Daily Update : 28-04-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa saham AS ditutup menguat menjelang rilis laporan pendapatan dari beberapa emiten saham sektor teknologi. Indeks Dow Jones dan S&P 500 masing-masing ditutup menguat sebesar 0,03 persen dan 0,06 persen. (Reuters)
  • Initial Jobless Claims AS untuk minggu keempat bulan April mengalami kenaikan menjadi 257 ribu dari minggu sebelumnya yang sebesar 243 ribu. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 245 ribu. (WEC)
  • Pertumbuhan Pending Home Sales AS mengalami perlambatan dari 5,5 persen pada bulan Februari 2017 menjadi -0,8 persen pada bulan Maret 2017. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya jumlah unit properti yang akan dijual sehingga membuat harga properti melambung. (Reuters)
  • European Central Bank (ECB) memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya pada level 0,00 persen di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global serta tingkat inflasi Eropa yang masih rendah. (CNBC)
  • Inflasi inti Jepang tetap berada pada angka 0,2 persen yoy atau tidak berubah dari bulan sebelumnya. Angka tersebut masih jauh di bawah target inflasi sebesar 2 persen. Hal ini mengindikasikan masih lemahnya daya beli masyarakat Jepang. (Bloomberg)

BERITA DOMESTIK

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) sebagai sarana pertukaran informasi pembiayaan atau perkreditan antarlembaga di bidang keuangan dan merupakan perluasan dari Sistem Informasi Debitur (SID). Dengan adanya SLIK diharapkan dapat membantu meningkatkan jumlah penyediaan dana dan mampu mengendalikan pertumbuhan kredit bermasalah atau NonPerforming Loan (NPL). SLIK akan menerima pelaporan data debitur, fasilitas penyediaan dana, data agunan, dan data terkait lainnya dari berbagai jenis lembaga keuangan serta memberikan layanan informasi debitur yang dibutuhkan oleh lembaga keuangan, masyarakat, Lembaga Pengelolaan Informasi Perkreditan (LPIP), dan pihak-pihak lain. (Investor Daily)
  • Pemerintah merevisi ketentuan besaran bunga atas penempatan uang negara pada bank umum dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 53/PMK.05/2017 mengenai Perubahan Kedua atas PMK Nomor 3/PMK.05/2014 tentang Penempatan Uang Negara pada Bank Umum yang mulai berlaku tanggal 18 April 2017. Dalam aturan baru tersebut pemerintah menaikkan batasan bunga minimal yang diterima atas simpanan negara dalam nominal rupiah yang ditempatkan pada Bank Umum Mitra Penempatan Uang Negara (BUMPUN) dari 70 persen dari suku bunga kebijakan BI (Bank Indonesia) menjadi 87 persen dari suku bunga kebijakan BI serta menghapus ketentuan batasan bunga maksimal yang diterima negara atas simpanan dalam rupiah di bank umum dari sebelumnya sebesar suku bunga kebijakan BI.  (CNNIndonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 17-04-2017 s.d 23-04-2017 | Download File :

 

 

“Perkembangan data ekonomi global masih melanjutkan tren positif”

Perekonomian negara maju

Data perumahan AS pada bulan Maret menunjukkan hasil yang bervariasi. Jumlah rumah baru yang dibangun (housing starts) mengalami kontraksi didorong oleh penurunan pembangunan rumah kelompok single-family  di pantai barat AS akibat cuaca buruk. Di sisi lain, izin pembangunan rumah mencatatkan kenaikan didorong oleh meningkatnya angka pengurusan izin bangunan untuk kelompok multiple-residency. Sementara itu, produksi industri mengalami rebound di bulan Maret didukung pertumbuhan produksi barang konsumsi dan utilitas di tengah pelemahan produksi barang konstruksi dan manufaktur.

Inflasi kawasan Eropa pada bulan Maret tercatat tumbuh sesuai dengan range target bank sentral yaitu sebesar 1,5 persen yoy setelah di bulan sebelumnya mencatatkan inflasi 2,0 persen. Kenaikan harga bahan bakar kendaraan, minyak mentah, dan sayur-mayur menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi kawasan. Dari sisi neraca perdagangan, aktivitas ekspor impor di kawasan Eropa pada bulan Februari mencatatkan surplus didorong oleh penurunan defisit perdagangan Perancis dan kenaikan surplus perdagangan Jerman. Surplus tersebut juga didukung oleh kenaikan pesanan ekspor baru  ke level tertingginya dalam enam tahun terakhir.

