Daily Update : 22-06-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa saham AS ditutup melemah yang masih diakibatkan oleh pelemahan saham pada sektor energi. Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah masing-masing sebesar 0,27 persen dan 0,06 persen. (Reuters)
  • Exiting Homes Sales AS pada bulan Mei menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan 1,1 persen atau 5,62 juta unit dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang melambat sebesar 2,5 persen atau terjual sebanyak 5,56 juta unit. Peningkatan ini tidak diprediksi sebelumnya mengingat harga rumah yang tinggi. (Reuters)
  • Cadangan minyak mentah AS untuk minggu keempat Juni kembali berkurang. Pada minggu sebelumnya, cadangan minyak AS tercatat berkurang sebesar 1,66 juta barel, sedangkan pada minggu ini tercatat berkurang sebesar 2,451 juta barel. (WEC)

BERITA DOMESTIK

  • Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengajukan tambahan subsidi listrik dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tahun berjalan 2017. Kementerian ESDM akan mengajukan tambahan sebesar Rp1,7 triliun dalam pembahasan APBN-P 2017. Tambahan subsidi itu diperlukan karena ada penambahan 2,4 juta pelanggan yang layak disubsidi berdasarkan verifikasi PLN dan Ditjen Ketenagalistrikan. Usulan tambahan subsidi listrik tersebut akan diajukan dalam rapat kerja bersama DPR pada bulan Juli. (Ipotnews)
  • Pemerintah akan melakukan lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara pada awal bulan Juli 2017 dengan tingkat imbalan tertinggi yang ditawarkan sebesar 8,87 persen untuk tenor sepuluh tahun. SBSN yang akan dilelang adalah seri SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara-Syariah) dan PBS (Project Based Sukuk). Hal ini untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2017. Pemerintah menargetkan memperoleh dana sebesar Rp5 triliun dari lelang Sukuk Negara ini. Lelang rencananya akan dilakukan pada 4 Juli 2017 dan setelmen pada 6 Juli 2017. (Ipotnews)
  • Bank Indonesia menetapkan National Standard Indonesian Chip Card Specification (NSICCS) sebagai Standar Nasional Teknologi Chip kartu ATM dan/atau kartu Debit. Bank Indonesia juga telah menetapkan Asosiasi Sistem Pembayaran (ASPI) sebagai pengelola standar NSICCS yang berperan dalam mengawal implementasi NSICCS, termasuk dalam memelihara dan mengembangkan Standar Nasional dengan memerhatikan aspek keamanan, efisiensi, perkembangan teknologi, kebutuhan industri, dan kepentingan nasional. Penerapan NSICCS pada kartu ATM/Debit memiliki tujuan untuk meningkatkan keamanan bertransaksi menggunakan kartu ATM/Debit. Teknologi NSICCS ini juga akan diterapkan pada perangkat ATM, EDC, dan sistem lainnya yang digunakan untuk memproses transaksi kartu ATM/Debit. Implementasi NSICCS akan dilakukan secara bertahap dan ditargetkan selesai secara penuh pada 31 Desember 2021. (Bank Indonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 12-06-2017 s.d 18-06-2017 | Download File :

“Optimisme global masih terjaga”

Perekonomian negara maju

Bank sentral AS, the Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 1 – 1,25 persen di tengah laju inflasi yang justru mengalami penurunan. The Fed juga mengumumkan penurunan perkiraan tingkat pengangguran dari 4,5 persen menjadi 4,3 persen, sementara tingkat inflasi direvisi turun dari 1,9 persen menjadi 1,6 persen. Rilis data terkini menunjukkan tingkat inflasi inti pada bulan Mei turun dari 1,9 persen menjadi 1,7 persen. Namun, penurunan tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara seiring meningkatnya belanja rumah tangga dan investasi bisnis di AS. Melihat perkembangan saat ini, The Fed meyakini pertumbuhan ekonomi AS pad tahun ini dapat mencapai 2,2 persen, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 2,1 persen. The Fed juga berencana mengurangi neraca keuangan senilai USD4,5 triliun pada tahun ini dan mengumumkan rencana pemangkasan kepemilikan obligasi dan sekuritas lainnya.

