Daily Update : 16-10-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa AS ditutup menguat pada akhir pecan lalu dengan Nasdaq mencatatkan rekor tertinggi seiring rilis laporan laba perusahaan kuartal ketiga yang melebihi ekspektasi. Indeks Dow Jones dan S&P 500 masing masing menguat sebesar 0,13 persen dan 0,09 persen. (Kontan)
  • Inflasi AS tercatat mengalami kenaikan pada bulan September 2017 dari 1,9 persen yoy menjadi 2,2, persen yoy. Kenaikan ini  dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar gas pasca badai yang menerjang area penyulingan minyak mentah, Gulf Coast. Kenaikan harga juga terjadi di sektor pakaian, asuransi, dan jasa wireless. (CNBC)
  • Rilis data AS menyatakan pertumbuhan penjualan ritel AS bulan September 2017 naik tajam menjadi 1,6 persen, setelah sebelumnya tercatat negatif 0,1 persen. Pembelian bahan bangunan, mobil dan gas menjadi faktor utama peningkatan penjualan retail di negara tersebut. (Reuters)
  • IMF dan ASEAN +3 Macroeconomic Research Office (AMRO) sepakat untuk meningkatkan kerja sama untuk mendukung tujuan regional serta menjaga stabilitas keuangan global. Peningkatan kerja sama dan pertukaran informasi merupakan upaya untuk mendukung analisis ekonomi regional dan global secara mendalam. Melalui penandatanganan nota kesepahaman tersebut, IMF dan AMRO akan melanjutkan upaya untuk mempromosikan tujuan bersama di tingkat regional dan stabilitas keuangan global dengan saling menukar keahlian. (Antaranews)

BERITA DOMESTIK

  • Pemerintah sedang menyusun Peraturan Pemerintah (PP) turunan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak, khususnya Pasal 18 mengenai perlakuan atas harta yang belum atau kurang diungkap di Surat Pernyataan Harta (SPH) amnesti pajak. Aturan turunan tersebut akan mengatur bagaimana mekanisme penerbitan dan tarifnya untuk semua wajib pajak (WP), termasuk selebgram. Untuk membidik para selebgram membayar pajak, DJP mengembangkan manajemen penanganan WP berbasis risiko atau compliance risk management (CRM) sebagai bagian dari upaya reformasi perpajakan. CRM juga akan diperkaya data pihak ketiga yang dimiliki DJP dari instansi lain. (Investor Daily)
  • Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) meluncurkan aplikasi Laporan Akuntansi Usaha Mikro (Lamikro) untuk para pelaku usaha mikro dan yang baru memulai usaha atau wirausaha pemula. Aplikasi Lamikro ditujukan bagi pelaku usaha mikro atau wirausaha pemula agar memiliki laporan keuangan secara baik dan tertib administrasi. Lamikro merupakan aplikasi pembukuan akuntansi sederhana untuk usaha mikro yang bisa digunakan melalui ponsel pintar dengan sistem operasi Android. Selain mendorong pelaku usaha menggunakan aplikasi Lamikro, Kemenkop dan UKM juga tengah berupaya agar pelaku usaha mikro taat administrasi. Salah satunya dengan mendorong pembuatan nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan pembuatan izin usaha mikro kecil (IUMK). (Kompas)
  • Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) sampai dengan Agustus 2017, jumlah kartu kredit yang beredar turun sebanyak 212.479 keping, menjadi 16,89 juta kartu. Meskipun demikian, volume transaksi kartu kredit masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,27 persen menjadi 27,01 juta transaksi. Sementara itu, nilai nominal transaksi juga masih mengalami peningkatan dengan tumbuh sebesar 5,68 persen yoy menjadi Rp25,1 T pada akhir Agustus 2017. (Kontan)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 02-10-2017 s.d 08-10-2017 | Download File :

 

 

Proposal Pajak Trump dan potensi kenaikan Fed Fund Rate memberikan tekanan global

Highlight Minggu Ini

  • Indeks bursa saham Wall Street pada Kamis, 5 Oktober 2017, sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa
  • Nilai dollar Amerika Serikat selama tujuh minggu terakhir mengalami tren penguatan
  • Inflasi Indonesia pada bulan September 2017 sebesar 0,13 persen atau 3,72 persen yoy
  • Peringkat daya saing Indonesia meningkat dari peringkat 41 menjadi 36 dalam laporan terkini Global Competitiveness Index

