Daily Update : 23-02-2018 | Download File :

Berita Global

  • Bursa AS ditutup menguat pada perdagangan Kamis (22/2) didukung oleh kenaikan harga saham sektor industri dan energi. Indeks Dow Jones menguat 0,66 persen ke 24.962,48, dan indeks S&P 500 menguat 0,10 persen persen ke 2.703,96 (Reuters).
  • Cadangan minyak mentah AS untuk minggu kedua bulan Februari berkurang sebesar 1,616 juta barel, setelah pada minggu sebelumnya mengalami penambahan sebesar 1,841 juta barel. Menurut EIA, cadangan minyak saat ini lebih rendah dari jumlah rata-rata musiman. Penurunan jumlah cadangan minyak mentah ini membuat harga minyak mentah Brent menguat sebesar 1,48 persen menjadi 66,39 dan harga minyak mentah WTI menguat sebesar 1,76 persen menjadi 62,77 pada perdagangan Kamis (22/2) (Bloomberg).
  • GDP Inggris untuk Q4-2017 direvisi tumbuh sebesar 0,4 persen qoq atau 1,4 persen yoy. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 0,5 persen qoq atau 1,5 persen yoy. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh produksi negara tersebut yang lebih rendah dari perkiraan. Selain itu, kenaikan harga pada sebagian besar barang menyebabkan daya beli konsumen menurun (The Guardian).

Berita Domestik

  • Pemerintah menyatakan insentif fiskal bagi perusahaan modal ventura dalam menyalurkan pembiayaan ke perusahaan rintisan (startup) dan Usaha Kecil Menengah (UKM) tidak akan tergabung dalam aturan perpajakan bagi perdagangan elektronik (e-commerce). Pemberian insentif bagi perusahaan modal ventura bertujuan untuk menumbuhkan sektor ekonomi digital. Seperti yang diketahui, Pemerintah berencana memberikan insentif fiskal kepada pelaku usaha modal ventura, di mana pendapatan yang diterima perusahaan modal ventura dari penyaluran pembiayaan ke startup akan dibebaskan sebagai objek Pajak Penghasilan (PPh). Perusahaan modal ventura yang bisa mendapatkan fasilitas itu tentu harus terdaftar di dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tidak hanya itu, Pemerintah juga  berencana akan merevisi ketentuan mengenai ambang batas UKM yang bisa menjadi mitra pasangan perusahaan modal ventura (CNN Indonesia).
  • Pemerintah akan melelang lima seri Surat Utang Negara atau SUN pada tanggal 27 Februari 2018 dengan jumlah indikatif sebesar Rp17 triliun dan dengan target sebesar Rp25,5 triliun. Lima seri SUN tersebut adalah seri SPN031800528 (penerbitan baru), seri SPN12190214 (reopening), seri FR0063 (reopening), seri FR0065 (reopening), seri FR0075 (reopening). Penjualan SUN tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka (open auction), menggunakan metode harga beragam (multiple price). Sebelumnya, pemerintah  telah melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara pada tanggal 20 Februari 2018 untuk seri SPNS07082018 (reopening), PBS016 (reopening), PBS002 (reopening), PBS017 (reopening), PBS012 (reopening) dan PBS004 (reopening) dengan total penawaran yang masuk sebesar Rp13 triliun (DJPPR).

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 12-02-2018 s.d 18-02-2018 | Download File :

Highlight Minggu Ini

  • Wall Street kembali menguat setelah mengalami volatilitas sepanjang pekan sebelumnya.
  • Indeks dolar AS berada pada level 88,68 pada akhir pekan atau melemah 1,85 persen dalam sepekan.
  • IHSG tercatat menguat 1,32 persen dan ditutup pada level 6.591,58.
  • Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,52 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.559 per USD.
  • Pada Q4-2017, Indonesia mengalami surplus neraca pembayaran sebesar US$1,0 miliar.


I. Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street kembali menguat setelah mengalami volatilitas sepanjang pekan sebelumnya. Secara mingguan, Dow Jones tercatat menguat sebesar 4,25 persen secara mingguan sementara S&P 500 menguat 4,30 persen. Beberapa sentimen positif yang mendorong penguatan Wall Street antara lain rilis data inflasi inti AS bulan Januari yang sebesar 0,3 persen mom atau 1,8 persen yoy dan persetujuan Kongres atas anggaran federal yang naik sebesar US$300 miliar. Selain itu, investor sepertinya mengabaikan penjualan ritel AS bulan Januari yang tercatat turun sebesar 0,3 persen yang merupakan penurunan terbesar dalam satu tahun terakhir. Dari kawasan Eropa, indeks utama Eropa seperti indeks FTSE 100 (Inggris) mencatatkan penguatan secara mingguan seiring dengan focus investor yang kembali beralih ke kinerja pendapatan perusahaan, terutama perusahaan-perusahaan besar seperti Airbus, Ipsen, Aegon dan Schneider Electric. Sementara itu dari kawasan Asia, reli bursa saham di kawasan Asia seperti Hangseng, Shanghai, Nikkei dan KOSPI masih berlanjut seriing proses pemulihan bursa-bursa Asia dari dampak volatilitas bursa AS yang terjadi pekan lalu.

Pasar Uang. Indeks dolar AS berada pada level 88,68 pada akhir pekan atau melemah 1,85 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia seiring pernyataan ketua The Fed Jerome Powell bahwa bank sentral AS akan tetap mewaspadai risiko-risiko terhadap stabilitas keuangan setelah terjadi gejolak pasar baru-baru ini. Selain itu, Powell juga menegaskan bahwa The Fed akan terus secara bertahap menaikkan suku bunga dan mengembalikan neraca keuangannya dengan latar belakang pemulihan
global yang kuat. Pernyataan tersebut diperkirakan cukup membantu untuk menenangkan investor yang gugup dan membuat dolar AS kurang menarik.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun melanjutkan tren peningkatan dan menyentuh level 2,9095 persen pada hari Kamis (15/02) sebelum ditutup pada 2,8749 persen pada Jumat (16/2). Beberapa analis memperkirakan yield treasury 10 tahun masih akan terus meningkat dan diperkirakan mencapai 3,5 persen dalam 6 bulan ke depan. Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga empat kali tahun ini, berubah dari consensus sebelumnya yang memperkirakan tiga kenaikan. Selain itu, yield juga akan meningkat karena the Fed memangkas kepemilikan treasury yang dibeli melalui pelonggaran kuantitatif.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah dunia mengalami penguatan mingguan seiring dengan rilis perkiraan OPEC terhadap tingginya pertumbuhan permintaan minyak dunia pada dalam tahun 2018 seiring dengan kondisi perekonomian global yang terus membaik. Selain itu, OPEC juga menyatakan bahwa tingkat kepatuhan anggotanya cukup tinggi dalam pembatasan produksi. Hal ini menyebabkan pasokan minyak negara-negara OPEC menjadi terbatas sehingga mampu menahan tingginya produksi minyak mentah AS. Pada komoditas batubara, sentimen kenaikan harga minyak turut mendorong kenaikan harga batubara. Selain itu, tren positif harga batubara juga didorong oleh pengetatan pengawasan tambang batubara ilegal yang dilakukan oleh Pemerintah Tiongkok yang berdampak pada kenaikan impor batubara Tiongkok. Sementara itu, harga CPO mengalami penguatan secara mingguan seiring dengan laporan stok CPO Malaysia bulan Januari yang turun sebesar 5,72 persen menjadi 1,57 juta ton dibandingkan Desember 2017, sementara produksi dilaporkan turun 13,49 persen menjadi 1,59 juta ton pada Januari lalu dari bulan sebelumnya sebesar 1,83 juta ton.

II. Pasar Keuangan Domestik.

  • Pada penutupan pekan, IHSG menguat 1,32 persen secara mingguan dan berada di level 6.591,58 dengan posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak mixed antara -6 hingga 10 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang membukukan penurunan mingguan, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,52 persen ke level Rp13.559 per USD.

