Daily Update : 13-12-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa AS menguat dengan indeks Dow Jones dan Standard & Poor’s 500 mencatat rekor terbaru. Saham perbankan memimpin penguatan seiring posisi  investor yang masih mencermati potensi pemangkasan pajak korporasi serta berlanjutnya pertumbuhan ekonomi pasca data inflasi yang kuat. Dow Jones berakhir menguat 0,49 persen atau 118,77 poin di level 24.504,8 dan indeks S&P 500 menguat 0,15 persen atau 4,12 poin di 2.664,11 yang merupakan level penutupan tertinggi baru sepanjang masa. (Bisnis Indonesia)
  • Meredanya kekhawatiran tentang dampak pasokan dari penutupan pipa minyak Forties di Laut Utara mendorong pelemahan harga minyak mentah. Selain itu, aksi ambil untung yang dilakukan trader turut menekan harga minyak. Harga minyak Brent untuk pengiriman Februari ditutup turun 2,09 persen ke US$63,34 per barel di ICE Futures Europe Exchange. (Bisnis Indonesia)
  • Rilis CPI Inggris bulan November 2017 pada (12/12) menunjukkan tingkati inflasi yang meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari lima tahun. Secara tahunan, inflasi menyentuh level 3.1 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Oktober 2017 sebesar 3,0 persen (yoy)  pada bulan November, terdorong oleh aktivitas jual beli tiket pesawat terbang, games di komputer, dan harga makanan khususnya coklat. (WEC)

BERITA DOMESTIK

  • Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai pemerintah perlu memberikan insentif fiskal, misalnya pengurangan pajak, untuk mendorong bank-bank di Indonesia melakukan penggabungan usaha atau merger.  Per September 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat 116 bank umum yang beroperasi di Indonesia. Jumlah tersebut terbilang ekstrem di kawasan Asia. Selain itu, banyaknya jumlah bank juga menyebabkan industry perbankan Indonesia tidak efisien. (CNN Indonesia)
  • Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, akan melakukan pemangkasan pajak rokok dan Dana Bagi Hasil (DBH) cukai hasil tembakau atau cukai rokok yang dialokasikan ke daerah untuk mengatasi defisit BPJS Kesehatan. Menurut Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan, Pemerintah akan memotong 27 persen dari 50 persen penerimaan pajak rokok. Sedangkan pemangkasan DBH cukai rokok adalah sebesar 50 persen dari alokasi setiap daerah. (Kompas, Kontan)
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian optimistis peringkat Indonesia pada kemudahan berusaha (EoDB) 2019 yang dirilis tahun depan bakal kembali melesat. Tahun depan, pemerintah bakal merealisasikan sistem perizinan terintegrasi (single submission). Dengan sistem ini, calon investor tidak perlu memasukkan dokumen yang sama kepada setiap instansi pemerintah pusat maupun daerah saat mengurus izin. (CNN Indonesia)
  • Bank Jateng berhasil menerbitkan Medium Term Notes (MTN) sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2017. Jumlah tersebut terdiri dari MTN I Bank Jateng tahun 2017 dan MTN Syariah Mudharabah I Bank Jateng Tahun 2017 dengan masing-masing jumlah pokoknya mencapai Rp 500 miliar. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar di Indonesia dalam satu tahap yang diterbitkan oleh Bank Pembangunan Daerah. (DetikFinance)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 04-12-2017 s.d 10-12-2017 | Download File :

 

 

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup menguat mingguan karena optimisme reformasi perpajakan AS dan rilis data tenaga kerja di atas ekspektasi.
  • Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang dunia pekan lalu.
  • Harga minyak mentah global melemah mingguan seiring naiknnya stok AS. Sentimen supply pengaruhi harga minyak mentah dan batubara sepanjang tahun 2017
  • IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 1,32 persen, sementara rupiah terdepresiasi sebesar 0,20 persen.
  • The Fed diperkirakan naikkan Fed Fund Rate 25 BPS di Rabu (13/12).