Perekonomian Negara Maju

Perkembangan terkini akan proposal penurunan tarif Pajak AS oleh Trump serta meningkatnya probabilitas kenaikan Fed Fund Rate pada akhir tahun 2017 memberikan tekanan pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia

Bursa saham Wall Street ditutup beragam pekan ini setelah pasar tenaga kerja AS mengalami kontraksi pertamanya dalam tujuh tahun terakhir. Indeks Dow melemah 0,01 persen, Indeks S&P 500 ditutup turun 0,11 persen, Sementara itu indeks komposit Nasdaq meningkat 0,07 persen. Sebelumnya, Optimisme investor seputar reformasi pajak AS dan ekonomi global memicu bursa Wall Street kembali memperbarui rekornya di perdagangan selama empat hari berturut-turut dan mecapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Penguatan dolar selama tujuh minggu terakhir didukung oleh ekspektasi tingkat suku bunga the Fed pada akhir tahun ini serta ekspektasi perkembangan reformasi pajak AS. Dolar juga menguat setelah rilis data menunjukkan bahwa pesanan untuk barang modal inti pada bulan Agustus lebih tinggi dari yang dilaporkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan pengeluaran bisnis yang kuat dapat membantu mengimbangi beberapa hambatan ekonomi pasca Badai Harvey dan Irma.

Pertumbuhan ekonomi Inggris untuk Q2-2017 tercatat sebesar 1,5 persen, lebih rendah dibanding estimasi sebelumnya yang sebesar 1,7 persen. Hal ini disebabkan oleh adanya pelemahan industri jasa di negara tersebut. Meskipun demikian, Bank of England tetap bersiap untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahuh terakhir.

Penjualan ritel Kawasan Eropa tumbuh melambat hingga -0,5 persen mom atau 1,2 persen yoy pada bulan September setelah sebelumnya tumbuh sebesar -0,3 persen moa tau 2,3 persen yoy. Penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan penjualan makanan, minuman dan rokok.

Perekonomian Negara Berkembang

Neraca perdagangan Brazil kembali mencatatkan surplus sebesar BRL5,18 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus yang tercatat pada bulan lalu sebesar BRL5,60 miliar. Surplus ini didukung oleh peningkatan ekspor pada barang semi-manufaktur seperti gula, besi dan baja serta tembaga katoda.

Bank Sentral India memepertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 6 persen, tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dengan membiarkan tingkat inflasi bergerak naik sesuai dengan prediksi pada angka 6,7 persen hingga akhir tahun 2017.

Perkembangan Komoditas Global

Harga minyak mentah global pekan ini kembali melemah setelah investor memantau badai tropis yang bergerak menuju Teluk Meksiko dan pasar Tiongkok yang tutup untuk liburan umum selama sepekan. Harga batu bara secara mingguan mengalami penguatan didorong oleh pembangunan beberapa pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Asia yang sudah memasuki tahap commissioning. Harga emas mengalami pelemahan mingguan setelah investor menunggu rencana the Fed terkait suku bunga. Harga nikel mengalami penguatan didorong oleh reformasi tambang di Tiongkok. Dari sisi komoditas perkebunan, harga CPO menguat yang dipicu oleh survei yang mengindikasikan bahwa peningkatan jumlah persediaan tidak terlalu mengkhawatirkan pasar.

Perkembangan Sektor Keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup bervariasi sejalan dengan pergerakan nilai tukar global terhadap Dolar AS, yang dipengaruhi oleh rilis data laporan ekonomi dan keuangan serta perkembangan geopolitik global. Dari pasar keuangan domestik, IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 0,08 persen dan ditutup pada level 5.905,378. Di tengah perkembangan positif tersebut, investor nonresiden kembali mencatatkan net sell sebesar Rp3,77 triliun dalam sepekan dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net sell  sebesar Rp14,50 triliun. Nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan mingguan, berada di level Rp13.519 per USD atau melemah 0,35 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami kenaikan sebesar 11 s.d. 16 bps selama sepekan. Sejalan dengan kenaikan yield, berdasarkan data setelmen BI per 5 Oktober 2017 minat beli investor nonresiden masih tinggi. Kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp807.95 T (39.21 persen) atau secara nominal turun Rp16,52 triliun dibandingkan dengan posisi pada (29/9) yang sebesar Rp824.47 T (40.28 persen). Kepemilikan Non Residen naik Rp142.14 T (21.35%) secara year to date (ytd) dan turun Rp11.42 T (1.39%) secara month to date (mtd)?.

