Daily Update : 21-08-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa saham AS ditutup melemah setelah salah satu penasihat utama Presiden Donald Trump, Steve Bannon, mengundurkan diri. Bannon terlibat dalam perseteruan dengan sejumlah penasihat utama Trump lainnya, seperti Chief Economic Advisor Gary Cohn dan National Security Advisor H.R. McMaster. Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah masing-masing 1,24 persen dan 1,54 persen. (CNBC)
  • Indeks harga produsen Jerman pada bulan Juli berada pada level 0,2 persen qoq atau 2,3 persen yoy. Pada bulan sebelumnya, indeks harga produsen Jerman berada pada level 0,0 persen. (WEC)

BERITA DOMESTIK

  • Pemerintah berencana menaikkan tarif cukai untuk hasil tembakau pada tahun 2018 mengikuti perkembangan asumsi makro ekonomi yaitu target pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Sejauh ini, Pemerintah masih akan melakukan pembicaraan dengan stakeholder terkait, mulai dari pelaku industri, petani, dan Kementerian Kesehatan. (Kontan)
  • Pemerintah akan menerbitkan surat berharga negara (SBN) di tahun 2018 dengan total bruto (gross) sebesar Rp 668,6 triliun. Jumlah tersebut turun 6,75 persen dibandingkan penerbitan SBN gross tahun ini yang sebesar Rp717 triliun. Penerbitan tersebut akan dilakukan melalui SBN valas dan SBN Rupiah. Penerbitan SBN masih akan didominasi oleh SBN Rupiah dengan  komposisi SBN valas sebesar 20 persen dan SBN Rupiah sebesar 80 persen. Namun demikian, porsi penerbitan SBN valas masih bisa diperbesar (upsize) hingga 25 persen dan maksimal hingga 30 persen. (Kontan)
  • Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan segera menyusun aturan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga sub-penyalur. Rencananya, peraturan ini juga akan menertibkan distribusi BBM secara eceran dengan menggunakan alat pompa, yang kerap disebut Pertamini. Selama ini Pertamini bermanfaat dalam menyalurkan BBM ke lokasi-lokasi yang belum dijangkau PT Pertamina (Persero) Namun, karena badan usaha ini tak memiliki izin, maka aktivitasnya dianggap ilegal. Selain itu, kegiatan operasional Pertamini pun terbilang tidak memiliki standarisasi yang baku, layaknya badan usaha penyaluran BBM yang resmi. Beleid tersebut nantinya tidak hanya mengatur standarisasi operasional pengecer, namun juga mengatur standar keselamatan dan legalitas badan usaha sub-penyalur. Di samping itu, pemerintah juga akan mengatur jumlah kapasitas penyaluran BBM yang bisa disalurkan sub-penyalur serta pemerintah juga akan memberlakukan batas margin tertinggi dari penjualan BBM. (CNNINdonesia)
  • Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat terdapat sekitar 300 industri yang sudah terdaftar sebagai pembeli (buyer) untuk mengikuti lelang gula kristal rafinasi. Jumlah industri yang tercatat sebagai pembeli sudah terdiri dari Industri Kecil dan Menengah (IKM) dan industri besar. Sementara, sampia saat ini total penjual (seller) sebanyak 11. Program lelang gula ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Perdagangan No. 684/M-DAG/KEP/5/2017 tentang Penetapan Penyelenggara Pasar Lelang Gula Kristal Rafinasi. (CNNIndonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 07-08-2017 s.d 13-08-2017 | Download File :

 

 

“Tekanan geopolitik global meningkat di tengah rilis data perekonomian global yang bervariasi”

Perekonomian Negara Maju

Laju inflasi AS pada bulan Juli tercatat lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, terutama dipengaruhi oleh penurunan komponen hotel dan penginapan. Selain itu, penurunan harga kendaraan yang terus berlanjut merefleksikan pelemahan penjualan otomotif. Komponen lainnya seperti pakaian, pelayanan medis, dan jasa transportasi menunjukkan adanya kenaikan.