IHSG tercatat menguat 1,32 persen dan ditutup pada level 6.591,58 setelah diperdagangkan di kisaran 6.498,69 – 6.624,63 pada pekan ini. Investor nonresiden membukukan jual bersih sebesar Rp1,58 triliun pada pekan ini dan tercatat jual bersih Rp6,89 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp7,9 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp9,5 triliun.

Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,52 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.559 per USD dan secara ytd nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,07 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang stabil dengan tren spot yang cenderung menguat. Pekan ini Rupiah diperdagangkan di kisaran 13.545 – 13.663 per Dolar AS.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak mixed antara -6 s.d. 10 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 14 Februari 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp851,08 T (40,40 persen terhadap total outstanding), turun Rp10,96 T atau -1,27 secara mingguan.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan Amerika, inflasi inti AS secara tahuan tercatat sebesar 1,8 persen, sama dengan bulan sebelumnya, sementara penjualan ritel terkontraksi sebesar 0,3 persen mom atau merupakan yang terbesar selama sebelas bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh penurunan pembelian motor dan bahan bangunan.

Dari kawasan Eropa, inflasi Inggris secara tahunan tercatat tetap pada level 3,0 persen, tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pandangan Bank of England mengenai suku bunga acaun pada bulan Februari. Besaran inflasi tersebut didorong oleh harga makanan dan energi. Sementara itu, Penjualan ritel Inggris tumbuh sebesar 0,1 persen setelah pada bulan sebelumnya terkontraksi sebesar 1,4 persen. Kondisi ini dipengarui oleh pertumbuhan penjualan alat olahraga yang melebihi bulan sebelumnya.

PDB Jerman yang dirilis oleh Destatis untuk Q4-2017 tumbuh sebesar 0,6 persen secara qoq. Kondisi ini didorong oleh permintaan dari luar negeri serta pengeluaran pemerintah yang juga meningkat. Sementara itu, PDB Eropa untuk Q4-2017 tumbuh sebesar 0,6 persen qoq atau 2,7 persen yoy sama dengan kuartal sebelumnya yang juga tumbuh sebesar 0,6 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh investasi pada sektor bisnis yang meningkat.

Dari kawasan Asia, PDB Jepang tercatat sebesar 0,5 persen yoy pada Q4- 2017, didorong oleh pengeluaran konsumsi serta belanja modal. Inflasi sektor ritel India turun menjadi 5,07 persen pada bulan Januari 2018 dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 5,21 persen. Hal tersebut menunjukkan kinerja ekonomi negara tersebut yang stabil. Penjualan ritel di Singapura naik 4,6 persen yoy pada bulan Desember 2017, setelah 5,0 persen kenaikan di bulan sebelumnya. Secara bulanan, penjualan ritel turun 0,2 persen, dibandingkan kenaikan 4,9 persen pada bulan November 2017 dan merupakan penurunan pertama sejak tiga bulan terakhir.

IV. Perekonomian Domestik

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 14-15 Februari 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap sebesar 4,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,50 persen dan Lending Facility tetap sebesar 5,00 persen, yang berlaku efektif sejak 19 Februari 2018. Menurut Bank Indonesia, Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik.

Bank Indonesia memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh sebelumnya telah memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik. Pemerintah telah menyetujui plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp116,4T dari total plafon sebesar Rp120,0T yang direncanakan. Untuk mendukung penyaluran KUR, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan KUR. Suku bunga KUR untuk tahun 2018 ditetapkan sebesar 7 persen dengan fokus pada penguatan usaha produktif dan peningkatan kapasitas daya saing UMKM.

Kementerian ESDM memangkas regulasi yang mengatur investasi di sektor energi dari 51 aturan menjadi 29 aturan. Kebijakan ini ditempuh untuk mendorong peningkatan investasi dengan target sebesar US$50 miliar pada tahun 2018, atau naik dua kali lipat dari tahun 2017 yang sebesar US$26 miliar.

OJK berencana menyusun aturan terkait penjaminan asuransi bagi pinjaman dana dari lembaga penyedia jasa keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) berskema pinjam-meminjam (peer to peer lending). Hal ini ditujukan sebagai bentuk jaminan dan perlindungan bagi nasabah. Sementara itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengaku menyambut baik jaminan ke pinjaman fintech ini, karena dianggap dapat memberikan manfaat bagi industri untuk meningkatkan pertumbuhan premi para pelaku.

