global dan domestik. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yang ditopang oleh kekuatan permintaan domestic, ditambah dengan stabilitas harga yang lebih baik dimana laju inflasi yang rendah menjadi modal penting bagi pemerintah.  Dari sisi moneter, kebijakan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuannya akan membuat Bank Indonesia memiliki ruang yang memadai untuk melakukan penyesuaian jika tekanan global terus meningkat. Kondisi fiskal pemerintah yang kredibel dengan disiplin fiskal yang terjaga akan menjadi bantalan yang baik di dalam mengatasi kejutan dari eksternal tersebut.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.



“Pasca kenaikan Fed fund rate, ketidakpastian pasar keuangan global mulai mereda yang direspon positif oleh para pelaku pasar keuangan”

Perekonomian negara maju

Bank sentral AS, the Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 0,75 – 1,0 persen, sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar sebelumnya. The Fed menegaskan pihaknya akan tetap menjalankan kebijakan moneter yang akomodatif guna mendorong penguatan data ketenagakerjaan dan inflasi. Sebelumnya, rilis data inflasi AS pada bulan Februari mencatatkan level tertingginya dalam lima tahun terakhir didorong oleh kenaikan harga bahan pangan dan biaya sewa, sementara penjualan ritel melambat yang dipengaruhi  oleh penurunan penjualan kendaraan.

Inflasi di kawasan Eropa pada bulan Februari 2017 mencapai angka tertinggi dalam empat tahun terakhir, yaitu sebesar 2 persen atau sesuai target yang ditetapkan bank sentral. Kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan pangan akibat cuaca dingin yang melanda kawasan Eropa Selatan. Sementara itu, neraca perdagangan kawasan Eropa pada bulan Januari masih mencatatkan defisit di tengah kenaikan pertumbuhan ekspor yang terjadi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan ekspor terutama didorong oleh kenaikan harga sektor energi.

Bank of England (BoE) menahan suku bunga acuannya pada level 0,25 persen setelah mempertimbangkan perlambatan pertumbuhan upah dan tingginya laju inflasi di negara tersebut. Namun, BoE memberikan sinyal terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang apabila laju inflasi semakin meningkat. Tingginya laju inflasi juga menghambat pertumbuhan upah dengan tingkat upah riil yang turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir meskipun tingkat pengangguran turun ke level 4,7 persen yang merupakan level terendah sejak 1975.

Bank sentral Jepang (BoJ) mempertahankan kebijakan moneternya dengan menjaga suku bunga acuannya tetap pada level -0,1 persen. Selain itu, BoJ juga mempertahankan batas atas yield obligasi Pemerintah tenor 10 tahun mendekati nol persen dan melanjutkan pembelian obligasi dengan total nilai sebesar 80 triliun yen hingga akhir tahun 2017. Data lainnya menunjukkan produksi industri Jepang pada bulan Januari mengalami kontraksi meskipun lebih redah dibanding perkiraan pasar.

Perekonomian negara berkembang

Rilis data dari Kantor Statistik Nasional Tiongkok menunjukkan pertumbuhan produksi industri dan investasi fixed-assetspada periode Januari – Februari 2017 mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal. Kenaikan produksi industri didorong oleh meningkatnya permintaan barang manufaktur, baik dari dalam maupun luar negeri.  Di sisi lain, penjualan ritel melambat dibanding bulan sebelumnya setelah Pemerintah Tiongkok mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan insentif pajak bagi penjualan mobil ukuran kecil.

Inflasi India pada bulan Februari tercatat lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya terutama didorong oleh kenaikan harga bahan pangan. Dengan hasil tersebut, para analis memperkirakan bank sentral India akan menaikkan suku bunga acuannya pada 6 April 2017 mendatang. Sebelumnya, bank sentral India memperkirakan laju inflasi akan berada pada rentang 4,0 – 4,5 persen di tahun 2017-2018. Dari sektor perdagangan, ekspor India pada bulan Februari mencatatkan pertumbuhan double digit didukung oleh kenaikan ekspor mesin dan tingginya permintaan dari luar negeri. Namun, kenaikan pertumbuhan impor yang lebih tinggi membuat defisit neraca perdagangan India semakin melebar.

Lembaga pemeringkat Moody’s merevisi outlook sovereign credit rating Brazil dari negative menjadi stable dengan peringkat Ba2. Penilaian Moody’s tersebut merefleksikan adanya perbaikan fundamental perekonomian Brazil setelah sebelumnya Pemerintah Brazil menyetujui batasan anggaran belanja Pemerintah dan reformasi lanjutan atas kebijakan ketenagakerjaan dan sistem pensiun di negara tersebut.