Perekonomian Nasional

Bank Dunia menurunkan prediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia menjadi 5,1 persen pada tahun 2017 dari sebelumnya yang diprediksi mencapai 5,2 persen. Bank Dunia menyatakan, tingkat pertumbuhan PDB cenderung stabil sepanjang kuartal I dan II karena bertahan di level 5 persen yang sudah terlihat sejak kuartal I 2014 lalu. Namun, stakeholder perlu memperhatikan level pertumbuhan PDB yang stagnan. Selain itu, Bank Dunia juga memproyeksi pertumbuhan PDB 2018 tetap pada posisi 5,3 persen karena kondisi ekonomi dalam negeri yang dinilai lebih kuat dan ditambah dukungan perekonomian global. Kuatnya perekonomian domestik didorong oleh reformasi perekonomian yang terus berlanjut dan secara bertahap mulai memberikan dampak.

Rilis data BPS memperlihatkan pada bulan September 2017 terjadi inflasi sebesar 0,13 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 130,08. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–September) 2017 sebesar 2,66 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2017 terhadap September 2016 sebesar 3,72 persen.

Uang beredar dalam arti luas atau M2 pada bulan Agustus 2017 tercatat sebesar Rp5.218,5 triliun atau tumbuh sebesar 10,0 persen (yoy), lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,5 persen (yoy). Berdasarkan komponennya, peningkatan pertumbuhan M2 tersebut terutama bersumber dari komponen uang kuasi yang tumbuh meningkat dari 8,2 persen (yoy) pada bulan Juli 2017 menjadi 9,1 persen (yoy). Berdasarkan faktor yang memengaruhi, peningkatan pertumbuhan M2 dipengaruhi oleh ekspansi operasi keuangan Pemerintah Pusat (Pempus) dan akselerasi pertumbuhan kredit perbankan.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan September 2017 tercatat sebesar 123,8, lebih tinggi dari bulan Agustus 2017 yang sebesar 121,9. Meningkatnya optimisme konsumen tersebut terutama didorong oleh ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan kegiatan usaha. Sejalan dengan meningkatnya optimisme konsumen, rasio pengeluaran untuk konsumsi juga meningkat. Hasil survei menunjukkan rata-rata rasio pengeluaran konsumsi masyarakat pada September 2017 sebesar 66,4 persen, atau meningkat dibandingkan dengan 63,8 persen pada bulan sebelumnya. Sebaliknya, rasio pengeluaran untuk pembayaran cicilan pinjaman dan rasio untuk tabungan masing-masing mengalami penurunan.

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2017 tercatat USD129,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2017 yang sebesar USD128,8 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian pemerintah, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

ISU UTAMA 1: Tekanan Terhadap Rupiah Hanya Sementara

  • Rupiah kembali melemah pada minggu pertama Oktober 2017
  • Tren pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS terjadi secara global
  • Tingkat inflasi yang terkendali dan suku bunga real yang relatif tinggi masih menjadi daya tarik Indonesia
  • Rupiah diperkirakan masih akan tertekan tetapi tidak berlangsung lama

Tren Rupiah masih melemah

Pergerakan Rupiah pada minggu pertama bulan Oktober 2017 kembali menunjukkan trend pelemahan yang sudah dimulai pada minggu sebelumnya. Pada minggu tersebut Rupiah melemah sebesar 0,35 persen wow dan untuk pertama kalinya sepanjang tahun ini melemah secara year to date sebesar 0,34 persen. Posisi Rupiah pada 3 Oktober sejauh ini merupakan yang terlemah di tahun ini yaitu Rp13.542 per USD1.