Penjualan ritel UK pada bulan Maret mencatatkan penurunan terbesar dalam tujuh tahun terakhir. Penurunan tersebut didorong oleh kenaikan harga pada semua jenis barang terutama bahan bakar. Analis berpendapat bahwa penurunan tersebut masih akan berlanjut seiring perlambatan pertumbuhan tingkat upah dan kenaikan biaya impor akibat melemahnya nilai tukar poundsterling yang  mendorong kenaikan harga barang.

Jepang mencatatkan surplus neraca perdagangan dalam satu tahun penuh untuk tahun anggaran 2016, pertama kalinya sejak Maret 2011. Surplus tersebut didorong penurunan nilai impor seiring penurunan harga minyak mentah global dalam tiga tahun terakhir serta kenaikan permintaan luar negeri di tengah permintaan dari dalam negeri yang mengalami pelemahan. Data lainnya menunjukkan aktivitas manufaktur Jepang meningkat pada bulan April sejalan dengan kenaikan pesanan ekspor tercermin dari Nikkei Manufacturing PMI yang tercatat lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

Perekonomian negara berkembang

Pasar properti di beberapa kota besar di Tiongkok tercatat stabil pada bulan Maret setelah Pemerintah menerapkan upaya untuk menahan kenaikan harga. Berdasarkan data Kantor Statistik Nasional Tiongkok, sebanyak 24 dari total 70 kota besar dan menengah mencatatkan perlambatan kenaikan harga dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara untuk kota first-tier dan second-tier, sebanyak enam dari sepuluh kota menunjukkan penurunan harga properti.

Inflasi harga grosir (wholesale price inflation / WPI) India pada bulan Maret berada pada level 5,7 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang merupakan level tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir yaitu 6,55 persen. Penurunan tingkat inflasi tersebut didorong oleh penurunan biaya komunikasi telepon seluler serta penurunan harga kentang dan bawang merah seiring kondisi cuaca yang lebih baik dibanding bulan Februari.

Inflasi Brazil pada pertengahan bulan April tercatat sebesar 4,5 persen, untuk pertama kalinya berada di bawah target Pemerintah sejak April 2010. Hasil ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk menurunkan tingkat suku bunganya lebih dalam sekaligus membuka kesempatan bagi Pemerintah untuk menurunkan target inflasi tahun 2019.

Perekonomian nasional

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2017 tercatat tumbuh 2,7 persen yoy dan berada di level USD321,7 miliar atau. Tingkat pertumbuhan ULN kali ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang menyentuh level 3,6 persen yoy. Berdasarkan kelompok peminjam, penurunan tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik yang tumbuh lebih rendah seiring dengan berlanjutnya penurunan ULN sektor swasta. Berdasarkan jangka waktu, melambatnya ULN terutama disebabkan oleh perlambatan ULN jangka panjang sementara ULN jangka pendek tumbuh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

Surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat sebesar USD1,23 miliar pada bulan Maret 2017, sedikit lebih rendah dibandingkan surplus bulan sebelumnya yang sebesar USD1,26 miliar. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh turunnya surplus neraca perdagangan nonmigas yang melampaui penurunan defisit neraca perdagangan migas. Dengan perkembangan tersebut, secara kuartalan neraca perdagangan Indonesia untuk Q1 2017 mencatat surplus USD3,93 miliar, meningkat dibandingkan surplus Q4 2016 yang sebesar USD3,12 miliar.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 4,75 persen dengan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing sebesar 4,00 persen dan 5,50 persen. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan sejumlah risiko baik global maupun domestik. Dari sisi global, terdapat indikasi membaiknya prospek perekonomian negara maju, wacana penurunan besaran neraca bank sentral AS, dan faktor geopolitik. Dari sisi domestik, dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi dan masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan yang menyebabkan belum optimalnya dampak stimulus perekonomian masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Perkembangan komoditas global