Direktorat Jenderal Pajak menargetkan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak 2018 sebanyak 17,5 juta, atau naik dari target tahun lalu sebanyak 16,6 juta Wajip Pajak (WP) lapor SPT. Pada tahun 2016, sebanyak 12,5 juta WP menyampaikan SPT. Untuk mengejar target tersebut, DJP akan lebih aktif mengumpulkan SPT dengan strategi melakukan jemput bola, misalnya dengan lebih banyak mendatangi sejumlah perusahaan yang memiliki banyak karyawan dan membuka pos pelayanan SPT di sejumlah tempat keramaian seperti mal dengan membuka pojok pajak yang melayani pembuatan EFIN dan e-filing.

Perkembangan Neraca Pembayaran dan Neraca Perdagangan Indonesia

  • Pada Q4-2017, Indonesia mengalami surplus neraca pembayaran sebesar US$1,0 miliar.
  • Di bulan Januari 2018 neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit sebesar US$670 juta.
  • Ekspor nonmigas Januari 2018 tercatat sebesar US$13,17 miliar atau tumbuh sebesar 8,57 persen yoy.
  • Impor nonmigas Januari 2018 tercatat sebesar US$ 12,99 miliar atau tumbuh sebesar 28,08 persen yoy

Perkembangan NPI 2017 Pada Q4-2017, Indonesia mengalami surplus neraca pembayaran sebesar US$1,0 miliar, sementara defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali. Secara keseluruhan, neraca pembayaran Indonesia tahun 2017 mencatatkan surplus US$ 11.6 miliar, dengan surplus neraca transaksi modal dan finansial sebesar US$ 29.8 miliar yang didorong oleh peningkatan inflow investasi langsung serta investasi portfolio. Sementara itu, jumlah defisit transaksi berjalan tercatat US$17.3 miliar. Angka tersebut lebih besar dari tahun 2016 yang tercatat US$16.9 miliar. Namun, bila dibandingkan dengan rasio PDB (debt to GDP), tahun 2017 mencatatkan angka yang lebih rendah dari tahun 2016, yakni -1,70 persen (tahun 2016 sebesar -1,82 persen). Perbaikan defisit transaksi berjalan tersebut didukung oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas. Kinerja positif neraca pembayaran di tahun 2017 mendorong kenaikan cadangan devisa pada tingkat US$ 130,2 miliar di tahun 2017. Di awal 2018, tren positif ini berlanjut dimana cadangan devisa meningkat menjadi US$131,98 miliar, yang cukup untuk 8,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Kinerja Neraca Perdagangan Januari 2018 Di bulan Januari 2018 neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit sebesar US$670 juta. Defisit yang terjadi di bulan Januari 2018 dipicu adanya defisit pada sektor migas, meskipun sektor nonmigas mengalami surplus. Nilai ekspor tercatat mencapai US$14,46 miliar, turun 2,81 persen dari realisasi ekspor Desember, namun tumbuh 7,86 persen jika dibandingkan dengan Januari 2017. Sementara itu, nilai impor tercatat sebesar US$ 15,13 miliar atau naik 0,26 persen mom dan 26,44 yoy.

Ekspor nonmigas tercatat sebesar US$13,17 miliar atau turun sebesar sebesar 1,45 persen mom namun tumbuh sebesar 8,57 persen yoy. Komoditas perhiasan/permata mencatatkan peningkatan ekspor, sementara komoditas yang mengalami penurunan ekspor antara lain bijih, kerak dan abu logam. Sementara itu, dilihat dari mitra, negara tujuan ekspor tertinggi adalah Tiongkok (US$ 1,92 miliar), Amerika Serikat (US$ 1,54 miliar) dan Jepang (US$ 1,39 milar).