Laju inflasi kawasan Eropa melambat di bulan Mei terutama disebabkan oleh penurunan harga sektor energi. Inflasi inti juga melambat dibandingkan bulan April 2017, sejalan dengan perkiraan sebelumnya. Data lainnya menunjukkan surplus neraca perdagangan kawasan Eropa mengalami penurunan di bulan April didorong oleh penurunan ekspor yang lebih besar dibanding penurunan impor. 

Rilis data inflasi UK menunjukkan inflasi pada bulan Mei tercatat mengalami kenaikan sekaligus merupakan yang tertinggi sejak Juni 2013. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan biaya paket perjalanan ke luar negeri dan kenaikan biaya impor akibat pelemahan nilai tukar Poundsterling. Di sisi lain, Bank of England (BoE) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada level 0,25 persen dan program quantitative easing  (QE) senilai GBP 445 miliar. Namun,  tinginya laju inflasi dan ketidakpastian politik di UK diperkirakan akan mendorong BoE untuk menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan di bulan Agustus mendatang.

Bank of Japan (BoJ) mempertahanan suku bunga acuannya pada level -0,1 persen dan melanjutkan program pembelian aset dengan target JPY 8 triliun. Dalam kesempatan yang sama, BoJ juga menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan dengan ditopang oleh perbaikan pada sektor ketenagakerjaan dan tingkat upah yang terus berlanjut.

Perekonomian negara berkembang

Produksi sektor industri dan penjualan ritel di Tiongkok tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada bulan Mei 2017. Di sisi lain, investasi aset tetap mengalami perlambatan terutama disebabkan oleh penurunan investasi pada sektor properti dan konstruksi yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

Penjualan ritel di Brazil secara mengejutkan mencatatkan pertumbuhan di bulan April setelah dalam dua bulan terakhir mengalami penurunan. Pertumbuhan ini sejalan dengan pemulihan belanja konsumen yang ditopang oleh laju inflasi dan tingkat suku bunga yang rendah.

Inflasi India pada bulan Mei mengalami penurunan didorong penurunan harga bahan pangan di negara tersebut. Rendahnya laju inflasi tersebut memberikan peluang bagi bank sentral India untuk memangkas suku bunga acuannya pada pembahasan kebijakan moneter di bulan Agustus nanti. Dari sektor perdagangan, defisit neraca perdagangan India mencapai level tertingginya dalam 2,5 tahun terakhir. Tingginya defisit tersebut disebabkan oleh peningkatan impor logam mulia dan minyak mentah.

Perekonomian nasional

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 4,75 persen dengan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing tetap sebesar 4,00 persen dan 5,50 persen dengan tetap mewaspadai sejumlah risiko. Dari sisi global, kenaikan lanjutan Fed Fund Rate (FFR) dan rencana penurunan besaran neraca bank sentral AS, hasil Pemilu di Inggris, serta potensi menurunnya harga komoditas khususnya minyak dunia merupakan risiko yang tetap perlu diwaspadai. Dari sisi domestik, beberapa risiko yang tetap perlu dicermati adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi serta masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan.

Surplus neraca perdagangan Indonesia terus berlanjut di bulan Mei 2017 didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Surplus neraca perdagangan Mei 2017 tercatat sebesar USD 0,47 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus April 2017 yang sebesar USD 1,33 miliar. Surplus yang lebih rendah tersebut dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas yang lebih besar dibandingkan penurunan defisit pada neraca migas. Secara kumulatif pada bulan Januari s.d. Mei 2017, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar USD 5,90 miliar, lebih tinggi dibandingkan akumulasi pada periode yang sama tahun 2016 yang sebesar USD3,02 miliar.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2017 tercatat sebesar USD328,2 miliar atau tumbuh 2,4 persen yoy, lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan Maret 2017 yang mencapai 2,9 persen yoy. Berdasarkan kelompok peminjam, perlambatan pertumbuhan ULN pada April 2017 disebabkan oleh ULN sektor publik yang melambat dan ULN sektor swasta yang terus menurun. Berdasarkan jangka waktu, perlambatan ULN terjadi baik pada ULN berjangka panjang maupun berjangka pendek.