Harga minyak mentah global pada pekan ini mengalami pelemahan mingguan pasca pernyataan Rusia bahwa tingkat produksinya bisa mencapai level tertinggi dalam 30 tahun jika OPEC dan non OPEC tidak memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi minyak mentah di semester kedua 2017. Di tengah tekanan terhadap harga minyak mentah, harga batubara mengalami penguatan mingguan didorong oleh peningkatan permintaan Tiongkok dan pelemahan Dolar AS. Pada pekan ini, harga batubara juga ditutup menguat didorong oleh sentimen pelaksanaan hari tanpa batubara di Inggris. Harga emas melemah merespon hasil putaran pertama pemilu Prancis yang mendorong ekspektasi pada putaran kedua Emmanuel Macron akan dengan mudah mengalahkan Marine Le Pen yang pro proteksionis dan akan mendorong Prancis untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Perkembangan tersebut dipandanga dapat mengurangi kekhawatiran atas potensi ketidakpastian politik di kawasan Uni Eropa. Sementara itu, harga nikel tercatat melemah dipicu oleh melemahnya permintaan dari China dan AS. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami pelemahan dipengaruhi oleh menguatnya nilai tukar Ringgit terhadap dollar AS dan pelemahan harga minyak mentah.

Perkembangan sektor keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan sebagian besar ditutup menguat merespon hasil putaran pertama pilpres di Perancis. Di tengah penguatan yang dialami pasar modal global, nilai tukar global ditutup beragam terhadap Dolar AS.

Dari pasar keuangan domestik, IHSG mencatatkan penguatan mingguan dan ditutup pada level 5.664,475 atau menguat 1,56 persen. Pada pekan ini, net buy oleh investor nonresiden tercatat sebesar Rp9,88 triliun dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net buy  sebesar R18,23 triliun.

Di tengah penguatan IHSG, nilai tukar Rupiah mencatatkan pelemahan mingguan dan ditutup pada level Rp 13.322 per Dolar AS bersama dengan sejumlah mata uang global dan kawasan yang juga mencatatkan pelemahan kecuali Yen, Real, Rubel, dan Rupee. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga di sepanjang pekan walaupun sempat mengalami kenaikan di pertengahan pekan. Hal ini tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmarkmengalami penurunan 6 s.d. 15 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia per tanggal 20 April 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp735,78 T, atau secara nominal naik sebesar Rp10,14 T dibandingkan dengan pekan sebelumnya (11/04) yang mencapai ke Rp725,64 T. Namun demikian, secara persentase porsi kepemilikan investor non residen mengalami penurunan dari 38,92 persen menjadi 38,41 persen.

ISU UTAMA: Prospek Perekonomian Indonesia ke Depan Semakin Menjanjikan

  • Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat.
  • Surplus neraca perdagangan Indonesia berlanjut.
  • Rupiah terapresiasi 0,22% terhadap dolar AS selama bulan Maret 2017.
  • Suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) tetap 4,75%.
  • Upah harian buruh nasional mengalami kenaikan pada bulan Maret 2017.
  • Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia terus mengalami peningkatan.

Perkembangan ULN Indonesia

ULN Indonesia pada bulan Februari 2017 tercatat sebesar USD321,7 miliar atau tumbuh sebesar 2,7% (yoy), lebih lambat dibanding pertumbuhan ULN pada bulan Januari 2017 yang sebesar 3,6% (yoy). Perlambatan ULN ini didorong oleh melambatnya ULN publik dan menurunnya ULN swasta. ULN publik tercatat tumbuh sebesar 10,3% (yoy), lebih rendah dibanding pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 12,4% (yoy), sementara ULN swasta mengalami penurunan sebesar  4,0% (yoy). Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta pada akhir Februari 2017 terkonsentrasi pada sektor keuangan, sektor industri pengolahan, sektor pertambangan, serta sektor listrik, gas dan air bersih. Porsi ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6%. Diantara keempat sektor tersebut, peningkatan pertumbuhan tahunan ULN terjadi pada sektor industri pengolahan. Mengingat besarnya kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB, tentunya diharapkan peningkatan ULN tersebut dimanfaatkan untuk tujuan yang produktif.