Berdasarkan hasil survei Sentix, sentimen investor di kawasan Eropa tetap stabil pada bulan Agustus 2017 didorong oleh penguatan kondisi ekonomi kawasan saat ini. Namun, ekonomi diperkirakan mengalami perlambatan dalam beberapa bulan ke depan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi ekonomi AS dan potensi dari dampak skandal emisi mobil. Selain data tersebut, beberapa negara di kawasan juga merilis data laju inflasi bulan Juli pada pekan ini, di antaranya Perancis dan Jerman. Inflasi Perancis tercatat stabil di bulan Juli ditopang kenaikan harga bahan makanan dan energi sementara  inflasi Jerman naik ke level tertinggi dalam 3 bulan terakhir didorong oleh kenaikan harga bahan makanan, biaya sewa, dan energi.

Produksi industri UK mengalami pelemahan di Q2-2017, terutama didorong oleh produksi sektor manufaktur khususnya transportasi yang melingkupi produksi kendaraan bermotor. Produksi konstruksi juga mencatatkan kontraksi di Q2 seiring berkurangnya jumlah proyek baru dan kegiatan perbaikan serta pemeliharaan. Data lainnya menunjukkan defisit neraca perdagangan UK di bulan Juni semakin melebar. Peningkatan defisit tersebut terutama disebabkan oleh penurunan ekspor di tengah kenaikan impor.

Surplus neraca berjalan Jepang pada periode Januari – Juni 2017 mencatatkan level tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan investasi di luar negeri yang terus meningkat di tengah tingginya harga energi. Sementara itu, surplus neraca perdagangan Jepang mengalami penurunan akibat tingginya harga minyak mentah meskipun pertumbuhan peralatan semikonduktor dan suku cadang mencatatkan kenaikan.

Perekonomian Negara Berkembang

Moody's menilai tingkat default perusahaan non finansial yang memiliki risiko tinggi di Asia akan tetap berada di level rendah hingga akhir tahun 2017 yaitu di kisaran 2,9 persen.  Kondisi ini ditopang oleh membaiknya harga komoditas, normalisasi kebijakan moneter dan aktifnya pasar obligasi sehingga mampu mengurangi tekanan likuiditas dan menurunkan risiko gagal bayar. Kondisi ini sejalan dengan tren default portofolio global dan portofolio AS.

Tingkat harga konsumen Brazil meningkat 0,24 persen di bulan Juli secara mom atau 2,71 persen yoy. peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan harga perumahan dan transportasi yang melampaui penurunan harga barang konsumsi. Selain itu juga dipengaruhi oleh tingginya biaya listrik dan kenaikan pajak bahan bakar.

Tiongkok mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 46,74 miliar Yuan yang didorong oleh kenaikan ekspor sebesar 7,2 persen sedangkan impor naik 11 persen. Meski demikian, pertumbuhan tersebut lebih rendah dari perkiraan di mana ekspor diharapkan naik 10,9 persen dan impor 16,6 persen yang didorong adanya kenaikan inflasi. Pada bulan Juli, tingkat consumer price index tercatat sebesar 1,4 persen yoy atau 0,1 persen mom  sedangkan producer price index  tercatat meningkat sebesar 5,5 persen yoy.

Perekonomian Nasional

Perekonomian Indonesia pada Q2-2017 tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 5,01 persen yoy dan 4 persen qoq atau di bawah espektasi pasar yang sebelumnya mengharapkan PDB dapat mencapai 5,10 persen yoy dan 4,10 persen qoq. Hal ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya kinerja investasi bangunan dan nonbangunan. Investasi bangunan meningkat sejalan dengan berlanjutnya pembangunan konstruksi. Sedangkan investasi nonbangunan dibantu oleh tingginya harga komoditas. Dari sisi konsumsi, konsumsi rumah tangga relatif terjaga dipengaruhi faktor Lebaran sedangkan konsumsi Pemerintah melemah Karena pergeseran pengeluaran.

Posisi cadangan devisa Indonesia meningkat di bulan Juli menjadi sebesar US$127,76 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerbitan global bonds pemerintah, penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Surplus Neraca Pembayaran Indonesia menurun pada Q2-2017 menjadi sebesar US$ 739 juta dibandingkan kuartal I sebesar US$ 4,51 miliar. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya defisit transaksi berjalan seiring menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan meningkatnya defisit neraca jasa dan pendapatan primer.