I.      Pasar Global

Pasar Saham. Pada akhir perdagangan pekan lalu Wall Street ditutup menguat mingguan - indeks Dow Jones bertahan di atas 24.000 poin. Selain dipengaruhi oleh optimisme investor atas rencana reformasi pajak Presiden Donald Trump, pergerakan Wall Street pada akhir pekan lalu juga dipengaruhi oleh rilis data tenaga kerja AS yang positif. Pada hari Jumat (08/12), Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa jumlah nonfarm payroll meningkat sebesar 228 ribu pada bulan November, di atas konsensus pasar sebesar 190 ribu. Sementara itu, tingkat pengangguran tidak berubah sebesar 4,1 persen. Hal ini beri dukungan the Fed untuk naikkan suku bunga Fed Fund pada rapat FOMC mendatang (Rabu, 13/12).

Sementara itu, bursa saham Eropa juga menguat mingguan ditopang oleh sektor perbankan setelah negosiasi Brexit menunjukkan progress positif. Uni Eropa dan Inggris akhirnya sepakat pada 3 isu tertentu yang menjadi penghambat negosiasi sehingga membuka jalan bagi perundingan ke tahap selanjutnya. Dari pasar saham Asia, bursa Nikkei juga ditutup menguat pada akhir perdagangan pekan lalu, didukung oleh data PDB Jepang untuk Juli – September yang lebih baik dari perkiraan.

Pasar Uang. Setelah terpantau stabil pada akhir November lalu, dolar AS terapresiasi selama pekan lalu karena reformasi pajak berangsur mendekati kenyataan. Data fundamental moneter Amerika Serikat terpantau positif kecuali tingkat upah per jam yang masih di bawah ekspektasi. Mengingat pentingnya indikator inflasi di dalam The Fed, stagnasi tingkat upah dapat membuat The Fed sulit mempertahankan penaikan tingkat suku bunga pada tahun 2018. Sementara itu, di tengah penguatan dolar AS tersebut, sebagian besar mata uang Asia masih bertahan.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS yang turun selama tiga hari secara berturut – turut pada awal pekan lalu, kembali bergerak naik pada hari Kamis (07/12) dan Jumat (08/12) seiring rilis data – data ekonomi AS yang di atas perkiraan dan dukung penaikkan suku bunga acuan the Fed. Yield Treasury 10 tahun AS terpantau stabil 2,38 persen pada akhir pekan lalu.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah global mengalami pelemahan secara mingguan seiring dengan rilis data stok minyak AS yang menunjukkan peningkatan. Dalam beberapa pekan kedepan, stok minyak AS dipekirakan meningkat seiring dipertahankannya utilisasi kilang bersamaan dengan ekspektasi naiknnya konsumsi BBM pada musim dingin.

Sebaliknya, harga batubara menguat mingguan seiring rencana Tiongkok menstabilkan harga batubara. Pemerintah Tiongkok melalui National Development and Reform Commission menerbitkan aturan mengatur kisaran stok batubara untuk produsen, distributor dan konsumen.

Harga CPO kembali melemah akibat meningkatnya pasokan di Malaysia di saat permintaan dari India melemah. Penurunan harga CPO mencapai level terendah dalam empat bulan terakhir.


II. Pasar Keuangan Domestik

  • Seminggu yang berakhir Jumat (8/12), IHSG naik 1,32 persen, imbal hasil SBN naik 2-4 bps, Rupiah terdepresiasi 0,20 persen, dan investor asing di pasar modal catat net sell Rp2,48 triliun.

IHSG tercatat mengalami penguatan sebesar 1,32 persen dan ditutup pada level 6.030,96 Investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp2,48 triliun selama sepekan dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net sell  sebesar Rp38,03 triliun. Volume rata-rata perdagangan harian selama sepekan kemarin tercatat sebesar Rp7,80 triliun meliputi perdagangan di pasar reguler dan pasar nego. IHSG sendiri diperdagangkan di kisaran 5.979,48 – 6.044,34.

Nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan mingguan, berada di level Rp13.550 per USD atau melemah sebesar 0,20 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan. Minggu ini rupiah diperdagangkan di kisaran 13.476 – 13.569 per dolar AS.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark rata-rata mengalami kenaikan sebesar 2 s.d. 4 bps selama sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 7 Desember 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp833,02 T (39,58 persen) atau mengalami kenaikan sebesar Rp2,76 T dalam sepekan. Kepemilikan Non Residen naik Rp167,21 T (25,11 persen) secara year to date (ytd) dan naik Rp2,20 T (0,27 persen) secara month to date (mtd)?


