Sosialisasi Kebijakan Fiskal


Sosialisasi Kebijakan Fiskal Pada Kunjungan

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Bandung

Jakarta (13/02): Dalam rangka mensosialisasikan kebijakan-kebijakan terkini kepada para pemangku kepentingan (stakeholder), Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan kembali mengadakan sosialisasi kebijakan fiskal bertempat di Ruang Gazebo Besar, Gedung R.M. Notohamiprodjo Lantai 4. Sosialisasi kali ini dilaksanakan pada Kunjungan Objek Akuntansi (KUOTA) 2014 ke BKF. KUOTA merupakan kegiatan mahasiswa Program Diploma III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Himaku)  dalam rangka memperluas keilmuan para anggotanya.

Sosialisasi ini dimulai dengan sambutan oleh Lukas Lantip Ciptadi, Kepala Bagian Umum, Sekretariat BKF, yang mewakili Sekretaris BKF. Dalam sambutannya, Lukas Lantip Ciptadi mengawali dengan mengenalkan struktur organisasi Kementerian Keuangan secara garis besar. Kemudian Lukas menjelaskan secara lebih rinci mengenai visi dan misi, tugas pokok dan fungsi, struktur organisasi, dan karakteristik BKF sebagai salah satu unit eselon I di Kementerian Keuangan.

Sosialisasi kali ini menghadirkan 2 (dua) narasumber, yaitu Fathul Kamil Tumbriyantoro, Kepala Subbidang Utang Dalam Negeri, Bidang Analisis Fiskal, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) BKF yang menyampaikan materi dengan judul Perkembangan Perekonomian Global dan Domestik Terkini; dan Dalyono, Kepala Bidang ASEAN, Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB) BKF yang menyampaikan materi dengan judul Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 Dalam Perspektif Kerja Sama Keuangan ASEAN; serta dimoderatori oleh Irwan Darmawan, Kepala Subbidang Makro Ekonomi, Bidang Forum G-20, Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral (PKPPIM) BKF.

Narasumber pertama, Fathul Kamil Tumbriyantoro mengawali pemaparannya dengan menyampaikan asumsi dasar ekonomi makro yang digunakan sebagai landasan penyusunan  postur APBN yang dilanjutkan dengan penjelasan mengenai indikator ekonomi yang digunakan sebagai asumsi dasar ekonomi makro di tahun 2013 dan 2014 antara lain pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, tingkat suku bunga SPN 3 bulan, nilai tukar, harga minyak mentah, serta lifting minyak dan gas. Fathul juga menjelaskan mengenai garis besar proses penyusunan dan penetapan APBN yang kemudian dilanjutkan mengenai update perkembangan ekonomi global dan perkembangan ekonomi domestik. Terkait perkembangan ekonomi global tahun 2014 diperkirakan akan tumbuh lebih baik meskipun mempunyai risiko negatif. Berbagai kebijakan telah diterapkan oleh negara-negara di dunia untuk mendorong dan menstabilkan pertumbuhan ekonomi global. Untuk perkembangan ekonomi domestik di Indonesia antara lain per 7 Februari 2014 baik nilai tukar rupiah dan IHSG menunjukkan kinerja yang cukup baik di regional; PDB tahun 2013 tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun 2012. Sumber pertumbuhan didorong dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan ekspor. Investasi dan impor mengalami perlambatan. Semua sektor mengalami perlambatan kecuali sektor pengangkutan, keuangan dan jasa.

Narasumber kedua, Dalyono mengawali pemaparannya dengan menyampaikan penjelasan mengenai MEA. MEA adalah bentuk integrasi Ekonomi ASEAN yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2015. Intisari dan karakteristik utama MEA adalah pasar tunggal dan basis produksi; kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan ekonomi yang setara; dan Kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global. Dalyono menekankan terkait isu dan tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam menghadapi MEA 2015 yaitu MEA dipandang akan membawa dampak positif bagi peningkatan ekspor dan aliran investasi ke Indonesia; banyak pihak yang memperkirakan Indonesia hanya akan menjadi target pasar dari Negara anggota ASEAN lainnya; Indonesia dipandang belum mampu untuk menghadapi persaingan dengan Negara-negara anggota ASEAN lainnya utamanya Singapura, Malaysia, dan Thailand; serta masalah kesiapan daya saing nasional.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang merupakan bagian akhir dari sosialisasi ini. Antusiasme para peserta sosialisasi sangat baik pada sesi ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan kepada para narasumber terutama terkait pencapaian sasaran dari kebijakan-kebijakan yang telah disusun, terkait inflasi, dan terkait masalah kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2015. Sosialisasi akhirnya ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh moderator yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian doorprize kepada para peserta yang telah mengajukan pertanyaan terbaik serta tukar-menukar cindera mata antara perwakilan BKF dengan perwakilan Universitas Padjadjaran.(mi/ar)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 39/KM.10/2018,   USD : 14,856.00    AUD : 10,657.85    GBP : 19,469.42    SGD : 10,825.63    JPY : 13,288.31    EUR : 17,323.94    CNY : 2,165.30