Bank Indonesia mencatat kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Juli 2017 sebesar 1,0 poin dari bulan sebelumnya menjadi sebesar 123,4. Meningkatnya optimisme konsumen kali ini didukung oleh membaiknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi kegiatan usaha dan penghasilan serta ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang. Sementara itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini menurun, terutama untuk ketepatan waktu pembelian barang tahan lama (durable goods) dan penghasilan saat ini. Di sisi lain, persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini mengalami perbaikan meski masih berada pada level pesimis.

Perkembangan Komoditas Global

Perkembangan harga minyak mentah global pekan ini dipengaruhi oleh keraguan pelaku pasar apakah pemangkasan produksi minyak OPEC akan menurunkan pasokan global dengan cepat. Keraguan tersebut tercermin dari janji OPEC untuk memperkuat komitmen pemangkasan produksi di tengah menurunnya stok minyak mentah AS yang tidak mampu menjadi sentimen positif bagi kenaikan harga minyak pekan ini. Berbeda dengan dengan pelemahan harga yang dialami minyak mentah, harga batu bara mengalami penguatan sebagai dampak dari penurunan jumlah stok minyak mentah AS. Harga emas mengalami penguatan didorong oleh peningkatan permintaan pasar akibat ketegangan antara AS – Korea Utara. Harga nikel mengalami penguatan masih dipicu oleh spekulasi pemerintah Filipina yang akan membatasi produksi nikel dan akan menutup tambang-tambang yang tidak memenuhi aturan lingkungan. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami penguatan di tengah potensi kekeringan ladang kedelai AS.

Perkembangan Sektor Keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup bervariasi dipengaruhi oleh rilis data dan laporan ekonomi dan keuangan di berbagai kawasan serta konflik geopolitik antara AS dan Korea Utara mengenai rencana serangan nuklir ke Guam. Nilai tukar global juga bergerak bervariasi terhadap Dolar AS. Dari pasar keuangan domestik, IHSG tercatat mengalami pelemahan mingguan sebesar 0,20 persen dan ditutup pada level 5.766,138. Di tengah indeks yang mengalami penguatan mingguan, investor asing kembali mencatatkan net sell sebesar Rp1,67 triliun dalam sepekan walaupun secara ytd investor nonresiden masih mencatatkan net buy sebesar Rp4,29 triliun. Sejalan dengan melemahnya IHSG, nilai tukar Rupiah mengalami penguatan mingguan dan ditutup pada level Rp 13.361 per dolar AS, sejalan dengan penguatan mata uang global dan kawasan seperti Yen, Poundsterling, Rupee, Won, Ringgit dan Peso. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami penurunan sebesar 1 s.d. 4 bps selama sepekan. Di tengah penurunan yield, berdasarkan data setelmen BI per 27 Juli 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp783,61 T (39,31%), atau secara nominal naik Rp5 triliun dibandingkan posisi pada (4/8) yang sebesar Rp778,61 T (39,35%). Kepemilikan Asing naik Rp117.80 T (17.64%) secara ytd dan naik Rp8.07 T (1,04%) secara mtd?.

ISU UTAMA: Rilis Data Perekonomian Pekan ini Cukup Positif Ditopang oleh Neraca Pembayaran Indonesia yang Masih Melanjutkan Tren Positif, Sejalan dengan Rilis Survei Konsumen dan Harga Properti BI

  • Surplus neraca Pembayaran masih terjaga walaupun terpantau lebih rendah dibandingkan Q1-2017 dan Q2-2016
  • Defisit neraca perdagangan mengalami peningkatan dari Q1-2017 namun masih lebih rendah dibandingkan defisit pada Q2-2016 tertekan oleh meningkatnya impor menjelang puasa dan lebaran sementara ekspor mengalami penurunan
  • Surplus transaksi modal dan finansial mengalami peningkatan ditopang oleh membaiknya kepercayaan investor namun masih lebih rendah dibandingkan posisi pada Q1-2017 dan Q2-2016
  • Survei BI bulan Juli 2017 secara umum masih mengindikasikan perkembangan positif