III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan Amerika, neraca perdagangan AS kembali mengalami defisit sebesar USD48,70 miliar setelah pada bulan sebelumnya juga mengalami defisit sebesar USD44,90 miliar. Angka tersebut merupakan defist tertinggi sejak Januari 2017, hal ini dipengaruhi peningkatan jumlah impor barang menjelang holiday shopping season. Sementara itu, ISM Non Manufacturing AS tercatat sebesar 57,4, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 60,1. Penurunan ini disebakan oleh permintaan dan jumlah pekerja pada sektor non manufaktur mengalami penurunan.

Kalender ekonomi dunia akan cukup penuh pada minggu ini mulai tanggal 11 sampai 15 Desember 2017. Data inflasi di AS akan dipublikasikan oleh Bureau of Labor Statistics pada hari Rabu (13/12). Core CPI diperkirakan akan naik 0,2 persen namun harga bahan pangan dan energi diperkirakan meningkat sebesar 0,4 persen.

Federal Reserve A.S. akan merilis proyeksi ekonomi kuartalan dan pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) pada hari Rabu (13/12). Pertemuan The Fed yang sangat dinantikan bulan Desember diperkirakan akan naikan suku bunga 25 basis poin, di mana pasar juga telah priced-in pergerakan yang disponsori oleh para pembuat kebijakan AS tersebut.

Suku bunga The Fed saat ini adalah 1,25 persen. The Fed disinyalir akan menaikkan suku bunga sekali lagi di Desember 2017 menjadi 1,5 persen. Ini sejalan dengan proyeksi penaikan suku bunga Fed Fund menjadi 2 persen pada 2018 dan 3 persen pada 2019. Kenaikan suku bunga Desember yang diperkirakan di AS akan memperlebar celah antara suku bunga acuan karena Mario Draghi (ECB) diperkirakan tidak akan memperketat kebijakan moneter, meski data ekonomi yang membaik juga terpantau di Eropa.

Dari kawasan Eropa, PDB Eropa secara kuartalan pada Q3-2017 tercatat tumbuh sebesar 0,6 persen atau tidak berubah dari kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ekononi tersebut dipengaruhi oleh peningkatan investasi dan ekspor. Secara tahunan, ekonomi Eropa direvisi tumbuh sebesar 2,6 persen, setelah sebelumnya diestimasi tumbuh sebesar 2,5 persen yang dipengaruhi oleh pengeluaran rumah tangga.

Bank of England (BoE) akan merilis ringkasan kebijakan moneternya pada hari Kamis (14/12). Tidak ada ekspektasi perubahan program QE atau suku bunga acuan Inggris yang berada pada 0,50 persen.

Dari kawasan Australia, ekonomi Australia pada Q3-2017 tumbuh sebesar 0,6 persen qoq dan 2,8 persen yoy. Pertumbuhan ini dipengaruhi terutama oleh aktivitas private business investment dan public infrastructure. 

Dari kawasan Asia, perekonomian Jepang pada Q3 tumbuh sebesar 0,6 persen dari kuartal sebelumnya atau secara tahunan mencapai 2,5 persen. Capaian ini lebih tinggi dari para analis yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 0,4 persen qoq atau 1,5 persen yoy.

Surplus neraca perdagangan Tiongkok mengalami peningkatan pada bulan November dari USD38,19 miliar menjadi USD40,21 miliar. Hal ini menunjukkan permintaan akan barang dari Tiongkok meningkat dari negara negara mitra dagang utama ditengah isu lingkungan dan sistem keuangan yang sedang terjadi di negara tersebut.

 

IV. Perekonomian Domestik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi November 2017 sebesar 0,2 persen. Dengan perkembangan itu maka inflasi tahun kalender Januari-November 2017 sebesar 2,87 persen dan secara tahunan sebesar 3,30 persen (yoy). Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, inflasi November 2017 juga terendah dibanding November 2015 yang tercatat sebesar 4,89 persen (yoy) dan November 2016 sebesar 3,58 persen (yoy). Inflasi inti bulan November tercatat sebesar sebesar 0,13 persen dan 3,05 persen (yoy), turun dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 0,17 persen dan 3,07 persen (yoy).

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan November 2017 tercatat sebesar 122,1, lebih tinggi dari bulan Oktober 2017 yang tercatat sebesar 120,7. Meningkatnya optimisme IKK dipicu oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik 1,9 poin dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) yang meningkat 1,0 poin. Kenaikan IKE terutama didorong oleh membaiknya persepsi konsumen pada seluruh kelompok pengeluaran terhadap penghasilan yang diterima saat ini. Di samping itu, perbaikan IKE juga dipengaruhi oleh meningkatnya pembelian barang tahan lama. Sementara itu, kenaikan IEK dipengaruhi oleh ekspektasi seluruh kelompok pengeluaran terhadap kenaikan penghasilan ke depan dan peningkatan kegiatan usaha.