Perekonomian nasional

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 4,75 persen dengan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing sebesar 4,0 dan 5,50 persen. BI tetap mewaspadai sejumlah risiko yang bersumber dari global terkait kenaikan inflasi global, arah kebijakan ekonomi dan perdagangan AS, dampak lanjutan kenaikan Fed Fund Rate, risiko geopolitik di Eropa, serta risiko dari domestik berupa dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi.

Neraca Perdagangan Indonesia pada bulan Februari 2017 mencatatkan surplus sebesar USD1,32 miliar, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD1,43 miliar. Surplus kali ini terjadi di tengah meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas, sementara defisit neraca perdagangan migas mengalami kenaikan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memperbesar porsi kewajiban investasi berupa pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh Industri Keuangan Non Bank (IKNB) di tahun 2017. Peningkatan porsi investasi pada SBN Pemerintah ini tetap mengacu pada Peraturan OJK (POJK) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Investasi SBN bagi Lembaga Jasa Keuangan Non Bank. Hal ini perlu dilakukan oleh lembaga IKNB untuk ikut menjaga defisit Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Perkembangan komoditas global

Harga minyak mentah global pada pekan ini mengalami penguatan tipis secara mingguan di tengah kekhawatiran bahwa pemotongan produksi OPEC akan gagal untuk mengurangi kelebihan pasokan global. Sejalan dengan penguatan harga minyak mentah, harga batubara mengalami penguatan mingguan yang dipengaruhi oleh melemahnya dollar AS. Harga emas juga mengalami penguatan didorong oleh pernyataan Bank sentral AS yang mengisyaratkan bahwa pengetatan moneter akan dilakukan secara bertahap. Harga nikel tercatat mengalami penguatan mingguan yang dipengaruhi oleh isu penutupan operasi tambang di Filipina yang berpotensi menekan pasokan nikel global. Keputusan tersebut diperkirakan menekan volume ekspor bijih nikel global ke level 15 juta ton atau turun 50 persen dari volume ekspor pada tahun 2016. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami pelemahan terpicu oleh sentimen melemahnya harga minyak kedelai.

Perkembangan sektor keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan lalu sebagian besar menguat dipengaruhi oleh kenaikan Fed fund rate. Kenaikan kali ini menjadi sentimen positif bagi pasar karena selain rencana kenaikan yang telah diperkirakan sebelumnya, dengan kenaikan tersebut tingkat ketidakpastian di pasar keuangan global mulai berkurang. Sejalan dengan perkembangan indeks global, nilai tukar global juga ditutup sebagian besar menguat terhadap Dolar AS.

Dari pasar keuangan domestik, IHSG mencatatkan penguatan mingguan dan ditutup pada level 5.540,432 atau menguat 2,78 persen secara mingguan. Pada pekan ini, net buy oleh investor nonresiden tercatat sebesar Rp6,06 triliun sementara secara ytd investor nonresiden masih mencatatkan net sell sebesar Rp4,28 triliun.

Nilai tukar Rupiah mencatatkan penguatan mingguan dan ditutup pada level Rp 13.345 per dolar AS. Penguatan tersebut sejalan dengan penguatan mata uang global dan kawasan kecuali Real. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga di sepanjang pekan. Hal ini tercermin dari volatilitas spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang stabil.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmarkmengalami penurunan 16 s.d. 28 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia per tanggal 16 Maret 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp699,15 T (37,74%), atau secara nominal naik sebesar Rp2,58 T dibandingkan dengan pekan sebelumnya (09/03) yang sebesar Rp696,57 T (37,83%).

ISU UTAMA: Satu Ketidakpastian Global Mereda

  • Melalui pertemuan FOMC pada tanggal 15 Maret 2017, the Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75% - 1%.
  • Menyusul keputusan the Fed, Bank Indonesia, Bank Sentral Inggris (BoE) dan Bank Sentral Jepang (BoJ) mempertahankan suku bunga acuannya.
  • Perdagangan internasional Indonesia pada bulan Februari 2017 mengalami penurunan aktivitas dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
  • Melambatnya kegiatan perdagangan Indonesia pada bulan Februari tersebut dipengaruhi salah satunya oleh menurunya aktivitas perdagangan dengan Tiongkok.
  • Indonesia memiliki fundamental perekonomian yang cukup kuat dan sehat sebagai modal penting dalam menghadapi gejolak global.

Kenaikan suku bunga the Fed

Pada 15 Maret 2017, the Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75% - 1%. Ini melanjutkan langkah serupa yang diambil the Fed pada Desember 2016 dan Desember 2015 silam. Kenaikan suku bunga the Fed tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan fase pemulihan ekonomi AS yang terus berlanjut, ditandai oleh aktivitas ekonomi yang menguat serta pengangguran yang menurun.