 

Surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q2-2017

Neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal kedua tahun ini mencatatkan surplus USD0,7 miliar ditopang oleh surplus pada transaksi modal dan finansial yang lebih tinggi dibandingkan defisit pada transaksi berjalan. Perkembangan surplus NPI tersebut mendorong posisi cadangan devisa ke level Rp123,1 miliar, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp121,8 miliar dan Q2-2016 yang sebesar Rp107,5 miliar. Pada level tersebut, cadangan devisa diperkirakan cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri Pemerintah selama 8,6 bulan.

Defisit transaksi berjalan mengalami peningkatan

Dibandingkan posisi Q1-2017 yang berada di level Rp2,4 miliar, posisi defisit transaksi berjalan pada Q2-2017 terpantau meningkat ke level Rp5,0 miliar. Namun demikian, posisi defisit tersebut masih lebih baik dibandingkan Q2-2016 yang mencapai Rp5,2 miliar. Perkembangan neraca transaksi berjalan kali ini dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas akibat menurunnya ekspor non migas yang terjadi di tengah meningkatnya impor nonmigas. Meningkatnya impor nonmigas didorong oleh pemenuhan kebutuhan dalam negeri menjelang puasa dan lebaran. Peningkatan defisit cukup besar juga terjadi pada transaksi sektor jasa yang meningkat hampir dua kali lipat dari Rp1,3 milai ke level Rp2,3 miliar.

Surplus transaksi modal dan finansial meningkat

Kinerja NPI yang masih surplus ditunjang oleh kinerja transaksi modal dan finansial yang mencatatkan surplus cukup signifikan walaupun masih lebih rendah baik dibandingkan dengan Q1-2017 maupun Q2-2016. Surplus transaksi modal dan finansial berada di level Rp5,9 miliar terjaga oleh perbaikan persepsi dan kepercayaan investor terhadap perekonomian seiring diperolehnya kenaikan sovereign bonds rating Indonesia menjadi investment grade. Untuk transaksi modal perlu dicermati tren aksi jual investor non residen di pasar modal yang sejak Mei 2017 membukukan jual bersih dan masih berlanjut hingga saat ini.

Survei konsumen BI

Di tengah perkembangan ekonomi saat ini, masyarakat masih memiliki ekspektasi positif terhadap perkembangan kegiatan usaha dan penghasilan serta ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan ke depan. Sebagaimana tercermin dalam Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI bulan Juli, indeks meningkat dari 122,4 menjadi 123,4.  Dari sisi penjualan eceran, Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 6,3 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4,3 persen yoy. Sementara itu, tekanan harga di tingkat pedagang eceran dalam tiga bulan mendatang diperkirakan menurun, terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) yang meningkat dari 133,3 menjadi 138,3.

Pada pekan yang sama, BI merilis indeks sektor properti di mana Indeks Harga Properti Residen (IHPR) pada Q2-2017 tumbuh sebesar 1,18 persen qoq, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 1,23 persen. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan biaya perizinan yang memicu kenaikan harga rumah. Namun demikian, secara tahunan, IHPR meningkat menjadi 3,17 persen pada Q2-2017 dari kuartal sebelumnya yang sebesar 2,62. Pertumbuhan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah terutama rumah tipe kecil. Dari sisi penjualan, pertumbuhan penjualan properti residensial pada Q2-2017 mengalami perlambatan menjadi 3,61 persen qtq dibandingkan kuartal sebelumnya yang membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 4,16 persen. Faktor utama yang diperkirakan menekan penjualan adalah tingkat suku bunga KPR yang dinilai masih tinggi.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

“Tekanan geopolitik global meningkat di tengah rilis data perekonomian global yang bervariasi”

Perekonomian Negara Maju

Laju inflasi AS pada bulan Juli tercatat lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, terutama dipengaruhi oleh penurunan komponen hotel dan penginapan. Selain itu, penurunan harga kendaraan yang terus berlanjut merefleksikan pelemahan penjualan otomotif. Komponen lainnya seperti pakaian, pelayanan medis, dan jasa transportasi menunjukkan adanya kenaikan.

