Seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Semarang


Semarang (24/4): Dengan sebuah lagu nasionalisme “Padamu Negeri” seluruh peserta Seminar terlihat semangat untuk mengikuti acara pembukaan seminar yang bertempat di Ballroom Gumaya Tower Hotel Semarang pada hari Kamis, tanggal 24 April 2014. Kementerian Keuangan menyelenggarakan Seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini. Acara sosialisasi ini diselenggarakan Badan Kebijakan Fiskal bekerja sama dengan Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Seminar dihadiri oleh berbagai Perwakilan Instansi Pemerintah, SKPD, Perbankan, Pelaku usaha serta akademisi yang ada di Provinsi Jawa Tengah.

Acara diawali dengan sambutan Andri Ristanto, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil Dirjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah selaku tuan rumah acara seminar kali ini, dalam sambutannya Andri menyampaikan bahwa maksud dan tujuan dari acara seminar ini adalah terciptanya suatu komunikasi antara Kemenkeu sebagai regulator dan perumus kebijakan keuangan dengan para akademisi untuk tukar-menukar irformasi tentang isu-isu strategis. Seminar ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran dan sharing informasi antara Kemenkeu dengan para akademisi di daerah dan membahas isu-isu strategis baik sekarang dan di masa depan.

Selanjutnya keynote speech oleh Purwiyanto, Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara, Kementerian Keuangan. Purwiyanto menyinggung sedikit tentang posisi strategis dari peningkatan kapasitas khususnya terkait SDM untuk suksesnya pengelolaan keuangan negara. “ Karena saya pikir forum ini merupakan forum yang sangat tepat. Dalam berbagai aspek kehidupan, peningkatan kapasitas adalah hal yang sangat penting, kapasitas fiskal yang tersedia untuk tahun 2014 (dari penerimaan perpajakan, PNBP, dan penerimaan pembiayaan) baru mencapai sekitar Rp1.670 triliun, sehingga untuk keseimbangan fiskal masih terdapat kekurangan fiskal sekitar Rp230 triliun atau sekitar 2,3 persen terhadap PDB”. Selain itu Purwiyanto juga menyatakan bahwa kebijakan umum APBN saat ini adalah "optimalisasi pendapatan negara dan peningkatan kualitas belanja negara". Kebijakan tersebut mencerminkan terdapatnya kesadaran bahwa pendapatan negara perlu ditingkatkan, sekaligus belanja negara sulit dihindarkan peningkatannya, tetapi harapannya kualitas dari belanja tersebut dapat ditingkatkan, sehingga kapasitas fiskal yang terbatas adanya dapat digunakan untuk menghasilkan output/outcome yang maksimum dari belanja yang dilakukan.  Dalam penutupan keynote speech-nya Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara menyampaikan harapan melalui forum Regional Economist (RE) ini, banyak hal penting yang bisa  didiskusikan dan disampaikan sebagai rekomendasi cemerlang untuk perbaikan pengelolaan keuangan negara dan kinerja ekonomi pada umumnya.

Seminar dibagi menjadi tiga sesi. Dalam sesi ini ditunjuk sebagai moderator adalah Siska Indrawati, Kepala Bidang Data Ekonomi Makro dan Administrasi Pengkajian, Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Sesi pertama membahas mengenai Perkembangan Perkonomian Terkini dan Prospek 2014 disampaikan oleh Abdurohman. Kepala  Bidang Analisis Fiskal pada Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Dalam pembahasannya, Abdurohman menyampaikan mengenai, Perekonomian Indonesia saat ini berada pada posisi yang mulai membaik dengan perekonomian lebih stabil dari Peer countries, dimana Rupiah dan IHSG mengalami penguatan tertinggi di kawasan, defisit transaksi berjalan yang kembali menyempit pada Q4-2013 & BOP kembali surplus setelah defisit tiga triwulan berturut-turut selain itu Indonesia masih memiliki daya tarik investasi yang cukup tinggi bagi investor. Sedangkan perkembangan perekonomian global 2014 diperkirakan akan tumbuh lebih baik meskipun mempunyai Downside Risk. Berbagai kebijakan diterapkan oleh beberapa negara untuk mendorong dan stabilisasi pertumbuhan ekonominya. Adapun tantangan Perekonomian ke depan Global yaitu (1) Pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara maju telah mengakibatkan aliran likuiditas yang besar di pasar global. Perubahan arus likuiditas dapat mengganggu keseimbangan pasar uang dan nilai tukar di berbagai negara, (2) Rendahnya pertumbuhan negara-negara maju dan pelemahan harga komoditas primer di pasar global berdampak negatif pada ekspor beberapa negara termasuk indonesia. Sedangkan sisi Domestik yaitu (1) Pelebaran defisit neraca perdagangan akan mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan dan memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah, (2) Peningkatan efiiensi anggaran dengan meningkatkan porsi belanja produktif, efisinensi belanja subsidi untuk memberikan ketahanan fiskal yang lebih besar untuk peningkatan pembangunan infrastruktur, (3) Perlunya sinkronisasi peraturan dan perizinan pusat dan daerah serta perbaikan dan peningkatan infrastruktur terutama listrik, (4) Stabilitas harga, stabilitas sistem keuangan dan peningkatanpertumbuhan inklusif.

Sesi kedua membahas mengenai Kebijakan Perimbangan Keuangan Daerah yang disampaikan oleh Wahyudi Sulestyanto, Kepala Bagian Umum Sekretariat Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK). Dalam pembahasannya, Wahyudi menyampaikan Arah kebijakan transfer ke daerah serta rincian dari Transfer ke daerah, dimana dalam APBN 2014 transfer ke daerah sebesar 592,55 T. Yang terdiri dari 2 yaitu Dana Perimbangan 487,9 T dan Dana Otsus dan penyesuaian 104,62 T. Dana Perimbangan yang dibagi menjadi Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK). Sedangkan Dana Otsus dan Penyesuaian dibagi menjadi Dana Otus (Dana Otsus Papua, Dana Otsus Papua Barat, Dana Otsus Aceh, Dana Infrastruktur Otsus Papua, Dana Infrastruktur Otsus Papua Barat, Dana Keistimewaan DIY) dan Dana Penyesuaian (Tambahan Penghasilan Guru, Tunjangan Profesi Guru, Bantuan Profesi Guru, Bantuan Operasi Sekolah, Dana Insentif Daerah, Dana P2D2).

Sesi ketiga atau yang terakhir membahas mengenai Perkembangan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah yang disampaikan oleh Hari Pudjianto, Ekonom pada Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Sudirman. Dalam pembahasannya Hari menyampaikan materi mengenai Perekembangan Ekonomi Jawa Tengah terkini dimana di Jawa Tengah saat ini masih rendah tingkat pertumbuhan ekonominya, inflasi masih tinggi, angka kemiskinan dan pengangguran serta kesenjangan antar wilayah kabupaten dan/kota juga masih tinggi. Hal ini terjadi perubahan struktur perekonomiannya hal ini terjadi karena turunnya kontribusi dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan serta industri pengolahan di Provinsi Jawa Tengah. Seminar kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta dalam seminar ini cukup aktif dan antusias, Hal ini terwujud dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada narasumber pada sesi tanya jawab ini. Acara ditutup dan diakhiri dengan makan siang bersama.(gh/sh)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 26/KM.10/2018,   USD : 13,923.00    AUD : 10,580.97    GBP : 18,532.57    SGD : 10,405.95    JPY : 12,726.78    EUR : 16,263.79    CNY : 2,173.07