Surplus neraca perdagangan Indonesia

Dari sisi perdagangan internasional, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada bulan Maret 2017, terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Meskipun besaran surplus yang sebesar 1,23 miliar dolar AS lebih rendah dibanding surplus pada bulan sebelumnya yang sebesar 1,26 miliar dolar AS, nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Surplus neraca perdagangan pada bulan Maret 2017 tersebut didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang mencapai 2,02 miliar dolar AS. Baik impor maupun ekspor nonmigas mengalami kenaikan yang signifikan. Peningkatan impor nonmigas terutama bersumber dari kenaikan impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, plastik dan barang dari plastik, besi dan baja, serta kapal laut dan bangunan terapung. Hal ini menunjukkan bahwa industri manufaktur di dalam negeri sedang mengalami ekspansi. Sementara itu, peningkatan ekspor nonmigas terutama didorong oleh kenaikan ekspor bahan bakar mineral, karet dan barang dari karet, mesin dan peralatan listrik, bubur kayu/pulp, serta bijih, kerak, dan abu logam, terlihat bahwa ekspor Indonesia masih tergantung pada komoditas. Dari sisi neraca perdagangan migas, defisit neraca perdagangan migas mengalami penurunan seiring kenaikan ekspor minyak mentah dan penurunan impor migas. Selain itu, apresiasi Rupiah sebesar 0,22% terhadap dolar AS selama bulan Maret 2017 sedikit banyak juga telah mempengaruhi perkembangan surplus neraca perdagangan pada bulan tersebut.

BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap 4,75%

Dari sisi moneter, melalui Rapat Dewan Gubernur pada tanggal 18 dan 20 April 2017, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) tetap pada level 4,75% dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00% dan Lending Facility tetap sebesar 5,50%. Beberapa hal yang melatarbelakangi keputusan BI tersebut antara lain penguatan nilai tukar Rupiah selama bulan Maret 2017, deflasi yang terjadi pada bulan yang sama, dan solidnya stabilitas sistem keuangan yang didukung oleh ketahanan industri perbankan dan stabilitas pasar keuangan. Kondisi moneter yang masih akomodatif tersebut diharapkan dapat mendorong berlanjutnya proses pemulihan perekonomian domestik. Walaupun demikian, BI masih mewaspadai beberapa risiko baik dari global maupun domestik, terutama wacana penurunan besaran neraca bank sentral AS dan faktor geopolitik. Dari sisi domestik, beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi dan masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan yang menyebabkan belum optimalnya dampak stimulus perekonomian.

Kenaikan upah buruh dan IPM

Hal yang lebih penting dari tren positif peningkatan aktivitas perekonomian selama ini adalah bahwa dampaknya dapat memberikan kesejahteraan yang merata bagi semua kalangan. Setidaknya hal tersebut sudah mulai terlihat dari perkembangan beberapa indikator seperti upah buruh dan IPM. Upah riil harian buruh tani nasional dan buruh bangunan mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,52% dan 0,10% selama bulan Maret 2017. Selain itu, dari perkembangan angka IPM, pengeluaran per kapita (harga konstan 2012) masyarakat Indonesia pada tahun 2016 telah mencapai Rp10,42 juta, meningkat Rp270 ribu dibanding tahun sebelumnya.

Akhirnya berbagai perkembangan positif ini yang terjadi saat ini diharapkan akan terus berlanjut ke depannya sehingga membuat optimis yang semakin tinggi akan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2017 ini.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

“Perkembangan data ekonomi global masih melanjutkan tren positif”

Perekonomian negara maju

Data perumahan AS pada bulan Maret menunjukkan hasil yang bervariasi. Jumlah rumah baru yang dibangun (housing starts) mengalami kontraksi didorong oleh penurunan pembangunan rumah kelompok single-family  di pantai barat AS akibat cuaca buruk. Di sisi lain, izin pembangunan rumah mencatatkan kenaikan didorong oleh meningkatnya angka pengurusan izin bangunan untuk kelompok multiple-residency. Sementara itu, produksi industri mengalami rebound di bulan Maret didukung pertumbuhan produksi barang konsumsi dan utilitas di tengah pelemahan produksi barang konstruksi dan manufaktur.