Berdasarkan hasil survei Sentix, sentimen investor di kawasan Eropa tetap stabil pada bulan Agustus 2017 didorong oleh penguatan kondisi ekonomi kawasan saat ini. Namun, ekonomi diperkirakan mengalami perlambatan dalam beberapa bulan ke depan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi ekonomi AS dan potensi dari dampak skandal emisi mobil. Selain data tersebut, beberapa negara di kawasan juga merilis data laju inflasi bulan Juli pada pekan ini, di antaranya Perancis dan Jerman. Inflasi Perancis tercatat stabil di bulan Juli ditopang kenaikan harga bahan makanan dan energi sementara  inflasi Jerman naik ke level tertinggi dalam 3 bulan terakhir didorong oleh kenaikan harga bahan makanan, biaya sewa, dan energi.

Produksi industri UK mengalami pelemahan di Q2-2017, terutama didorong oleh produksi sektor manufaktur khususnya transportasi yang melingkupi produksi kendaraan bermotor. Produksi konstruksi juga mencatatkan kontraksi di Q2 seiring berkurangnya jumlah proyek baru dan kegiatan perbaikan serta pemeliharaan. Data lainnya menunjukkan defisit neraca perdagangan UK di bulan Juni semakin melebar. Peningkatan defisit tersebut terutama disebabkan oleh penurunan ekspor di tengah kenaikan impor.

Surplus neraca berjalan Jepang pada periode Januari – Juni 2017 mencatatkan level tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan investasi di luar negeri yang terus meningkat di tengah tingginya harga energi. Sementara itu, surplus neraca perdagangan Jepang mengalami penurunan akibat tingginya harga minyak mentah meskipun pertumbuhan peralatan semikonduktor dan suku cadang mencatatkan kenaikan.

Perekonomian Negara Berkembang

Moody's menilai tingkat default perusahaan non finansial yang memiliki risiko tinggi di Asia akan tetap berada di level rendah hingga akhir tahun 2017 yaitu di kisaran 2,9 persen.  Kondisi ini ditopang oleh membaiknya harga komoditas, normalisasi kebijakan moneter dan aktifnya pasar obligasi sehingga mampu mengurangi tekanan likuiditas dan menurunkan risiko gagal bayar. Kondisi ini sejalan dengan tren default portofolio global dan portofolio AS.

Tingkat harga konsumen Brazil meningkat 0,24 persen di bulan Juli secara mom atau 2,71 persen yoy. peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan harga perumahan dan transportasi yang melampaui penurunan harga barang konsumsi. Selain itu juga dipengaruhi oleh tingginya biaya listrik dan kenaikan pajak bahan bakar.

Tiongkok mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 46,74 miliar Yuan yang didorong oleh kenaikan ekspor sebesar 7,2 persen sedangkan impor naik 11 persen. Meski demikian, pertumbuhan tersebut lebih rendah dari perkiraan di mana ekspor diharapkan naik 10,9 persen dan impor 16,6 persen yang didorong adanya kenaikan inflasi. Pada bulan Juli, tingkat consumer price index tercatat sebesar 1,4 persen yoy atau 0,1 persen mom  sedangkan producer price index  tercatat meningkat sebesar 5,5 persen yoy.

Perekonomian Nasional

Perekonomian Indonesia pada Q2-2017 tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 5,01 persen yoy dan 4 persen qoq atau di bawah espektasi pasar yang sebelumnya mengharapkan PDB dapat mencapai 5,10 persen yoy dan 4,10 persen qoq. Hal ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya kinerja investasi bangunan dan nonbangunan. Investasi bangunan meningkat sejalan dengan berlanjutnya pembangunan konstruksi. Sedangkan investasi nonbangunan dibantu oleh tingginya harga komoditas. Dari sisi konsumsi, konsumsi rumah tangga relatif terjaga dipengaruhi faktor Lebaran sedangkan konsumsi Pemerintah melemah Karena pergeseran pengeluaran.

