Workshop


Jakarta (13/02): Meskipun perekonomian domestik Indonesia dalam kondisi bagus, sektor eksternal masih belum tumbuh optimal. Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa yang menurun, harga komoditas yang juga menurun, serta ditambah dengan impor yang meningkat. Oleh karena itu, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, bekerjasama  dengan OECD menyelenggarakan workshop dengan tema “Policies for a Sustainable Current Account Deficit” untuk mendiskusikan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh besar pada peningkatan defisit transaksi berjalan, kemudian akan dijadikan opsi kebijakan Pemerintah Indonesia apabila layak dengan tetap memasukkan penilaian pengukuran kebijakan yang telah diambil Pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Workshop ini diselenggarakan pada tanggal 13 Februari 2014, di Hotel Santika, Jakarta.

Workshop diawali dengan sambutan dari Luky Alfirman, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF dan Peter Jarret, Head of Division Country Studies 1, OECD. Sambutan dimulai dengan overview kinerja perekonomian Indonesia. Pertumbuhan perekonomian Indonesia cukup baik dibandingkan dengan negara-negara tetangga pada tahun 2013. Meski demikian, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti tingkat inflasi meningkat, pertumbuhan ekonomi menurun, depresiasi rupiah, tekanan dari transaksi berjalan, serta tantangan dari perkembangan perekonomian global, salah satunya perpanjangan tappering off Amerika Serikat. Pemerintah juga telah mengeluarkan paket kebijakan tepat sasaran sebagai hasil dari perencanaan cermat dan koordinasi dari berbagai pihak terkait, termasuk mengurangi defisit transaksi berjalan dengan cara mengurangi impor minyak dan gas, memotong inflasi, mempertahankan daya beli, merevisi daftar negatif investasi, dan menyederhanakan proses perizinan. Pemerintah juga mengumumkan kebijakan lain, yaitu peningkatan pajak untuk impor barang tertentu dan relaksasi bahan impor yang digunakan untuk ekspor kembali. Paket ini terbukti efektif mengurangi guncangan eksternal sehingga memperbaiki kinerja perekonomian Indonesia.

Workshop ini dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama membahas kondisi transaksi berjalan Indonesia dan kebijakannya dengan dimoderatori oleh Irfa Ampri, Kepala Pusat Kebijakan Perubahan Pembiayaan Iklim dan Multilateral, BKF. Sesi pertama diawali dengan pemaparan dari Petar Vujanovic (OECD Economic Department) dan Reza Anglingkusumo, Deputy Director of Economic and Monetary Policy Department, Bank Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan dari Anton Gunawan (Analis) dan Edimon Ginting, Deputy Country Director, ADB. Sedangkan sesi kedua membahas pembiayaan untuk defisit transaksi berjalan dengan dimoderatori oleh Petar Vujanovic (OECD Economic Department). Luky Alfirman, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, dan Ndame Diop, Lead Economist & Economic Advisor, World Bank memberikan pemaparannya terkait pembiayaan. Lalu dilanjutkan dengan pembahasan oleh Kahlil Rowter (Analis) dan Loto Srinaita Ginting, Direktur Surat Utang Negara.

Workshop ditutup oleh Luky Alfirman, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, dan Peter Jarret, Head of Division Country Studies 1, OECD. OECD diminta untuk memberikan saran atau catatan singkat pada kebijakan untuk menyelesaikan kerentanan yang dialami Indonesia terkait dengan peningkatan defisit transaksi berjalan yang dimasukkan pada Survei Ekonomi OECD untuk Indonesia (OECD Economic Survey of Indonesia). Catatan singkat ini akan diberikan pada Pemerintah pada akhir Februari tahun 2014 untuk menyelaraskan output pada workshop ini dan outline dari opsi kebijakan akan dikaji pada isu transaksi berjalan. Luky Alfirman memiliki ekspektasi tinggi bahwa workshop ini akan memberikan ragam pilihan dan kontribusi positif untuk Indonesia dalam menghadapi isu defisit transaksi berjalan dan akan memberikan manfaat untuk kemajuan ekonomi Indonesia ke depan. (aip/ra)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 39/KM.10/2018,   USD : 14,856.00    AUD : 10,657.85    GBP : 19,469.42    SGD : 10,825.63    JPY : 13,288.31    EUR : 17,323.94    CNY : 2,165.30