Inflasi kawasan Eropa pada bulan Maret tercatat tumbuh sesuai dengan range target bank sentral yaitu sebesar 1,5 persen yoy setelah di bulan sebelumnya mencatatkan inflasi 2,0 persen. Kenaikan harga bahan bakar kendaraan, minyak mentah, dan sayur-mayur menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi kawasan. Dari sisi neraca perdagangan, aktivitas ekspor impor di kawasan Eropa pada bulan Februari mencatatkan surplus didorong oleh penurunan defisit perdagangan Perancis dan kenaikan surplus perdagangan Jerman. Surplus tersebut juga didukung oleh kenaikan pesanan ekspor baru  ke level tertingginya dalam enam tahun terakhir.

Penjualan ritel UK pada bulan Maret mencatatkan penurunan terbesar dalam tujuh tahun terakhir. Penurunan tersebut didorong oleh kenaikan harga pada semua jenis barang terutama bahan bakar. Analis berpendapat bahwa penurunan tersebut masih akan berlanjut seiring perlambatan pertumbuhan tingkat upah dan kenaikan biaya impor akibat melemahnya nilai tukar poundsterling yang  mendorong kenaikan harga barang.

Jepang mencatatkan surplus neraca perdagangan dalam satu tahun penuh untuk tahun anggaran 2016, pertama kalinya sejak Maret 2011. Surplus tersebut didorong penurunan nilai impor seiring penurunan harga minyak mentah global dalam tiga tahun terakhir serta kenaikan permintaan luar negeri di tengah permintaan dari dalam negeri yang mengalami pelemahan. Data lainnya menunjukkan aktivitas manufaktur Jepang meningkat pada bulan April sejalan dengan kenaikan pesanan ekspor tercermin dari Nikkei Manufacturing PMI yang tercatat lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

Perekonomian negara berkembang

Pasar properti di beberapa kota besar di Tiongkok tercatat stabil pada bulan Maret setelah Pemerintah menerapkan upaya untuk menahan kenaikan harga. Berdasarkan data Kantor Statistik Nasional Tiongkok, sebanyak 24 dari total 70 kota besar dan menengah mencatatkan perlambatan kenaikan harga dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara untuk kota first-tier dan second-tier, sebanyak enam dari sepuluh kota menunjukkan penurunan harga properti.

Inflasi harga grosir (wholesale price inflation / WPI) India pada bulan Maret berada pada level 5,7 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang merupakan level tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir yaitu 6,55 persen. Penurunan tingkat inflasi tersebut didorong oleh penurunan biaya komunikasi telepon seluler serta penurunan harga kentang dan bawang merah seiring kondisi cuaca yang lebih baik dibanding bulan Februari.

Inflasi Brazil pada pertengahan bulan April tercatat sebesar 4,5 persen, untuk pertama kalinya berada di bawah target Pemerintah sejak April 2010. Hasil ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk menurunkan tingkat suku bunganya lebih dalam sekaligus membuka kesempatan bagi Pemerintah untuk menurunkan target inflasi tahun 2019.

Perekonomian nasional

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2017 tercatat tumbuh 2,7 persen yoy dan berada di level USD321,7 miliar atau. Tingkat pertumbuhan ULN kali ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang menyentuh level 3,6 persen yoy. Berdasarkan kelompok peminjam, penurunan tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik yang tumbuh lebih rendah seiring dengan berlanjutnya penurunan ULN sektor swasta. Berdasarkan jangka waktu, melambatnya ULN terutama disebabkan oleh perlambatan ULN jangka panjang sementara ULN jangka pendek tumbuh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

Surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat sebesar USD1,23 miliar pada bulan Maret 2017, sedikit lebih rendah dibandingkan surplus bulan sebelumnya yang sebesar USD1,26 miliar. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh turunnya surplus neraca perdagangan nonmigas yang melampaui penurunan defisit neraca perdagangan migas. Dengan perkembangan tersebut, secara kuartalan neraca perdagangan Indonesia untuk Q1 2017 mencatat surplus USD3,93 miliar, meningkat dibandingkan surplus Q4 2016 yang sebesar USD3,12 miliar.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 4,75 persen dengan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing sebesar 4,00 persen dan 5,50 persen. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan sejumlah risiko baik global maupun domestik. Dari sisi global, terdapat indikasi membaiknya prospek perekonomian negara maju, wacana penurunan besaran neraca bank sentral AS, dan faktor geopolitik. Dari sisi domestik, dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi dan masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan yang menyebabkan belum optimalnya dampak stimulus perekonomian masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Perkembangan komoditas global