Tren pelemahan nilai tukar terjadi secara global

Tren pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 1-2 minggu terakhir ini terjadi secara global, bukan hanya pada Rupiah. Gambar 1 memperlihatkan tren pelemahan nilai tukar selama 2 minggu berturut-turut beberapa negara peer Indonesia terhadap dolar AS. Penyebab utama situasi ini diyakini karena proposal penurunan pajak, baik untuk korporasi maupun perseorangan, oleh Presiden Donald Trump yang sepertinya mendapat dukungan parlemen AS. Penyebab utama lain menguatnya nilai tukar dolar AS adalah pernyataan The Fed terkait kemungkinan peningkatan Fed Fund Rate pada bulan Desember tahun ini.

Tekanan diperkirakan masih berlanjut tetapi tidak berlangsung lama

Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, dan mata uang peers lainnya, diperkirakan masih akan berlanjut tetapi tidak akan berlangsung lama. Beberapa alasan keyakinan tersebut adalah terkendalinya tingkat inflasi dan relatif tingginya suku bunga real Indonesia. BPS baru saja merilis besaran inflasi untuk bulan September yaitu sebesar 0,13 persen atau 3,72 persen yoy. Besaran inflasi sampai dengan akhir tahun diperkirakan akan sedikit di bawah asumsi makro APBNP 2017 yang sebesar 4,3 persen. Room bagi BI untuk mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga acuan, apabila dipandang perlu, dinilai masih cukup.

Demikian halnya dengan perbandingan dengan negara peers untuk suku bunga real dan spread imbal hasil antara Surat Berharga Negara dan US Treasury 10 tahun. Indonesia masih termasuk memiliki daya tarik terbaik untuk kategori emerging market (lihat Gambar 2). Praktis hanya Brazil yang saat ini relatif lebih baik dibanding Indonesia itu pun dengan catatan risiko di Brazil yang memang lebih tinggi dibanding Indonesia.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

Proposal Pajak Trump dan potensi kenaikan Fed Fund Rate memberikan tekanan global

Highlight Minggu Ini

  • Indeks bursa saham Wall Street pada Kamis, 5 Oktober 2017, sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa
  • Nilai dollar Amerika Serikat selama tujuh minggu terakhir mengalami tren penguatan
  • Inflasi Indonesia pada bulan September 2017 sebesar 0,13 persen atau 3,72 persen yoy
  • Peringkat daya saing Indonesia meningkat dari peringkat 41 menjadi 36 dalam laporan terkini Global Competitiveness Index

Perekonomian Negara Maju

Perkembangan terkini akan proposal penurunan tarif Pajak AS oleh Trump serta meningkatnya probabilitas kenaikan Fed Fund Rate pada akhir tahun 2017 memberikan tekanan pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia

Bursa saham Wall Street ditutup beragam pekan ini setelah pasar tenaga kerja AS mengalami kontraksi pertamanya dalam tujuh tahun terakhir. Indeks Dow melemah 0,01 persen, Indeks S&P 500 ditutup turun 0,11 persen, Sementara itu indeks komposit Nasdaq meningkat 0,07 persen. Sebelumnya, Optimisme investor seputar reformasi pajak AS dan ekonomi global memicu bursa Wall Street kembali memperbarui rekornya di perdagangan selama empat hari berturut-turut dan mecapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Penguatan dolar selama tujuh minggu terakhir didukung oleh ekspektasi tingkat suku bunga the Fed pada akhir tahun ini serta ekspektasi perkembangan reformasi pajak AS. Dolar juga menguat setelah rilis data menunjukkan bahwa pesanan untuk barang modal inti pada bulan Agustus lebih tinggi dari yang dilaporkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan pengeluaran bisnis yang kuat dapat membantu mengimbangi beberapa hambatan ekonomi pasca Badai Harvey dan Irma.

Pertumbuhan ekonomi Inggris untuk Q2-2017 tercatat sebesar 1,5 persen, lebih rendah dibanding estimasi sebelumnya yang sebesar 1,7 persen. Hal ini disebabkan oleh adanya pelemahan industri jasa di negara tersebut. Meskipun demikian, Bank of England tetap bersiap untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahuh terakhir.