Perkembangan komoditas global

Harga minyak mentah global sepanjang pekan ini mengalami pelemahan mingguan yang cukup tajam disebabkan oleh volume pasokan minyak di AS yang berlimpah serta program pemangkasan minyak OPEC yang tidak mampu memberikan keyakinan pada pasar bahwa program tersebut dapat memberi pengaruh positif terhadap harga minyak mentah global. Di tengah tekanan yang dialami minyak mentah, harga batubara masih melanjutkan penguatan dipengaruhi oleh musim panas yang diperkirakan akan membuat permintaan batubara terutama di Amerika Serikat akan melonjak dalam beberapa waktu ke depan. Harga emas mengalami tekanan dan dalam jangka pendek diprediksi masih akan terbebani langkah pengetatan kebijakan moneter the Fed. Harga nikel tercatat mengalami penurunan akibat permintaan nikel untuk bahan baku baja di China mengalami penurunan. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami pelemahan tertekan oleh sentimen negatif pelemahan harga minyak mentah.

Perkembangan sektor keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup beragam merespon rilis data dan laporan ekonomi dan keuangan di berbagai kawasan serta keputusan the Fed yang menikkan tingkat suku bunga acuannnya sebesar 25 bps dan diikuti kebijakan pengetatan moneter. Di tengah kondisi yang dialami pasar modal global, posisi penutupan mingguan nilai tukar global terhadap Dolar AS bervariasi.

Dari pasar keuangan domestik, IHSG mencatatkan penguatan mingguan sebesar 0,85 persen dan ditutup pada level 5723,64. Di tengah penguatan, investor nonresiden membukukan aksi beli sebesar Rp172 miliar dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net buy  sebesar Rp19,73 triliun.

Di tengah penguatan IHSG, nilai tukar Rupiah mencatatkan pelemahan mingguan dan ditutup pada level Rp 13.299 per dolar AS. Pelemahan tersebut sejalan dengan pelemahan mata uang global dan kawasan kecuali Euro, Poundsterling, Real, Rubel, dollar singapura dan Baht. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga di level yang rendah. Hal ini tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami penurunan 2 s.d. 9 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia per tanggal 15 Juni 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp763,86 T (39,31%), atau secara nominal naik sebesar Rp2,79 triliun dibandingkan dengan pekan sebelumnya (8/6) yang mencapai Rp761,07 T (39,18%). Secara year to date kepemilikan nonresiden naik Rp98,06 triliun dan naik Rp7,71 triliun secara month to date.

ISU UTAMA 1: Paket Kebijakan XV Fokus Perbaikan Sistem Logistik

  • Pada hari Kamis, 15 Juni 2017 Pemerintah telah meluncurkan Paket Kebijakan XV mengenai Pengembangan Usaha dan Daya Saing Penyedia Jasa Logistik.
  • Paket Kebijakan berisi antara lain pemberian kesempatan meningkatkan peran dan skala usaha, kemudahan berusaha dan pengurangan beban biaya bagi usaha penyedia jasa logistic nasional, serta penguatan kelembagaan dan kewenangan Indonesia National Single Window (INSW).
  • Tantangan sistem logistik  di wilayah Indonesia, yang memiliki kondisi geografis berbentuk kepulauan, telah menyebabkan beragai permasalahan seperti disparitas harga dan fluktuasi atau kelangkaan stok barang.
  • Paket kebijakan yang berfokus pada sistem logistik ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan daya beli masyarakat.

Peluncuran Paket Kebijakan XV

Pada hari Kamis, 15 Juni 2017 Pemerintah telah meluncurkan Paket Kebijakan XV mengenai Pengembangan Usaha dan Daya Saing Penyedia Jasa Logistik. Dalam Siaran Persnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menjelaskan bahwa latar belakang pembuatan kebijakan ini melihat fenomena dimana porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40 persen pembentukan harga barang, dan di  dalam komponen terbesar biaya tersebut 72 persennya merupakan ongkos transportasi.