Di sisi lain, impor nonmigas Januari 2018 tercatat sebesar US$ 12,99 miliar, tumbuh sebesar 3,65 persen mom atau 28,08 persen yoy. Sementara itu, impor migas tercatat sebesar US$ 2,14 miliar atau turun sebesar 16,31 persen mom namun meningkat 17,35 persen secara yoy. Peningkatan terbesar pada impor nonmigas yakni kendaraan dan bagiannya yang tumbuh 31,81 persen yoy. Barang impor nonmigas terutama dipasok oleh Tiongkok (28,94 persen), disusul Jepang (10,52 persen) dan Singapura (6,91 persen). Sementara dari jenis produk, impor migas tertinggi juga masih ditopang oleh produk hasil minyak sebesar US$ 1,32 miliar dan minyak mentah US$ 573,6 juta. Tingginya impor hasil minyak dibanding angka ekspor menyebabkan defisit perdagangan hasil minyak relatif drastis hingga US$ 1,23 miliar.

Berdasarkan golongan penggunaan, secara bulanan impor barang konsumsi mengalami penurunan 1,46 persen, bahan baku atau bahan penolong naik 2,34 persen, dan bahan modal turun 7,39 persen. Apabila dilihat secara tahunan, terjadi kenaikan signifikan impor barang konsumsi 32,98 persen, bahan baku/penolong 24,76 persen, dan barang modal 30,90 persen.

Defisit neraca perdagangan tetap menjadi suatu hal yang patut diwaspadai di 2018, terutama korelasinya dengan defisit APBN. Pertumbuhan impor bahan baku dan bahan modal yang signifikan memberikan peluang naiknya aktivitas industri tradable domestik sehingga kesembangan eksternal tetap terjaga.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Highlight Minggu Ini

  • Wall Street kembali menguat setelah mengalami volatilitas sepanjang pekan sebelumnya.
  • Indeks dolar AS berada pada level 88,68 pada akhir pekan atau melemah 1,85 persen dalam sepekan.
  • IHSG tercatat menguat 1,32 persen dan ditutup pada level 6.591,58.
  • Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,52 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.559 per USD.
  • Pada Q4-2017, Indonesia mengalami surplus neraca pembayaran sebesar US$1,0 miliar.


I. Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street kembali menguat setelah mengalami volatilitas sepanjang pekan sebelumnya. Secara mingguan, Dow Jones tercatat menguat sebesar 4,25 persen secara mingguan sementara S&P 500 menguat 4,30 persen. Beberapa sentimen positif yang mendorong penguatan Wall Street antara lain rilis data inflasi inti AS bulan Januari yang sebesar 0,3 persen mom atau 1,8 persen yoy dan persetujuan Kongres atas anggaran federal yang naik sebesar US$300 miliar. Selain itu, investor sepertinya mengabaikan penjualan ritel AS bulan Januari yang tercatat turun sebesar 0,3 persen yang merupakan penurunan terbesar dalam satu tahun terakhir. Dari kawasan Eropa, indeks utama Eropa seperti indeks FTSE 100 (Inggris) mencatatkan penguatan secara mingguan seiring dengan focus investor yang kembali beralih ke kinerja pendapatan perusahaan, terutama perusahaan-perusahaan besar seperti Airbus, Ipsen, Aegon dan Schneider Electric. Sementara itu dari kawasan Asia, reli bursa saham di kawasan Asia seperti Hangseng, Shanghai, Nikkei dan KOSPI masih berlanjut seriing proses pemulihan bursa-bursa Asia dari dampak volatilitas bursa AS yang terjadi pekan lalu.