Tajuk Mingguan: Update Harga Minyak dan Batubara Desember 2017 - Tambahan Penerimaan Negara H2/2017

  • Pergerakan harga minyak mentah dan batubara sepanjang tahun 2017, terpantau dipengaruhi isu-isu sisi supply.
  • Sampai dengan 8 Desember 2017, harga spot untuk minyak WTI dan Brent masing-masing naik sebesar 6,33 dan 12,95 persen (ytd), sementara harga batubara (Newcastle coal) telah naik sekitar 10 persen (ytd).

Pergerakan harga minyak mentah dunia sepanjang tahun 2017 lebih dipengaruhi oleh sentimen sisi supply dibandingkan demand. Kebijakan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk menerapkan kuota produksi merupakan faktor terbesar penguatan harga minyak mentah. Mulai Januari 2017, negara OPEC dan negara produsen minyak lainnya termasuk Rusia memangkas produksi minyak mentah sebesar 1,8 juta barel per hari (bph) sampai dengan akhir tahun 2018.

Di sisi lain, aktivitas eksplorasi menciptakan surplus di global market karena produksi AS yang naik secara konsisten sehingga inventory meningkat dan meredam laju harga minyak mentah. Jumlah oil drilling rigs AS melonjak secara signifikan dari 566 di Januari 2017 menjadi 749 di akhir November 2017. Dampaknya, produksi rata-rata harian AS di tahun 2017 mencapai 9,2 bph atau mendekati produksi Saudi Arabia dan Rusia dengan rata-rata masing-masing sebesar 9,9 juta bph dan 11 juta bph.

Harga minyak sempat menyentuh titik terendah pada bulan Juni 2017, melemah 6,9 persen mom (WTI) dan 7,7 persen mom (Brent). Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dengan tuduhan mendukung Iran dan Muslim Brotherhood. Pada periode yang sama permintaan tiga importir minyak terbesar di Asia yaitu Tiongkok, India, dan Jepang juga turun.

Sampai dengan Jumat (8/12), harga spot untuk minyak WTI dan Brent masing-masing naik sebesar 6,33 persen dan 12,95 persen (ytd). Untuk tahun 2018, sentimen pasar terhadap minyak mentah diperkirakan masih akan bullish.

Pergerakan harga batubara sepanjang tahun 2017 juga sangat dipengaruhi oleh faktor supply  di Tiongkok dan Australia.  Harga batubara bergerak di rentang US$ 73 – US$ 100 per metriks ton sepanjang 2017.

Baik Tiongkok dan Australia menerapkan pembatasan jam kerja operasional sehingga produksi batubara berkurang namun pembatasan jam kerja mulai dilonggarkan kembali saat harga mulai naik signifikan. Namun kebijakan yang diterapkan Tiongkok berubah pada awal  Mei 2017 dimana beberapa perusahan tambang China mulai kembali meningkatkan produksi batubara sehingga menambah angka pasokan global. Hal ini sebagai dampak dari meruginya PLTU di Tiongkok sebagai imbas tingginya harga batubara sehingga otoritas Beijing justru menganggap pengurangan hari kerja tambang batubara tidak diperlukan lagi mengingat harga batubara sudah cukup tinggi.  Akibatnya, harga batubara menyentuh level terendahnya di tahun 2017 sebesar US$ 73,25 per metrik ton.

Memasuki Q3-2017, harga batubara kembali menguat terutama dipengaruhi oleh meningkatnya demand dari AS dan negara-negara Eropa untuk mengantisipasi musim dingin, sementara Tiongkok kembali melakukan pembatasan produksi. Namun penguatan dolar AS menghadang laju kenaikan harga batubara. Sampai dengan Jumat (8/12), harga batubara telah naik sekitar 10 persen (ytd). Ke depan, harga batubara diperkirakan masih akan bullish seiring dengan masih berlanjutnya pembatasan produksi oleh Tiongkok dan masih tingginya permintaan dari negara-negara importir batubara seperti Rusia, Jerman, China dan Amerika Serikat

Penguatan harga minyak dan batubara sepanjang 2017 turut mendorong robust-nya kinerja ekspor Indonesia. Ekspor Indonesia tumbuh sebesar 18,4 persen (yoy) pada bulan Oktober 2017 dengan ekspor migas tumbuh sebesar 33,8 persen yoy dan ekspor non migas tumbuh sebesar 17,0 persen. Khusus untuk batubara, ekspor batubara tumbuh sebesar 40,9 persen (yoy) pada bulan Oktober 2017.