Posisi cadangan devisa Indonesia meningkat di bulan Juli menjadi sebesar US$127,76 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerbitan global bonds pemerintah, penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Surplus Neraca Pembayaran Indonesia menurun pada Q2-2017 menjadi sebesar US$ 739 juta dibandingkan kuartal I sebesar US$ 4,51 miliar. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya defisit transaksi berjalan seiring menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan meningkatnya defisit neraca jasa dan pendapatan primer.

Bank Indonesia mencatat kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Juli 2017 sebesar 1,0 poin dari bulan sebelumnya menjadi sebesar 123,4. Meningkatnya optimisme konsumen kali ini didukung oleh membaiknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi kegiatan usaha dan penghasilan serta ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang. Sementara itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini menurun, terutama untuk ketepatan waktu pembelian barang tahan lama (durable goods) dan penghasilan saat ini. Di sisi lain, persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini mengalami perbaikan meski masih berada pada level pesimis.

Perkembangan Komoditas Global

Perkembangan harga minyak mentah global pekan ini dipengaruhi oleh keraguan pelaku pasar apakah pemangkasan produksi minyak OPEC akan menurunkan pasokan global dengan cepat. Keraguan tersebut tercermin dari janji OPEC untuk memperkuat komitmen pemangkasan produksi di tengah menurunnya stok minyak mentah AS yang tidak mampu menjadi sentimen positif bagi kenaikan harga minyak pekan ini. Berbeda dengan dengan pelemahan harga yang dialami minyak mentah, harga batu bara mengalami penguatan sebagai dampak dari penurunan jumlah stok minyak mentah AS. Harga emas mengalami penguatan didorong oleh peningkatan permintaan pasar akibat ketegangan antara AS – Korea Utara. Harga nikel mengalami penguatan masih dipicu oleh spekulasi pemerintah Filipina yang akan membatasi produksi nikel dan akan menutup tambang-tambang yang tidak memenuhi aturan lingkungan. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami penguatan di tengah potensi kekeringan ladang kedelai AS.

Perkembangan Sektor Keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup bervariasi dipengaruhi oleh rilis data dan laporan ekonomi dan keuangan di berbagai kawasan serta konflik geopolitik antara AS dan Korea Utara mengenai rencana serangan nuklir ke Guam. Nilai tukar global juga bergerak bervariasi terhadap Dolar AS. Dari pasar keuangan domestik, IHSG tercatat mengalami pelemahan mingguan sebesar 0,20 persen dan ditutup pada level 5.766,138. Di tengah indeks yang mengalami penguatan mingguan, investor asing kembali mencatatkan net sell sebesar Rp1,67 triliun dalam sepekan walaupun secara ytd investor nonresiden masih mencatatkan net buy sebesar Rp4,29 triliun. Sejalan dengan melemahnya IHSG, nilai tukar Rupiah mengalami penguatan mingguan dan ditutup pada level Rp 13.361 per dolar AS, sejalan dengan penguatan mata uang global dan kawasan seperti Yen, Poundsterling, Rupee, Won, Ringgit dan Peso. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami penurunan sebesar 1 s.d. 4 bps selama sepekan. Di tengah penurunan yield, berdasarkan data setelmen BI per 27 Juli 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp783,61 T (39,31%), atau secara nominal naik Rp5 triliun dibandingkan posisi pada (4/8) yang sebesar Rp778,61 T (39,35%). Kepemilikan Asing naik Rp117.80 T (17.64%) secara ytd dan naik Rp8.07 T (1,04%) secara mtd?.

ISU UTAMA: Rilis Data Perekonomian Pekan ini Cukup Positif Ditopang oleh Neraca Pembayaran Indonesia yang Masih Melanjutkan Tren Positif, Sejalan dengan Rilis Survei Konsumen dan Harga Properti BI

  • Surplus neraca Pembayaran masih terjaga walaupun terpantau lebih rendah dibandingkan Q1-2017 dan Q2-2016
  • Defisit neraca perdagangan mengalami peningkatan dari Q1-2017 namun masih lebih rendah dibandingkan defisit pada Q2-2016 tertekan oleh meningkatnya impor menjelang puasa dan lebaran sementara ekspor mengalami penurunan
  • Surplus transaksi modal dan finansial mengalami peningkatan ditopang oleh membaiknya kepercayaan investor namun masih lebih rendah dibandingkan posisi pada Q1-2017 dan Q2-2016
  • Survei BI bulan Juli 2017 secara umum masih mengindikasikan perkembangan positif