Pasar Uang. Indeks dolar AS berada pada level 88,68 pada akhir pekan atau melemah 1,85 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia seiring pernyataan ketua The Fed Jerome Powell bahwa bank sentral AS akan tetap mewaspadai risiko-risiko terhadap stabilitas keuangan setelah terjadi gejolak pasar baru-baru ini. Selain itu, Powell juga menegaskan bahwa The Fed akan terus secara bertahap menaikkan suku bunga dan mengembalikan neraca keuangannya dengan latar belakang pemulihan
global yang kuat. Pernyataan tersebut diperkirakan cukup membantu untuk menenangkan investor yang gugup dan membuat dolar AS kurang menarik.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun melanjutkan tren peningkatan dan menyentuh level 2,9095 persen pada hari Kamis (15/02) sebelum ditutup pada 2,8749 persen pada Jumat (16/2). Beberapa analis memperkirakan yield treasury 10 tahun masih akan terus meningkat dan diperkirakan mencapai 3,5 persen dalam 6 bulan ke depan. Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga empat kali tahun ini, berubah dari consensus sebelumnya yang memperkirakan tiga kenaikan. Selain itu, yield juga akan meningkat karena the Fed memangkas kepemilikan treasury yang dibeli melalui pelonggaran kuantitatif.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah dunia mengalami penguatan mingguan seiring dengan rilis perkiraan OPEC terhadap tingginya pertumbuhan permintaan minyak dunia pada dalam tahun 2018 seiring dengan kondisi perekonomian global yang terus membaik. Selain itu, OPEC juga menyatakan bahwa tingkat kepatuhan anggotanya cukup tinggi dalam pembatasan produksi. Hal ini menyebabkan pasokan minyak negara-negara OPEC menjadi terbatas sehingga mampu menahan tingginya produksi minyak mentah AS. Pada komoditas batubara, sentimen kenaikan harga minyak turut mendorong kenaikan harga batubara. Selain itu, tren positif harga batubara juga didorong oleh pengetatan pengawasan tambang batubara ilegal yang dilakukan oleh Pemerintah Tiongkok yang berdampak pada kenaikan impor batubara Tiongkok. Sementara itu, harga CPO mengalami penguatan secara mingguan seiring dengan laporan stok CPO Malaysia bulan Januari yang turun sebesar 5,72 persen menjadi 1,57 juta ton dibandingkan Desember 2017, sementara produksi dilaporkan turun 13,49 persen menjadi 1,59 juta ton pada Januari lalu dari bulan sebelumnya sebesar 1,83 juta ton.

II. Pasar Keuangan Domestik.

  • Pada penutupan pekan, IHSG menguat 1,32 persen secara mingguan dan berada di level 6.591,58 dengan posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak mixed antara -6 hingga 10 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang membukukan penurunan mingguan, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,52 persen ke level Rp13.559 per USD.

IHSG tercatat menguat 1,32 persen dan ditutup pada level 6.591,58 setelah diperdagangkan di kisaran 6.498,69 – 6.624,63 pada pekan ini. Investor nonresiden membukukan jual bersih sebesar Rp1,58 triliun pada pekan ini dan tercatat jual bersih Rp6,89 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp7,9 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp9,5 triliun.

Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,52 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.559 per USD dan secara ytd nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,07 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang stabil dengan tren spot yang cenderung menguat. Pekan ini Rupiah diperdagangkan di kisaran 13.545 – 13.663 per Dolar AS.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak mixed antara -6 s.d. 10 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 14 Februari 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp851,08 T (40,40 persen terhadap total outstanding), turun Rp10,96 T atau -1,27 secara mingguan.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan Amerika, inflasi inti AS secara tahuan tercatat sebesar 1,8 persen, sama dengan bulan sebelumnya, sementara penjualan ritel terkontraksi sebesar 0,3 persen mom atau merupakan yang terbesar selama sebelas bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh penurunan pembelian motor dan bahan bangunan.

Dari kawasan Eropa, inflasi Inggris secara tahunan tercatat tetap pada level 3,0 persen, tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pandangan Bank of England mengenai suku bunga acaun pada bulan Februari. Besaran inflasi tersebut didorong oleh harga makanan dan energi. Sementara itu, Penjualan ritel Inggris tumbuh sebesar 0,1 persen setelah pada bulan sebelumnya terkontraksi sebesar 1,4 persen. Kondisi ini dipengarui oleh pertumbuhan penjualan alat olahraga yang melebihi bulan sebelumnya.

PDB Jerman yang dirilis oleh Destatis untuk Q4-2017 tumbuh sebesar 0,6 persen secara qoq. Kondisi ini didorong oleh permintaan dari luar negeri serta pengeluaran pemerintah yang juga meningkat. Sementara itu, PDB Eropa untuk Q4-2017 tumbuh sebesar 0,6 persen qoq atau 2,7 persen yoy sama dengan kuartal sebelumnya yang juga tumbuh sebesar 0,6 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh investasi pada sektor bisnis yang meningkat.