Langkah normalisasi kebijakan moneter AS tersebut telah diantisipasi oleh pasar. Sebelumnya, the Fed mengindikasikan bahwa pada tahun 2017 akan terjadi kenaikan suku bunga acuan sebanyak 2 hingga 3 kali apabila data-data mendukung. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa berbagai indikator penting khususnya inflasi dan pasar tenaga kerja telah sesuai dengan ekspektasi the Fed, sehingga pengumuman kenaikan suku bunga the Fed tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan di pasar. Pasar saham di kawasan lainnya mampu tetap berada di zona hijau pasca pengumuman tersebut, dengan IHSG menjadi salah satu indeks saham yang mencatatkan peningkatan terbaik sebesar 1,58% dibanding penutupan sebelumnya, sementara Rupiah mengalami apresiasi sebesar 0,29%.

Respon kebijakan moneter global dan Indonesia

Langkah yang dilakukan oleh the Fed tersebut sedikit banyak mempengaruhi kebijakan moneter yang dilakukan oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia, Inggris, Jepang dan Tiongkok. Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo (7DRR) pada tingkat 4,75%.  BI melihat bahwa di lingkungan global masih terdapat beberapa potensi risiko yang perlu untuk diwaspadai, seperti kenaikan lanjutan suku bunga the Fed. Demikian halnya dengan BoE dan BoJ yang juga mempertahankan besaran suku bunga acuannya. Sementara itu, Bank Sentral Tiongkok (PBoC) menaikkan suku bunga reverse repo tenor 7 hari, 14 hari, dan 28 hari masing-masing sebesar 10 bps, di tengah adanya kenaikan ekspektasi inflasi dan harga properti serta perubahan suku bunga acuan AS.

Kebijakan normalisasi di AS merupakan sebuah implikasi dari adanya perbaikan ekonomi di negara tersebut. Hal tersebut di satu sisi memberikan sinyal yang baik mengingat AS adalah perekonomian terbesar di dunia, dan diharapkan akan ada spillover positif dari perbaikan ekonominya. Namun di sisi lain, normalisasi kebijakan di AS tersebut dapat memberi risiko keluarnya arus modal dari Indonesia, yang berpotensi dapat menekan harga asset, seperti surat berharga dan mata uang.

Perdagangan internasional Indonesia bulan Februari 2017

Selain kenaikan suku bunga the Fed, pekan lalu juga diatandai dengan rilis data perdagangan internasional Indonesia bulan Februari 2017. Aktivitas perdagangan selama bulan tersebut mengalami penurunan dengan ekspor maupun impor mengalami penurunan masing-masing sebesar 6,2% dan 6,0% dibanding bulan sebelumnya, tetapi bila dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu capaian ini masih mencatatkan pertumbuhan positif. Melambatnya kegiatan perdangan Indonesia pada bulan Februari tersebut dipengaruhi oleh salah satunya dari menurunnya aktivitas perdagangan dengan Tiongkok yang merupakan salah satu negara mitra dagang utama Indonesia. Liburan tahun baru imlek yang cukup panjang di Tiongkok berdampak pada menurunnya aktivitas di pelabuhan negara tersebut. Selain itu, penurunan ekspor ke India terutama pada komoditas batu bara juga turut menyumbang penurunan aktivitas perdagangan Indonesia pada bulan Februari. Walaupun demikian, secara keseluruhan, surplus neraca perdagangan Indonesia masih melanjutkan trennya. Hal ini tentunya memiliki dampak positif terhadap peningkatan cadangan devisa Indonesia.

Fundamental perekonomian Indonesia masih baik

Disamping peningkatan cadangan devisa dan penurunan utang luar negeri, serta berlanjutnya tren surplus neraca perdagangan Indonesia merupakan salah satu indikator yang menunjukan bahwa fundamental perekonomian Indonesia semakin membaik. Perkembangan positif berbagai indikator tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi gejolak yang terjadi pada tataran global dan domestik. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yang ditopang oleh kekuatan permintaan domestic, ditambah dengan stabilitas harga yang lebih baik dimana laju inflasi yang rendah menjadi modal penting bagi pemerintah.  Dari sisi moneter, kebijakan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuannya akan membuat Bank Indonesia memiliki ruang yang memadai untuk melakukan penyesuaian jika tekanan global terus meningkat. Kondisi fiskal pemerintah yang kredibel dengan disiplin fiskal yang terjaga akan menjadi bantalan yang baik di dalam mengatasi kejutan dari eksternal tersebut.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

Kami akan melakukan perbaikan sistem yang dimulai pada hari Rabu tanggal 22 Maret 2017 pukul 16.00 WIB sampai dengan hari Kamis tanggal 23 Maret 2017 pukul 16.00 WIB, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini (layanan aduan : ikp@fiskal.kemenkeu.go.id).   Kurs Pajak : KMK Nomor 12/KM.10/2017,   USD : 13.354,00    AUD : 10.244,88    GBP : 16.447,90    SGD : 9.511,25    JPY : 11.781,48    EUR : 14.313,72    CNY : 1.941,40