Dari sisi penerimaan negara, tingginya harga minyak sepanjang 2017 juga turut mendorong penerimaan negara dari migas. Sampai dengan Oktober 2017, PPh Migas telah mencapai Rp42,4 triliun atau 101,5 persen dari targetnya yang sebesar Rp41,8 triliun. Sementara PNBP SDA Migas telah mencapai Rp69,0 triliun atau 95,6 persen dari target tahun 2017 sebesar Rp72,2 triliun. Dengan realisasi ini, PPh Migas dan PNBP SDA Migas masing-masing tumbuh sebesar 51,5 persen dan 156,7 persen (yoy).

Di sisi lain, tingginya harga batubara turut mendorong tingginya PNBP SDA Non Migas yang terealisasi sebesar Rp23,6 triliun atau 100,8 persen dari target tahun 2017 sebesar Rp23,4 triliun. Secara yoy, PNBP SDA Non Migas tumbuh sebesar 47,3 persen. Dengan perkiraan harga minyak dan batubara yang masih akan bullish tahun depan, pengaruhnya terhadap penerimaan negara juga diperkirakan masih akan tumbuh positif.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup menguat mingguan karena optimisme reformasi perpajakan AS dan rilis data tenaga kerja di atas ekspektasi.
  • Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang dunia pekan lalu.
  • Harga minyak mentah global melemah mingguan seiring naiknnya stok AS. Sentimen supply pengaruhi harga minyak mentah dan batubara sepanjang tahun 2017
  • IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 1,32 persen, sementara rupiah terdepresiasi sebesar 0,20 persen.
  • The Fed diperkirakan naikkan Fed Fund Rate 25 BPS di Rabu (13/12).

I.      Pasar Global

Pasar Saham. Pada akhir perdagangan pekan lalu Wall Street ditutup menguat mingguan - indeks Dow Jones bertahan di atas 24.000 poin. Selain dipengaruhi oleh optimisme investor atas rencana reformasi pajak Presiden Donald Trump, pergerakan Wall Street pada akhir pekan lalu juga dipengaruhi oleh rilis data tenaga kerja AS yang positif. Pada hari Jumat (08/12), Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa jumlah nonfarm payroll meningkat sebesar 228 ribu pada bulan November, di atas konsensus pasar sebesar 190 ribu. Sementara itu, tingkat pengangguran tidak berubah sebesar 4,1 persen. Hal ini beri dukungan the Fed untuk naikkan suku bunga Fed Fund pada rapat FOMC mendatang (Rabu, 13/12).

Sementara itu, bursa saham Eropa juga menguat mingguan ditopang oleh sektor perbankan setelah negosiasi Brexit menunjukkan progress positif. Uni Eropa dan Inggris akhirnya sepakat pada 3 isu tertentu yang menjadi penghambat negosiasi sehingga membuka jalan bagi perundingan ke tahap selanjutnya. Dari pasar saham Asia, bursa Nikkei juga ditutup menguat pada akhir perdagangan pekan lalu, didukung oleh data PDB Jepang untuk Juli – September yang lebih baik dari perkiraan.

Pasar Uang. Setelah terpantau stabil pada akhir November lalu, dolar AS terapresiasi selama pekan lalu karena reformasi pajak berangsur mendekati kenyataan. Data fundamental moneter Amerika Serikat terpantau positif kecuali tingkat upah per jam yang masih di bawah ekspektasi. Mengingat pentingnya indikator inflasi di dalam The Fed, stagnasi tingkat upah dapat membuat The Fed sulit mempertahankan penaikan tingkat suku bunga pada tahun 2018. Sementara itu, di tengah penguatan dolar AS tersebut, sebagian besar mata uang Asia masih bertahan.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS yang turun selama tiga hari secara berturut – turut pada awal pekan lalu, kembali bergerak naik pada hari Kamis (07/12) dan Jumat (08/12) seiring rilis data – data ekonomi AS yang di atas perkiraan dan dukung penaikkan suku bunga acuan the Fed. Yield Treasury 10 tahun AS terpantau stabil 2,38 persen pada akhir pekan lalu.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah global mengalami pelemahan secara mingguan seiring dengan rilis data stok minyak AS yang menunjukkan peningkatan. Dalam beberapa pekan kedepan, stok minyak AS dipekirakan meningkat seiring dipertahankannya utilisasi kilang bersamaan dengan ekspektasi naiknnya konsumsi BBM pada musim dingin.