Penjualan ritel Kawasan Eropa tumbuh melambat hingga -0,5 persen mom atau 1,2 persen yoy pada bulan September setelah sebelumnya tumbuh sebesar -0,3 persen moa tau 2,3 persen yoy. Penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan penjualan makanan, minuman dan rokok.

Perekonomian Negara Berkembang

Neraca perdagangan Brazil kembali mencatatkan surplus sebesar BRL5,18 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus yang tercatat pada bulan lalu sebesar BRL5,60 miliar. Surplus ini didukung oleh peningkatan ekspor pada barang semi-manufaktur seperti gula, besi dan baja serta tembaga katoda.

Bank Sentral India memepertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 6 persen, tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dengan membiarkan tingkat inflasi bergerak naik sesuai dengan prediksi pada angka 6,7 persen hingga akhir tahun 2017.

Perkembangan Komoditas Global

Harga minyak mentah global pekan ini kembali melemah setelah investor memantau badai tropis yang bergerak menuju Teluk Meksiko dan pasar Tiongkok yang tutup untuk liburan umum selama sepekan. Harga batu bara secara mingguan mengalami penguatan didorong oleh pembangunan beberapa pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Asia yang sudah memasuki tahap commissioning. Harga emas mengalami pelemahan mingguan setelah investor menunggu rencana the Fed terkait suku bunga. Harga nikel mengalami penguatan didorong oleh reformasi tambang di Tiongkok. Dari sisi komoditas perkebunan, harga CPO menguat yang dipicu oleh survei yang mengindikasikan bahwa peningkatan jumlah persediaan tidak terlalu mengkhawatirkan pasar.

Perkembangan Sektor Keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup bervariasi sejalan dengan pergerakan nilai tukar global terhadap Dolar AS, yang dipengaruhi oleh rilis data laporan ekonomi dan keuangan serta perkembangan geopolitik global. Dari pasar keuangan domestik, IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 0,08 persen dan ditutup pada level 5.905,378. Di tengah perkembangan positif tersebut, investor nonresiden kembali mencatatkan net sell sebesar Rp3,77 triliun dalam sepekan dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net sell  sebesar Rp14,50 triliun. Nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan mingguan, berada di level Rp13.519 per USD atau melemah 0,35 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami kenaikan sebesar 11 s.d. 16 bps selama sepekan. Sejalan dengan kenaikan yield, berdasarkan data setelmen BI per 5 Oktober 2017 minat beli investor nonresiden masih tinggi. Kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp807.95 T (39.21 persen) atau secara nominal turun Rp16,52 triliun dibandingkan dengan posisi pada (29/9) yang sebesar Rp824.47 T (40.28 persen). Kepemilikan Non Residen naik Rp142.14 T (21.35%) secara year to date (ytd) dan turun Rp11.42 T (1.39%) secara month to date (mtd)?.

Perekonomian Nasional

Bank Dunia menurunkan prediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia menjadi 5,1 persen pada tahun 2017 dari sebelumnya yang diprediksi mencapai 5,2 persen. Bank Dunia menyatakan, tingkat pertumbuhan PDB cenderung stabil sepanjang kuartal I dan II karena bertahan di level 5 persen yang sudah terlihat sejak kuartal I 2014 lalu. Namun, stakeholder perlu memperhatikan level pertumbuhan PDB yang stagnan. Selain itu, Bank Dunia juga memproyeksi pertumbuhan PDB 2018 tetap pada posisi 5,3 persen karena kondisi ekonomi dalam negeri yang dinilai lebih kuat dan ditambah dukungan perekonomian global. Kuatnya perekonomian domestik didorong oleh reformasi perekonomian yang terus berlanjut dan secara bertahap mulai memberikan dampak.

Rilis data BPS memperlihatkan pada bulan September 2017 terjadi inflasi sebesar 0,13 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 130,08. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–September) 2017 sebesar 2,66 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2017 terhadap September 2016 sebesar 3,72 persen.