Isi Paket Kebijakan

Paket Kebijakan XV berisi antara lain:

  • Pemberian kesempatan meningkatkan peran dan skala usaha, dengan kebijakan yang memberikan peluang bisnis untuk angkutan dan asuransi nasional dalam mengangkut barang ekspor impor, serta meningkatkan usaha galangan kapal atau pemeliharaan kapal di dalam  negeri.
  • Kemudahan berusaha dan pengurangan beban biaya bagi usaha penyedia jasa logistik nasional, dengan kebijakan antara lain: (1) mengurangi biaya operasional jasa transportasi; (2) menghilangkan persyaratan perizinan angkutan barang; (3) meringankan biaya investasi usaha kepelabuhanan; (4) standarisasi dokumen arus barang dalam negeri; (5) mengembangkan pusat distribusi regional; (6) kemudahan pengadaan kapal tertentu; dan (7) mekanisme pengembalian biaya jaminan peti kemas.
  • Penguatan kelembagaan dan kewenangan Indonesia National Single Window (INSW) dengan kebijakan antara lain: (1) memberikan fungsi independensi badan INSW untuk dapat mengembangkan sistem elektronik pelayanan dan pengawasan ekspor impor, kepabeanan, dan kepelabuhan di seluruh Indonesia; (2) mengawasi kegiatan ekspor impor yang berpotensi sebagai "illegal trading”; (3) membangun "single risk management" untuk kelancaran arus barang dan penurunan dwelling time; dan (4) sebagai competent authority dalam integrasi ASEAN Single Window dan pengamanan pelaksanaan Free Trade Agreement (FTA).

Penyederhanaan tata niaga dimana pemerintah telah membentuk Tim Tata Niaga Ekspor Impor untuk mengurangi LARTAS (larangan terbatas) yang tinggi.

Tantangan sistem logistik

Tantangan sistem logistik  di wilayah Indonesia, yang memiliki kondisi geografis berbentuk kepulauan, telah menyebabkan berbagai permasalahan seperti disparitas harga dan fluktuasi atau kelangkaan stok barang yang kerap terjadi antarwilayah dan antarpulau. Paket Kebijakan XV tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem logistik, menguatkan kelembagaan dan kewenangan Indonesia National Single Window (INSW), meningkatkan daya saing perusahaan penyedia jasa logistik, serta memberi peluang perusahaan pemeliharaan kapal nasional, asuransi pelayaran dan pengusaha pelayaran agar berkembang untuk memangkas biaya logistik.

Paket kebijakan yang berfokus pada sistem logistik ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan daya beli masyarakat. Dengan terjaganya daya beli, konsumsi rumah tangga sebagai mesin utama pendorong pertumbuhan diperkirakan akan terus meningkat.

ISU UTAMA 2: Bank Sentral Amerika Serikat Menaikkan Suku Bunga Acuan

  • Bank Sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve, pada hari Rabu 14  Juni 2017 kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi   1%  -  1,25%.
  • Selain normalisasi kebijakan melalui target suku bunga, Bank sentral  AS juga berencana untuk melakukan normalisasi neracanya.
  • Kebijakan AS tersebut masih berpotensi untuk memberikan tekanan pada negara-negara berkembang seiring potensi beralihnya sebagian modal asing kembali ke AS.

The Fed menaikkan suku bunga

Bank Sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve, pada hari Rabu 14  Juni 2017 kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi   1%  -  1,25%. Langkah tersebut diambil oleh The Fed dengan mempertimbangkan kondisi pasar tenaga kerja yang cukup kuat serta inflasi yang stabil di kisaran 2 persen. Normalisasi kebijakan The Fed akan terus dilakukan dengan memperhatikan kondisi perekonomian terutama dengan terus mendorong pasar tenaga kerja menuju full employment.

Normalisasi neraca the Fed

Selain normalisasi kebijakan melalui target suku bunga, Bank sentral  AS juga berencana untuk melakukan normalisasi neracanya yang saat ini mencapai US$4,43 triliun dengan menguranginya secara bertahap. Kenaikan neraca pada masa sebelum krisis keuangan (Des 2007) sebesar US$0,8 triliun merupakan bagian dari kebijakan stimulus yang dilakukan oleh AS untuk memulihkan perekonomiannya di masa krisis. Kebijakan pengurangan neraca tersebut diperkirakan akan dapat berpengaruh pada meningkatnya yield obligasi AS yang pada gilirannya dapat memberikan tekanan pada naiknya yield obligasi di negara-negara berkembang seiring berpindahnya arus modal.