Dari kawasan Asia, PDB Jepang tercatat sebesar 0,5 persen yoy pada Q4- 2017, didorong oleh pengeluaran konsumsi serta belanja modal. Inflasi sektor ritel India turun menjadi 5,07 persen pada bulan Januari 2018 dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 5,21 persen. Hal tersebut menunjukkan kinerja ekonomi negara tersebut yang stabil. Penjualan ritel di Singapura naik 4,6 persen yoy pada bulan Desember 2017, setelah 5,0 persen kenaikan di bulan sebelumnya. Secara bulanan, penjualan ritel turun 0,2 persen, dibandingkan kenaikan 4,9 persen pada bulan November 2017 dan merupakan penurunan pertama sejak tiga bulan terakhir.

IV. Perekonomian Domestik

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 14-15 Februari 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap sebesar 4,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,50 persen dan Lending Facility tetap sebesar 5,00 persen, yang berlaku efektif sejak 19 Februari 2018. Menurut Bank Indonesia, Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik.

Bank Indonesia memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh sebelumnya telah memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik. Pemerintah telah menyetujui plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp116,4T dari total plafon sebesar Rp120,0T yang direncanakan. Untuk mendukung penyaluran KUR, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan KUR. Suku bunga KUR untuk tahun 2018 ditetapkan sebesar 7 persen dengan fokus pada penguatan usaha produktif dan peningkatan kapasitas daya saing UMKM.

Kementerian ESDM memangkas regulasi yang mengatur investasi di sektor energi dari 51 aturan menjadi 29 aturan. Kebijakan ini ditempuh untuk mendorong peningkatan investasi dengan target sebesar US$50 miliar pada tahun 2018, atau naik dua kali lipat dari tahun 2017 yang sebesar US$26 miliar.

OJK berencana menyusun aturan terkait penjaminan asuransi bagi pinjaman dana dari lembaga penyedia jasa keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) berskema pinjam-meminjam (peer to peer lending). Hal ini ditujukan sebagai bentuk jaminan dan perlindungan bagi nasabah. Sementara itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengaku menyambut baik jaminan ke pinjaman fintech ini, karena dianggap dapat memberikan manfaat bagi industri untuk meningkatkan pertumbuhan premi para pelaku.

Direktorat Jenderal Pajak menargetkan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak 2018 sebanyak 17,5 juta, atau naik dari target tahun lalu sebanyak 16,6 juta Wajip Pajak (WP) lapor SPT. Pada tahun 2016, sebanyak 12,5 juta WP menyampaikan SPT. Untuk mengejar target tersebut, DJP akan lebih aktif mengumpulkan SPT dengan strategi melakukan jemput bola, misalnya dengan lebih banyak mendatangi sejumlah perusahaan yang memiliki banyak karyawan dan membuka pos pelayanan SPT di sejumlah tempat keramaian seperti mal dengan membuka pojok pajak yang melayani pembuatan EFIN dan e-filing.

Perkembangan Neraca Pembayaran dan Neraca Perdagangan Indonesia

  • Pada Q4-2017, Indonesia mengalami surplus neraca pembayaran sebesar US$1,0 miliar.
  • Di bulan Januari 2018 neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit sebesar US$670 juta.
  • Ekspor nonmigas Januari 2018 tercatat sebesar US$13,17 miliar atau tumbuh sebesar 8,57 persen yoy.
  • Impor nonmigas Januari 2018 tercatat sebesar US$ 12,99 miliar atau tumbuh sebesar 28,08 persen yoy