Sebaliknya, harga batubara menguat mingguan seiring rencana Tiongkok menstabilkan harga batubara. Pemerintah Tiongkok melalui National Development and Reform Commission menerbitkan aturan mengatur kisaran stok batubara untuk produsen, distributor dan konsumen.

Harga CPO kembali melemah akibat meningkatnya pasokan di Malaysia di saat permintaan dari India melemah. Penurunan harga CPO mencapai level terendah dalam empat bulan terakhir.


II. Pasar Keuangan Domestik

  • Seminggu yang berakhir Jumat (8/12), IHSG naik 1,32 persen, imbal hasil SBN naik 2-4 bps, Rupiah terdepresiasi 0,20 persen, dan investor asing di pasar modal catat net sell Rp2,48 triliun.

IHSG tercatat mengalami penguatan sebesar 1,32 persen dan ditutup pada level 6.030,96 Investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp2,48 triliun selama sepekan dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net sell  sebesar Rp38,03 triliun. Volume rata-rata perdagangan harian selama sepekan kemarin tercatat sebesar Rp7,80 triliun meliputi perdagangan di pasar reguler dan pasar nego. IHSG sendiri diperdagangkan di kisaran 5.979,48 – 6.044,34.

Nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan mingguan, berada di level Rp13.550 per USD atau melemah sebesar 0,20 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan. Minggu ini rupiah diperdagangkan di kisaran 13.476 – 13.569 per dolar AS.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark rata-rata mengalami kenaikan sebesar 2 s.d. 4 bps selama sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 7 Desember 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp833,02 T (39,58 persen) atau mengalami kenaikan sebesar Rp2,76 T dalam sepekan. Kepemilikan Non Residen naik Rp167,21 T (25,11 persen) secara year to date (ytd) dan naik Rp2,20 T (0,27 persen) secara month to date (mtd)?


III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan Amerika, neraca perdagangan AS kembali mengalami defisit sebesar USD48,70 miliar setelah pada bulan sebelumnya juga mengalami defisit sebesar USD44,90 miliar. Angka tersebut merupakan defist tertinggi sejak Januari 2017, hal ini dipengaruhi peningkatan jumlah impor barang menjelang holiday shopping season. Sementara itu, ISM Non Manufacturing AS tercatat sebesar 57,4, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 60,1. Penurunan ini disebakan oleh permintaan dan jumlah pekerja pada sektor non manufaktur mengalami penurunan.

Kalender ekonomi dunia akan cukup penuh pada minggu ini mulai tanggal 11 sampai 15 Desember 2017. Data inflasi di AS akan dipublikasikan oleh Bureau of Labor Statistics pada hari Rabu (13/12). Core CPI diperkirakan akan naik 0,2 persen namun harga bahan pangan dan energi diperkirakan meningkat sebesar 0,4 persen.

Federal Reserve A.S. akan merilis proyeksi ekonomi kuartalan dan pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) pada hari Rabu (13/12). Pertemuan The Fed yang sangat dinantikan bulan Desember diperkirakan akan naikan suku bunga 25 basis poin, di mana pasar juga telah priced-in pergerakan yang disponsori oleh para pembuat kebijakan AS tersebut.

Suku bunga The Fed saat ini adalah 1,25 persen. The Fed disinyalir akan menaikkan suku bunga sekali lagi di Desember 2017 menjadi 1,5 persen. Ini sejalan dengan proyeksi penaikan suku bunga Fed Fund menjadi 2 persen pada 2018 dan 3 persen pada 2019. Kenaikan suku bunga Desember yang diperkirakan di AS akan memperlebar celah antara suku bunga acuan karena Mario Draghi (ECB) diperkirakan tidak akan memperketat kebijakan moneter, meski data ekonomi yang membaik juga terpantau di Eropa.