Potensi risiko

Dalam jangka pendek, kemungkinan terjadinya capital flight relatif masih minim. Hal tersebut dipengaruhi oleh interest rate differential yang dinilai masih cukup lebar. Selain itu, hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian Indonesia yang cukup kuat serta inflasi yang relatif terjaga. Perolehan status investment grade dari S&P juga semakin menandai persepsi yang positif mengenai perekonomian Indonesia.

Namun demikian dalam beberapa waktu ke depan, dengan pemulihan perekonomian AS yang masih berlanjut dan inflasi yang mulai meningkat, normalisasi kebijakan dengan menaikkan suku bunga diperkirakan masih akan berlanjut. Dalam kondisi normal, suku bunga AS diperkirakan akan berada di kisaran 1% di atas inflasi. Dengan porsi kepemilikan asing pada SUN yang mencapai 39,3% (per 15 Juni 2017), serta kepemilikan asing pada pasar saham di Indonesia yang mencapai sekitar 55% (mei 2017), naiknya suku bunga AS tersebut dapat berdampak pada beralihnya sebagian modal asing untuk kembali ke AS. Pada gilirannya, pemerintah bersama dengan otoritas kebijakan yang lain harus berupaya untuk tetap menjaga kepercayaan investor asing agar tetap berinvestasi di Indonesia, sehingga laju pertumbuhan ekonomi nasional tidak terhambat.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

“Optimisme global masih terjaga”

Perekonomian negara maju

Bank sentral AS, the Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 1 – 1,25 persen di tengah laju inflasi yang justru mengalami penurunan. The Fed juga mengumumkan penurunan perkiraan tingkat pengangguran dari 4,5 persen menjadi 4,3 persen, sementara tingkat inflasi direvisi turun dari 1,9 persen menjadi 1,6 persen. Rilis data terkini menunjukkan tingkat inflasi inti pada bulan Mei turun dari 1,9 persen menjadi 1,7 persen. Namun, penurunan tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara seiring meningkatnya belanja rumah tangga dan investasi bisnis di AS. Melihat perkembangan saat ini, The Fed meyakini pertumbuhan ekonomi AS pad tahun ini dapat mencapai 2,2 persen, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 2,1 persen. The Fed juga berencana mengurangi neraca keuangan senilai USD4,5 triliun pada tahun ini dan mengumumkan rencana pemangkasan kepemilikan obligasi dan sekuritas lainnya.

Laju inflasi kawasan Eropa melambat di bulan Mei terutama disebabkan oleh penurunan harga sektor energi. Inflasi inti juga melambat dibandingkan bulan April 2017, sejalan dengan perkiraan sebelumnya. Data lainnya menunjukkan surplus neraca perdagangan kawasan Eropa mengalami penurunan di bulan April didorong oleh penurunan ekspor yang lebih besar dibanding penurunan impor. 

Rilis data inflasi UK menunjukkan inflasi pada bulan Mei tercatat mengalami kenaikan sekaligus merupakan yang tertinggi sejak Juni 2013. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan biaya paket perjalanan ke luar negeri dan kenaikan biaya impor akibat pelemahan nilai tukar Poundsterling. Di sisi lain, Bank of England (BoE) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada level 0,25 persen dan program quantitative easing  (QE) senilai GBP 445 miliar. Namun,  tinginya laju inflasi dan ketidakpastian politik di UK diperkirakan akan mendorong BoE untuk menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan di bulan Agustus mendatang.

Bank of Japan (BoJ) mempertahanan suku bunga acuannya pada level -0,1 persen dan melanjutkan program pembelian aset dengan target JPY 8 triliun. Dalam kesempatan yang sama, BoJ juga menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan dengan ditopang oleh perbaikan pada sektor ketenagakerjaan dan tingkat upah yang terus berlanjut.

Perekonomian negara berkembang

Produksi sektor industri dan penjualan ritel di Tiongkok tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada bulan Mei 2017. Di sisi lain, investasi aset tetap mengalami perlambatan terutama disebabkan oleh penurunan investasi pada sektor properti dan konstruksi yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

Penjualan ritel di Brazil secara mengejutkan mencatatkan pertumbuhan di bulan April setelah dalam dua bulan terakhir mengalami penurunan. Pertumbuhan ini sejalan dengan pemulihan belanja konsumen yang ditopang oleh laju inflasi dan tingkat suku bunga yang rendah.