Perkembangan NPI 2017 Pada Q4-2017, Indonesia mengalami surplus neraca pembayaran sebesar US$1,0 miliar, sementara defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali. Secara keseluruhan, neraca pembayaran Indonesia tahun 2017 mencatatkan surplus US$ 11.6 miliar, dengan surplus neraca transaksi modal dan finansial sebesar US$ 29.8 miliar yang didorong oleh peningkatan inflow investasi langsung serta investasi portfolio. Sementara itu, jumlah defisit transaksi berjalan tercatat US$17.3 miliar. Angka tersebut lebih besar dari tahun 2016 yang tercatat US$16.9 miliar. Namun, bila dibandingkan dengan rasio PDB (debt to GDP), tahun 2017 mencatatkan angka yang lebih rendah dari tahun 2016, yakni -1,70 persen (tahun 2016 sebesar -1,82 persen). Perbaikan defisit transaksi berjalan tersebut didukung oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas. Kinerja positif neraca pembayaran di tahun 2017 mendorong kenaikan cadangan devisa pada tingkat US$ 130,2 miliar di tahun 2017. Di awal 2018, tren positif ini berlanjut dimana cadangan devisa meningkat menjadi US$131,98 miliar, yang cukup untuk 8,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Kinerja Neraca Perdagangan Januari 2018 Di bulan Januari 2018 neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit sebesar US$670 juta. Defisit yang terjadi di bulan Januari 2018 dipicu adanya defisit pada sektor migas, meskipun sektor nonmigas mengalami surplus. Nilai ekspor tercatat mencapai US$14,46 miliar, turun 2,81 persen dari realisasi ekspor Desember, namun tumbuh 7,86 persen jika dibandingkan dengan Januari 2017. Sementara itu, nilai impor tercatat sebesar US$ 15,13 miliar atau naik 0,26 persen mom dan 26,44 yoy.

Ekspor nonmigas tercatat sebesar US$13,17 miliar atau turun sebesar sebesar 1,45 persen mom namun tumbuh sebesar 8,57 persen yoy. Komoditas perhiasan/permata mencatatkan peningkatan ekspor, sementara komoditas yang mengalami penurunan ekspor antara lain bijih, kerak dan abu logam. Sementara itu, dilihat dari mitra, negara tujuan ekspor tertinggi adalah Tiongkok (US$ 1,92 miliar), Amerika Serikat (US$ 1,54 miliar) dan Jepang (US$ 1,39 milar).

Di sisi lain, impor nonmigas Januari 2018 tercatat sebesar US$ 12,99 miliar, tumbuh sebesar 3,65 persen mom atau 28,08 persen yoy. Sementara itu, impor migas tercatat sebesar US$ 2,14 miliar atau turun sebesar 16,31 persen mom namun meningkat 17,35 persen secara yoy. Peningkatan terbesar pada impor nonmigas yakni kendaraan dan bagiannya yang tumbuh 31,81 persen yoy. Barang impor nonmigas terutama dipasok oleh Tiongkok (28,94 persen), disusul Jepang (10,52 persen) dan Singapura (6,91 persen). Sementara dari jenis produk, impor migas tertinggi juga masih ditopang oleh produk hasil minyak sebesar US$ 1,32 miliar dan minyak mentah US$ 573,6 juta. Tingginya impor hasil minyak dibanding angka ekspor menyebabkan defisit perdagangan hasil minyak relatif drastis hingga US$ 1,23 miliar.

Berdasarkan golongan penggunaan, secara bulanan impor barang konsumsi mengalami penurunan 1,46 persen, bahan baku atau bahan penolong naik 2,34 persen, dan bahan modal turun 7,39 persen. Apabila dilihat secara tahunan, terjadi kenaikan signifikan impor barang konsumsi 32,98 persen, bahan baku/penolong 24,76 persen, dan barang modal 30,90 persen.

Defisit neraca perdagangan tetap menjadi suatu hal yang patut diwaspadai di 2018, terutama korelasinya dengan defisit APBN. Pertumbuhan impor bahan baku dan bahan modal yang signifikan memberikan peluang naiknya aktivitas industri tradable domestik sehingga kesembangan eksternal tetap terjaga.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 9/KM.10/2018,   USD : 13,581.00    AUD : 10,746.49    GBP : 19,030.78    SGD : 10,338.77    JPY : 12,732.80    EUR : 16,879.85    CNY : 2,153.80