 

Surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q2-2017

Neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal kedua tahun ini mencatatkan surplus USD0,7 miliar ditopang oleh surplus pada transaksi modal dan finansial yang lebih tinggi dibandingkan defisit pada transaksi berjalan. Perkembangan surplus NPI tersebut mendorong posisi cadangan devisa ke level Rp123,1 miliar, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp121,8 miliar dan Q2-2016 yang sebesar Rp107,5 miliar. Pada level tersebut, cadangan devisa diperkirakan cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri Pemerintah selama 8,6 bulan.

Defisit transaksi berjalan mengalami peningkatan

Dibandingkan posisi Q1-2017 yang berada di level Rp2,4 miliar, posisi defisit transaksi berjalan pada Q2-2017 terpantau meningkat ke level Rp5,0 miliar. Namun demikian, posisi defisit tersebut masih lebih baik dibandingkan Q2-2016 yang mencapai Rp5,2 miliar. Perkembangan neraca transaksi berjalan kali ini dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas akibat menurunnya ekspor non migas yang terjadi di tengah meningkatnya impor nonmigas. Meningkatnya impor nonmigas didorong oleh pemenuhan kebutuhan dalam negeri menjelang puasa dan lebaran. Peningkatan defisit cukup besar juga terjadi pada transaksi sektor jasa yang meningkat hampir dua kali lipat dari Rp1,3 milai ke level Rp2,3 miliar.

Surplus transaksi modal dan finansial meningkat

Kinerja NPI yang masih surplus ditunjang oleh kinerja transaksi modal dan finansial yang mencatatkan surplus cukup signifikan walaupun masih lebih rendah baik dibandingkan dengan Q1-2017 maupun Q2-2016. Surplus transaksi modal dan finansial berada di level Rp5,9 miliar terjaga oleh perbaikan persepsi dan kepercayaan investor terhadap perekonomian seiring diperolehnya kenaikan sovereign bonds rating Indonesia menjadi investment grade. Untuk transaksi modal perlu dicermati tren aksi jual investor non residen di pasar modal yang sejak Mei 2017 membukukan jual bersih dan masih berlanjut hingga saat ini.

Survei konsumen BI

Di tengah perkembangan ekonomi saat ini, masyarakat masih memiliki ekspektasi positif terhadap perkembangan kegiatan usaha dan penghasilan serta ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan ke depan. Sebagaimana tercermin dalam Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI bulan Juli, indeks meningkat dari 122,4 menjadi 123,4.  Dari sisi penjualan eceran, Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 6,3 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4,3 persen yoy. Sementara itu, tekanan harga di tingkat pedagang eceran dalam tiga bulan mendatang diperkirakan menurun, terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) yang meningkat dari 133,3 menjadi 138,3.

Pada pekan yang sama, BI merilis indeks sektor properti di mana Indeks Harga Properti Residen (IHPR) pada Q2-2017 tumbuh sebesar 1,18 persen qoq, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 1,23 persen. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan biaya perizinan yang memicu kenaikan harga rumah. Namun demikian, secara tahunan, IHPR meningkat menjadi 3,17 persen pada Q2-2017 dari kuartal sebelumnya yang sebesar 2,62. Pertumbuhan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah terutama rumah tipe kecil. Dari sisi penjualan, pertumbuhan penjualan properti residensial pada Q2-2017 mengalami perlambatan menjadi 3,61 persen qtq dibandingkan kuartal sebelumnya yang membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 4,16 persen. Faktor utama yang diperkirakan menekan penjualan adalah tingkat suku bunga KPR yang dinilai masih tinggi.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 32/KM.10/2017,   USD : 13,337.00    AUD : 10,524.71    GBP : 17,334.11    SGD : 9,789.34    JPY : 12,160.44    EUR : 15,716.38    CNY : 1,994.82