Inflasi India pada bulan Mei mengalami penurunan didorong penurunan harga bahan pangan di negara tersebut. Rendahnya laju inflasi tersebut memberikan peluang bagi bank sentral India untuk memangkas suku bunga acuannya pada pembahasan kebijakan moneter di bulan Agustus nanti. Dari sektor perdagangan, defisit neraca perdagangan India mencapai level tertingginya dalam 2,5 tahun terakhir. Tingginya defisit tersebut disebabkan oleh peningkatan impor logam mulia dan minyak mentah.

Perekonomian nasional

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 4,75 persen dengan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing tetap sebesar 4,00 persen dan 5,50 persen dengan tetap mewaspadai sejumlah risiko. Dari sisi global, kenaikan lanjutan Fed Fund Rate (FFR) dan rencana penurunan besaran neraca bank sentral AS, hasil Pemilu di Inggris, serta potensi menurunnya harga komoditas khususnya minyak dunia merupakan risiko yang tetap perlu diwaspadai. Dari sisi domestik, beberapa risiko yang tetap perlu dicermati adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi serta masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan.

Surplus neraca perdagangan Indonesia terus berlanjut di bulan Mei 2017 didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Surplus neraca perdagangan Mei 2017 tercatat sebesar USD 0,47 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus April 2017 yang sebesar USD 1,33 miliar. Surplus yang lebih rendah tersebut dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas yang lebih besar dibandingkan penurunan defisit pada neraca migas. Secara kumulatif pada bulan Januari s.d. Mei 2017, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar USD 5,90 miliar, lebih tinggi dibandingkan akumulasi pada periode yang sama tahun 2016 yang sebesar USD3,02 miliar.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2017 tercatat sebesar USD328,2 miliar atau tumbuh 2,4 persen yoy, lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan Maret 2017 yang mencapai 2,9 persen yoy. Berdasarkan kelompok peminjam, perlambatan pertumbuhan ULN pada April 2017 disebabkan oleh ULN sektor publik yang melambat dan ULN sektor swasta yang terus menurun. Berdasarkan jangka waktu, perlambatan ULN terjadi baik pada ULN berjangka panjang maupun berjangka pendek.

Perkembangan komoditas global

Harga minyak mentah global sepanjang pekan ini mengalami pelemahan mingguan yang cukup tajam disebabkan oleh volume pasokan minyak di AS yang berlimpah serta program pemangkasan minyak OPEC yang tidak mampu memberikan keyakinan pada pasar bahwa program tersebut dapat memberi pengaruh positif terhadap harga minyak mentah global. Di tengah tekanan yang dialami minyak mentah, harga batubara masih melanjutkan penguatan dipengaruhi oleh musim panas yang diperkirakan akan membuat permintaan batubara terutama di Amerika Serikat akan melonjak dalam beberapa waktu ke depan. Harga emas mengalami tekanan dan dalam jangka pendek diprediksi masih akan terbebani langkah pengetatan kebijakan moneter the Fed. Harga nikel tercatat mengalami penurunan akibat permintaan nikel untuk bahan baku baja di China mengalami penurunan. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami pelemahan tertekan oleh sentimen negatif pelemahan harga minyak mentah.

Perkembangan sektor keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup beragam merespon rilis data dan laporan ekonomi dan keuangan di berbagai kawasan serta keputusan the Fed yang menikkan tingkat suku bunga acuannnya sebesar 25 bps dan diikuti kebijakan pengetatan moneter. Di tengah kondisi yang dialami pasar modal global, posisi penutupan mingguan nilai tukar global terhadap Dolar AS bervariasi.

Dari pasar keuangan domestik, IHSG mencatatkan penguatan mingguan sebesar 0,85 persen dan ditutup pada level 5723,64. Di tengah penguatan, investor nonresiden membukukan aksi beli sebesar Rp172 miliar dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net buy  sebesar Rp19,73 triliun.