Harga minyak mentah global pada pekan ini mengalami pelemahan mingguan pasca pernyataan Rusia bahwa tingkat produksinya bisa mencapai level tertinggi dalam 30 tahun jika OPEC dan non OPEC tidak memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi minyak mentah di semester kedua 2017. Di tengah tekanan terhadap harga minyak mentah, harga batubara mengalami penguatan mingguan didorong oleh peningkatan permintaan Tiongkok dan pelemahan Dolar AS. Pada pekan ini, harga batubara juga ditutup menguat didorong oleh sentimen pelaksanaan hari tanpa batubara di Inggris. Harga emas melemah merespon hasil putaran pertama pemilu Prancis yang mendorong ekspektasi pada putaran kedua Emmanuel Macron akan dengan mudah mengalahkan Marine Le Pen yang pro proteksionis dan akan mendorong Prancis untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Perkembangan tersebut dipandanga dapat mengurangi kekhawatiran atas potensi ketidakpastian politik di kawasan Uni Eropa. Sementara itu, harga nikel tercatat melemah dipicu oleh melemahnya permintaan dari China dan AS. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami pelemahan dipengaruhi oleh menguatnya nilai tukar Ringgit terhadap dollar AS dan pelemahan harga minyak mentah.

Perkembangan sektor keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan sebagian besar ditutup menguat merespon hasil putaran pertama pilpres di Perancis. Di tengah penguatan yang dialami pasar modal global, nilai tukar global ditutup beragam terhadap Dolar AS.

Dari pasar keuangan domestik, IHSG mencatatkan penguatan mingguan dan ditutup pada level 5.664,475 atau menguat 1,56 persen. Pada pekan ini, net buy oleh investor nonresiden tercatat sebesar Rp9,88 triliun dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net buy  sebesar R18,23 triliun.

Di tengah penguatan IHSG, nilai tukar Rupiah mencatatkan pelemahan mingguan dan ditutup pada level Rp 13.322 per Dolar AS bersama dengan sejumlah mata uang global dan kawasan yang juga mencatatkan pelemahan kecuali Yen, Real, Rubel, dan Rupee. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga di sepanjang pekan walaupun sempat mengalami kenaikan di pertengahan pekan. Hal ini tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmarkmengalami penurunan 6 s.d. 15 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia per tanggal 20 April 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp735,78 T, atau secara nominal naik sebesar Rp10,14 T dibandingkan dengan pekan sebelumnya (11/04) yang mencapai ke Rp725,64 T. Namun demikian, secara persentase porsi kepemilikan investor non residen mengalami penurunan dari 38,92 persen menjadi 38,41 persen.

ISU UTAMA: Prospek Perekonomian Indonesia ke Depan Semakin Menjanjikan

  • Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat.
  • Surplus neraca perdagangan Indonesia berlanjut.
  • Rupiah terapresiasi 0,22% terhadap dolar AS selama bulan Maret 2017.
  • Suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) tetap 4,75%.
  • Upah harian buruh nasional mengalami kenaikan pada bulan Maret 2017.
  • Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia terus mengalami peningkatan.

Perkembangan ULN Indonesia

ULN Indonesia pada bulan Februari 2017 tercatat sebesar USD321,7 miliar atau tumbuh sebesar 2,7% (yoy), lebih lambat dibanding pertumbuhan ULN pada bulan Januari 2017 yang sebesar 3,6% (yoy). Perlambatan ULN ini didorong oleh melambatnya ULN publik dan menurunnya ULN swasta. ULN publik tercatat tumbuh sebesar 10,3% (yoy), lebih rendah dibanding pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 12,4% (yoy), sementara ULN swasta mengalami penurunan sebesar  4,0% (yoy). Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta pada akhir Februari 2017 terkonsentrasi pada sektor keuangan, sektor industri pengolahan, sektor pertambangan, serta sektor listrik, gas dan air bersih. Porsi ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6%. Diantara keempat sektor tersebut, peningkatan pertumbuhan tahunan ULN terjadi pada sektor industri pengolahan. Mengingat besarnya kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB, tentunya diharapkan peningkatan ULN tersebut dimanfaatkan untuk tujuan yang produktif.