Uang beredar dalam arti luas atau M2 pada bulan Agustus 2017 tercatat sebesar Rp5.218,5 triliun atau tumbuh sebesar 10,0 persen (yoy), lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,5 persen (yoy). Berdasarkan komponennya, peningkatan pertumbuhan M2 tersebut terutama bersumber dari komponen uang kuasi yang tumbuh meningkat dari 8,2 persen (yoy) pada bulan Juli 2017 menjadi 9,1 persen (yoy). Berdasarkan faktor yang memengaruhi, peningkatan pertumbuhan M2 dipengaruhi oleh ekspansi operasi keuangan Pemerintah Pusat (Pempus) dan akselerasi pertumbuhan kredit perbankan.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan September 2017 tercatat sebesar 123,8, lebih tinggi dari bulan Agustus 2017 yang sebesar 121,9. Meningkatnya optimisme konsumen tersebut terutama didorong oleh ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan kegiatan usaha. Sejalan dengan meningkatnya optimisme konsumen, rasio pengeluaran untuk konsumsi juga meningkat. Hasil survei menunjukkan rata-rata rasio pengeluaran konsumsi masyarakat pada September 2017 sebesar 66,4 persen, atau meningkat dibandingkan dengan 63,8 persen pada bulan sebelumnya. Sebaliknya, rasio pengeluaran untuk pembayaran cicilan pinjaman dan rasio untuk tabungan masing-masing mengalami penurunan.

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2017 tercatat USD129,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2017 yang sebesar USD128,8 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian pemerintah, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

ISU UTAMA 1: Tekanan Terhadap Rupiah Hanya Sementara

  • Rupiah kembali melemah pada minggu pertama Oktober 2017
  • Tren pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS terjadi secara global
  • Tingkat inflasi yang terkendali dan suku bunga real yang relatif tinggi masih menjadi daya tarik Indonesia
  • Rupiah diperkirakan masih akan tertekan tetapi tidak berlangsung lama

Tren Rupiah masih melemah

Pergerakan Rupiah pada minggu pertama bulan Oktober 2017 kembali menunjukkan trend pelemahan yang sudah dimulai pada minggu sebelumnya. Pada minggu tersebut Rupiah melemah sebesar 0,35 persen wow dan untuk pertama kalinya sepanjang tahun ini melemah secara year to date sebesar 0,34 persen. Posisi Rupiah pada 3 Oktober sejauh ini merupakan yang terlemah di tahun ini yaitu Rp13.542 per USD1.

Tren pelemahan nilai tukar terjadi secara global

Tren pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 1-2 minggu terakhir ini terjadi secara global, bukan hanya pada Rupiah. Gambar 1 memperlihatkan tren pelemahan nilai tukar selama 2 minggu berturut-turut beberapa negara peer Indonesia terhadap dolar AS. Penyebab utama situasi ini diyakini karena proposal penurunan pajak, baik untuk korporasi maupun perseorangan, oleh Presiden Donald Trump yang sepertinya mendapat dukungan parlemen AS. Penyebab utama lain menguatnya nilai tukar dolar AS adalah pernyataan The Fed terkait kemungkinan peningkatan Fed Fund Rate pada bulan Desember tahun ini.

Tekanan diperkirakan masih berlanjut tetapi tidak berlangsung lama

Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, dan mata uang peers lainnya, diperkirakan masih akan berlanjut tetapi tidak akan berlangsung lama. Beberapa alasan keyakinan tersebut adalah terkendalinya tingkat inflasi dan relatif tingginya suku bunga real Indonesia. BPS baru saja merilis besaran inflasi untuk bulan September yaitu sebesar 0,13 persen atau 3,72 persen yoy. Besaran inflasi sampai dengan akhir tahun diperkirakan akan sedikit di bawah asumsi makro APBNP 2017 yang sebesar 4,3 persen. Room bagi BI untuk mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga acuan, apabila dipandang perlu, dinilai masih cukup.

Demikian halnya dengan perbandingan dengan negara peers untuk suku bunga real dan spread imbal hasil antara Surat Berharga Negara dan US Treasury 10 tahun. Indonesia masih termasuk memiliki daya tarik terbaik untuk kategori emerging market (lihat Gambar 2). Praktis hanya Brazil yang saat ini relatif lebih baik dibanding Indonesia itu pun dengan catatan risiko di Brazil yang memang lebih tinggi dibanding Indonesia.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 40/KM.10/2017,   USD : 13,501.00    AUD : 10,540.84    GBP : 17,755.46    SGD : 9,902.59    JPY : 11,975.02    EUR : 15,845.42    CNY : 2,030.25