Di tengah penguatan IHSG, nilai tukar Rupiah mencatatkan pelemahan mingguan dan ditutup pada level Rp 13.299 per dolar AS. Pelemahan tersebut sejalan dengan pelemahan mata uang global dan kawasan kecuali Euro, Poundsterling, Real, Rubel, dollar singapura dan Baht. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga di level yang rendah. Hal ini tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami penurunan 2 s.d. 9 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia per tanggal 15 Juni 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp763,86 T (39,31%), atau secara nominal naik sebesar Rp2,79 triliun dibandingkan dengan pekan sebelumnya (8/6) yang mencapai Rp761,07 T (39,18%). Secara year to date kepemilikan nonresiden naik Rp98,06 triliun dan naik Rp7,71 triliun secara month to date.

ISU UTAMA 1: Paket Kebijakan XV Fokus Perbaikan Sistem Logistik

  • Pada hari Kamis, 15 Juni 2017 Pemerintah telah meluncurkan Paket Kebijakan XV mengenai Pengembangan Usaha dan Daya Saing Penyedia Jasa Logistik.
  • Paket Kebijakan berisi antara lain pemberian kesempatan meningkatkan peran dan skala usaha, kemudahan berusaha dan pengurangan beban biaya bagi usaha penyedia jasa logistic nasional, serta penguatan kelembagaan dan kewenangan Indonesia National Single Window (INSW).
  • Tantangan sistem logistik  di wilayah Indonesia, yang memiliki kondisi geografis berbentuk kepulauan, telah menyebabkan beragai permasalahan seperti disparitas harga dan fluktuasi atau kelangkaan stok barang.
  • Paket kebijakan yang berfokus pada sistem logistik ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan daya beli masyarakat.

Peluncuran Paket Kebijakan XV

Pada hari Kamis, 15 Juni 2017 Pemerintah telah meluncurkan Paket Kebijakan XV mengenai Pengembangan Usaha dan Daya Saing Penyedia Jasa Logistik. Dalam Siaran Persnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menjelaskan bahwa latar belakang pembuatan kebijakan ini melihat fenomena dimana porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40 persen pembentukan harga barang, dan di  dalam komponen terbesar biaya tersebut 72 persennya merupakan ongkos transportasi.

Isi Paket Kebijakan

Paket Kebijakan XV berisi antara lain:

  • Pemberian kesempatan meningkatkan peran dan skala usaha, dengan kebijakan yang memberikan peluang bisnis untuk angkutan dan asuransi nasional dalam mengangkut barang ekspor impor, serta meningkatkan usaha galangan kapal atau pemeliharaan kapal di dalam  negeri.
  • Kemudahan berusaha dan pengurangan beban biaya bagi usaha penyedia jasa logistik nasional, dengan kebijakan antara lain: (1) mengurangi biaya operasional jasa transportasi; (2) menghilangkan persyaratan perizinan angkutan barang; (3) meringankan biaya investasi usaha kepelabuhanan; (4) standarisasi dokumen arus barang dalam negeri; (5) mengembangkan pusat distribusi regional; (6) kemudahan pengadaan kapal tertentu; dan (7) mekanisme pengembalian biaya jaminan peti kemas.
  • Penguatan kelembagaan dan kewenangan Indonesia National Single Window (INSW) dengan kebijakan antara lain: (1) memberikan fungsi independensi badan INSW untuk dapat mengembangkan sistem elektronik pelayanan dan pengawasan ekspor impor, kepabeanan, dan kepelabuhan di seluruh Indonesia; (2) mengawasi kegiatan ekspor impor yang berpotensi sebagai "illegal trading”; (3) membangun "single risk management" untuk kelancaran arus barang dan penurunan dwelling time; dan (4) sebagai competent authority dalam integrasi ASEAN Single Window dan pengamanan pelaksanaan Free Trade Agreement (FTA).

Penyederhanaan tata niaga dimana pemerintah telah membentuk Tim Tata Niaga Ekspor Impor untuk mengurangi LARTAS (larangan terbatas) yang tinggi.