Surplus neraca perdagangan Indonesia

Dari sisi perdagangan internasional, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada bulan Maret 2017, terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Meskipun besaran surplus yang sebesar 1,23 miliar dolar AS lebih rendah dibanding surplus pada bulan sebelumnya yang sebesar 1,26 miliar dolar AS, nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Surplus neraca perdagangan pada bulan Maret 2017 tersebut didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang mencapai 2,02 miliar dolar AS. Baik impor maupun ekspor nonmigas mengalami kenaikan yang signifikan. Peningkatan impor nonmigas terutama bersumber dari kenaikan impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, plastik dan barang dari plastik, besi dan baja, serta kapal laut dan bangunan terapung. Hal ini menunjukkan bahwa industri manufaktur di dalam negeri sedang mengalami ekspansi. Sementara itu, peningkatan ekspor nonmigas terutama didorong oleh kenaikan ekspor bahan bakar mineral, karet dan barang dari karet, mesin dan peralatan listrik, bubur kayu/pulp, serta bijih, kerak, dan abu logam, terlihat bahwa ekspor Indonesia masih tergantung pada komoditas. Dari sisi neraca perdagangan migas, defisit neraca perdagangan migas mengalami penurunan seiring kenaikan ekspor minyak mentah dan penurunan impor migas. Selain itu, apresiasi Rupiah sebesar 0,22% terhadap dolar AS selama bulan Maret 2017 sedikit banyak juga telah mempengaruhi perkembangan surplus neraca perdagangan pada bulan tersebut.

BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap 4,75%

Dari sisi moneter, melalui Rapat Dewan Gubernur pada tanggal 18 dan 20 April 2017, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) tetap pada level 4,75% dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00% dan Lending Facility tetap sebesar 5,50%. Beberapa hal yang melatarbelakangi keputusan BI tersebut antara lain penguatan nilai tukar Rupiah selama bulan Maret 2017, deflasi yang terjadi pada bulan yang sama, dan solidnya stabilitas sistem keuangan yang didukung oleh ketahanan industri perbankan dan stabilitas pasar keuangan. Kondisi moneter yang masih akomodatif tersebut diharapkan dapat mendorong berlanjutnya proses pemulihan perekonomian domestik. Walaupun demikian, BI masih mewaspadai beberapa risiko baik dari global maupun domestik, terutama wacana penurunan besaran neraca bank sentral AS dan faktor geopolitik. Dari sisi domestik, beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi dan masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan yang menyebabkan belum optimalnya dampak stimulus perekonomian.

Kenaikan upah buruh dan IPM

Hal yang lebih penting dari tren positif peningkatan aktivitas perekonomian selama ini adalah bahwa dampaknya dapat memberikan kesejahteraan yang merata bagi semua kalangan. Setidaknya hal tersebut sudah mulai terlihat dari perkembangan beberapa indikator seperti upah buruh dan IPM. Upah riil harian buruh tani nasional dan buruh bangunan mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,52% dan 0,10% selama bulan Maret 2017. Selain itu, dari perkembangan angka IPM, pengeluaran per kapita (harga konstan 2012) masyarakat Indonesia pada tahun 2016 telah mencapai Rp10,42 juta, meningkat Rp270 ribu dibanding tahun sebelumnya.

Akhirnya berbagai perkembangan positif ini yang terjadi saat ini diharapkan akan terus berlanjut ke depannya sehingga membuat optimis yang semakin tinggi akan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2017 ini.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 17/KM.10/2017,   USD : 13,313.00    AUD : 10,036.79    GBP : 17,037.46    SGD : 9,537.48    JPY : 12,170.03    EUR : 14,348.00    CNY : 1,933.40