Dari kawasan Eropa, PDB Eropa secara kuartalan pada Q3-2017 tercatat tumbuh sebesar 0,6 persen atau tidak berubah dari kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ekononi tersebut dipengaruhi oleh peningkatan investasi dan ekspor. Secara tahunan, ekonomi Eropa direvisi tumbuh sebesar 2,6 persen, setelah sebelumnya diestimasi tumbuh sebesar 2,5 persen yang dipengaruhi oleh pengeluaran rumah tangga.

Bank of England (BoE) akan merilis ringkasan kebijakan moneternya pada hari Kamis (14/12). Tidak ada ekspektasi perubahan program QE atau suku bunga acuan Inggris yang berada pada 0,50 persen.

Dari kawasan Australia, ekonomi Australia pada Q3-2017 tumbuh sebesar 0,6 persen qoq dan 2,8 persen yoy. Pertumbuhan ini dipengaruhi terutama oleh aktivitas private business investment dan public infrastructure. 

Dari kawasan Asia, perekonomian Jepang pada Q3 tumbuh sebesar 0,6 persen dari kuartal sebelumnya atau secara tahunan mencapai 2,5 persen. Capaian ini lebih tinggi dari para analis yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 0,4 persen qoq atau 1,5 persen yoy.

Surplus neraca perdagangan Tiongkok mengalami peningkatan pada bulan November dari USD38,19 miliar menjadi USD40,21 miliar. Hal ini menunjukkan permintaan akan barang dari Tiongkok meningkat dari negara negara mitra dagang utama ditengah isu lingkungan dan sistem keuangan yang sedang terjadi di negara tersebut.

 

IV. Perekonomian Domestik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi November 2017 sebesar 0,2 persen. Dengan perkembangan itu maka inflasi tahun kalender Januari-November 2017 sebesar 2,87 persen dan secara tahunan sebesar 3,30 persen (yoy). Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, inflasi November 2017 juga terendah dibanding November 2015 yang tercatat sebesar 4,89 persen (yoy) dan November 2016 sebesar 3,58 persen (yoy). Inflasi inti bulan November tercatat sebesar sebesar 0,13 persen dan 3,05 persen (yoy), turun dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 0,17 persen dan 3,07 persen (yoy).

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan November 2017 tercatat sebesar 122,1, lebih tinggi dari bulan Oktober 2017 yang tercatat sebesar 120,7. Meningkatnya optimisme IKK dipicu oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik 1,9 poin dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) yang meningkat 1,0 poin. Kenaikan IKE terutama didorong oleh membaiknya persepsi konsumen pada seluruh kelompok pengeluaran terhadap penghasilan yang diterima saat ini. Di samping itu, perbaikan IKE juga dipengaruhi oleh meningkatnya pembelian barang tahan lama. Sementara itu, kenaikan IEK dipengaruhi oleh ekspektasi seluruh kelompok pengeluaran terhadap kenaikan penghasilan ke depan dan peningkatan kegiatan usaha.

Tajuk Mingguan: Update Harga Minyak dan Batubara Desember 2017 - Tambahan Penerimaan Negara H2/2017

  • Pergerakan harga minyak mentah dan batubara sepanjang tahun 2017, terpantau dipengaruhi isu-isu sisi supply.
  • Sampai dengan 8 Desember 2017, harga spot untuk minyak WTI dan Brent masing-masing naik sebesar 6,33 dan 12,95 persen (ytd), sementara harga batubara (Newcastle coal) telah naik sekitar 10 persen (ytd).

Pergerakan harga minyak mentah dunia sepanjang tahun 2017 lebih dipengaruhi oleh sentimen sisi supply dibandingkan demand. Kebijakan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk menerapkan kuota produksi merupakan faktor terbesar penguatan harga minyak mentah. Mulai Januari 2017, negara OPEC dan negara produsen minyak lainnya termasuk Rusia memangkas produksi minyak mentah sebesar 1,8 juta barel per hari (bph) sampai dengan akhir tahun 2018.

Di sisi lain, aktivitas eksplorasi menciptakan surplus di global market karena produksi AS yang naik secara konsisten sehingga inventory meningkat dan meredam laju harga minyak mentah. Jumlah oil drilling rigs AS melonjak secara signifikan dari 566 di Januari 2017 menjadi 749 di akhir November 2017. Dampaknya, produksi rata-rata harian AS di tahun 2017 mencapai 9,2 bph atau mendekati produksi Saudi Arabia dan Rusia dengan rata-rata masing-masing sebesar 9,9 juta bph dan 11 juta bph.