Tantangan sistem logistik

Tantangan sistem logistik  di wilayah Indonesia, yang memiliki kondisi geografis berbentuk kepulauan, telah menyebabkan berbagai permasalahan seperti disparitas harga dan fluktuasi atau kelangkaan stok barang yang kerap terjadi antarwilayah dan antarpulau. Paket Kebijakan XV tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem logistik, menguatkan kelembagaan dan kewenangan Indonesia National Single Window (INSW), meningkatkan daya saing perusahaan penyedia jasa logistik, serta memberi peluang perusahaan pemeliharaan kapal nasional, asuransi pelayaran dan pengusaha pelayaran agar berkembang untuk memangkas biaya logistik.

Paket kebijakan yang berfokus pada sistem logistik ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan daya beli masyarakat. Dengan terjaganya daya beli, konsumsi rumah tangga sebagai mesin utama pendorong pertumbuhan diperkirakan akan terus meningkat.

ISU UTAMA 2: Bank Sentral Amerika Serikat Menaikkan Suku Bunga Acuan

  • Bank Sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve, pada hari Rabu 14  Juni 2017 kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi   1%  -  1,25%.
  • Selain normalisasi kebijakan melalui target suku bunga, Bank sentral  AS juga berencana untuk melakukan normalisasi neracanya.
  • Kebijakan AS tersebut masih berpotensi untuk memberikan tekanan pada negara-negara berkembang seiring potensi beralihnya sebagian modal asing kembali ke AS.

The Fed menaikkan suku bunga

Bank Sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve, pada hari Rabu 14  Juni 2017 kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi   1%  -  1,25%. Langkah tersebut diambil oleh The Fed dengan mempertimbangkan kondisi pasar tenaga kerja yang cukup kuat serta inflasi yang stabil di kisaran 2 persen. Normalisasi kebijakan The Fed akan terus dilakukan dengan memperhatikan kondisi perekonomian terutama dengan terus mendorong pasar tenaga kerja menuju full employment.

Normalisasi neraca the Fed

Selain normalisasi kebijakan melalui target suku bunga, Bank sentral  AS juga berencana untuk melakukan normalisasi neracanya yang saat ini mencapai US$4,43 triliun dengan menguranginya secara bertahap. Kenaikan neraca pada masa sebelum krisis keuangan (Des 2007) sebesar US$0,8 triliun merupakan bagian dari kebijakan stimulus yang dilakukan oleh AS untuk memulihkan perekonomiannya di masa krisis. Kebijakan pengurangan neraca tersebut diperkirakan akan dapat berpengaruh pada meningkatnya yield obligasi AS yang pada gilirannya dapat memberikan tekanan pada naiknya yield obligasi di negara-negara berkembang seiring berpindahnya arus modal.

Potensi risiko

Dalam jangka pendek, kemungkinan terjadinya capital flight relatif masih minim. Hal tersebut dipengaruhi oleh interest rate differential yang dinilai masih cukup lebar. Selain itu, hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian Indonesia yang cukup kuat serta inflasi yang relatif terjaga. Perolehan status investment grade dari S&P juga semakin menandai persepsi yang positif mengenai perekonomian Indonesia.

Namun demikian dalam beberapa waktu ke depan, dengan pemulihan perekonomian AS yang masih berlanjut dan inflasi yang mulai meningkat, normalisasi kebijakan dengan menaikkan suku bunga diperkirakan masih akan berlanjut. Dalam kondisi normal, suku bunga AS diperkirakan akan berada di kisaran 1% di atas inflasi. Dengan porsi kepemilikan asing pada SUN yang mencapai 39,3% (per 15 Juni 2017), serta kepemilikan asing pada pasar saham di Indonesia yang mencapai sekitar 55% (mei 2017), naiknya suku bunga AS tersebut dapat berdampak pada beralihnya sebagian modal asing untuk kembali ke AS. Pada gilirannya, pemerintah bersama dengan otoritas kebijakan yang lain harus berupaya untuk tetap menjaga kepercayaan investor asing agar tetap berinvestasi di Indonesia, sehingga laju pertumbuhan ekonomi nasional tidak terhambat.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 25/KM.10/2017,   USD : 13,286.00    AUD : 10,090.98    GBP : 16,942.84    SGD : 9,603.04    JPY : 11,976.71    EUR : 14,842.85    CNY : 1,950.15