Harga minyak sempat menyentuh titik terendah pada bulan Juni 2017, melemah 6,9 persen mom (WTI) dan 7,7 persen mom (Brent). Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dengan tuduhan mendukung Iran dan Muslim Brotherhood. Pada periode yang sama permintaan tiga importir minyak terbesar di Asia yaitu Tiongkok, India, dan Jepang juga turun.

Sampai dengan Jumat (8/12), harga spot untuk minyak WTI dan Brent masing-masing naik sebesar 6,33 persen dan 12,95 persen (ytd). Untuk tahun 2018, sentimen pasar terhadap minyak mentah diperkirakan masih akan bullish.

Pergerakan harga batubara sepanjang tahun 2017 juga sangat dipengaruhi oleh faktor supply  di Tiongkok dan Australia.  Harga batubara bergerak di rentang US$ 73 – US$ 100 per metriks ton sepanjang 2017.

Baik Tiongkok dan Australia menerapkan pembatasan jam kerja operasional sehingga produksi batubara berkurang namun pembatasan jam kerja mulai dilonggarkan kembali saat harga mulai naik signifikan. Namun kebijakan yang diterapkan Tiongkok berubah pada awal  Mei 2017 dimana beberapa perusahan tambang China mulai kembali meningkatkan produksi batubara sehingga menambah angka pasokan global. Hal ini sebagai dampak dari meruginya PLTU di Tiongkok sebagai imbas tingginya harga batubara sehingga otoritas Beijing justru menganggap pengurangan hari kerja tambang batubara tidak diperlukan lagi mengingat harga batubara sudah cukup tinggi.  Akibatnya, harga batubara menyentuh level terendahnya di tahun 2017 sebesar US$ 73,25 per metrik ton.

Memasuki Q3-2017, harga batubara kembali menguat terutama dipengaruhi oleh meningkatnya demand dari AS dan negara-negara Eropa untuk mengantisipasi musim dingin, sementara Tiongkok kembali melakukan pembatasan produksi. Namun penguatan dolar AS menghadang laju kenaikan harga batubara. Sampai dengan Jumat (8/12), harga batubara telah naik sekitar 10 persen (ytd). Ke depan, harga batubara diperkirakan masih akan bullish seiring dengan masih berlanjutnya pembatasan produksi oleh Tiongkok dan masih tingginya permintaan dari negara-negara importir batubara seperti Rusia, Jerman, China dan Amerika Serikat

Penguatan harga minyak dan batubara sepanjang 2017 turut mendorong robust-nya kinerja ekspor Indonesia. Ekspor Indonesia tumbuh sebesar 18,4 persen (yoy) pada bulan Oktober 2017 dengan ekspor migas tumbuh sebesar 33,8 persen yoy dan ekspor non migas tumbuh sebesar 17,0 persen. Khusus untuk batubara, ekspor batubara tumbuh sebesar 40,9 persen (yoy) pada bulan Oktober 2017.

Dari sisi penerimaan negara, tingginya harga minyak sepanjang 2017 juga turut mendorong penerimaan negara dari migas. Sampai dengan Oktober 2017, PPh Migas telah mencapai Rp42,4 triliun atau 101,5 persen dari targetnya yang sebesar Rp41,8 triliun. Sementara PNBP SDA Migas telah mencapai Rp69,0 triliun atau 95,6 persen dari target tahun 2017 sebesar Rp72,2 triliun. Dengan realisasi ini, PPh Migas dan PNBP SDA Migas masing-masing tumbuh sebesar 51,5 persen dan 156,7 persen (yoy).

Di sisi lain, tingginya harga batubara turut mendorong tingginya PNBP SDA Non Migas yang terealisasi sebesar Rp23,6 triliun atau 100,8 persen dari target tahun 2017 sebesar Rp23,4 triliun. Secara yoy, PNBP SDA Non Migas tumbuh sebesar 47,3 persen. Dengan perkiraan harga minyak dan batubara yang masih akan bullish tahun depan, pengaruhnya terhadap penerimaan negara juga diperkirakan masih akan tumbuh positif.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 49/KM.10/2017,   USD : 13,541.00    AUD : 10,210.46    GBP : 18,170.40    SGD : 10,025.91    JPY : 11,981.28    EUR : 15,962.94    CNY : 2,045.10