Seminar on Human Capital Investment


Bali, (1/3): Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan dengan didukung Bank Dunia menyelenggarakan Seminar Internasional bertema Human Capital Investment: A New Driving Force of the Economy di The Anvaya Beach Resort, Bali. Seminar yang merupakan rangkaian program Voyage to Indonesia menuju Sidang Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 ini bertujuan untuk merumuskan berbagai rekomendasi kebijakan untuk mengatasi masalah-masalah di bidang Sumber Daya Manusia (SDM).

Menteri Keuangan Sri Mulyani membuka seminar ini bersama Gubernur Provinsi Bali I Made Mangku Pastika. Pada pidato pembukanya Menkeu menyampaikan pentingnya investasi di bidang SDM untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran negara. Dikatakan Sri, dalam meningkatkan human capital, pemerintah terus memperhatikan dan mengutamakan pendidikan, kesehatan, serta jaminan sosial untuk masyarakat Indonesia. Pemerintah mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan yang digunakan untuk Program Wajib Belajar 9 tahun, Kartu Indonesia Pintar, Bantuan Operasional Sekolah, serta Program Bidik Misi untuk pendidikan tinggi. Sri juga menyampaikan bahwa untuk menghadapi tantangan otomatisasi industri karena adanya kemajuan teknologi, pemerintah terus meningkatkan kemampuan dan kualitas tenaga kerja (SDM) dengan terus memperbaiki kurikulum pendidikan agar memiliki kualitas dan keterampilan khusus serta mempromosikan program kejuruan dan program magang yang bekerja sama dengan perusahaan/pabrik di Indonesia. “Human capital is the key to reducing poverty and inequality.” ujar mantan direktur bank dunia tersebut.

Seminar dibagi menjadi 3 sesi dengan menghadirkan pembicara utama beberapa menteri Kabinet Kerja serta para ahli dari lembaga keuangan internasional, negara-negara maju dan berkembang, profesional, dan akademisi. Sesi pertama yang dimoderatori oleh Kania Sutisnawinata mengangkat topik “Human Capital as a Driver of Economic Growth and the Foundation of Prosperity”. Sesi ini menghadirkan 5 pembicara yakni: 1) Bambang Brodjonegoro, Kepala Bappenas; 2) Roberta Gatti, Chief Economist of Human Development, Bank Dunia; 3) Ishii Masafumi, Duta Besar Jepang untuk Indonesia; 4) Juzhong Zhuang, Deputy Chief Economist Asian Development Bank, dan; 5) Armida S. Alisjahbana, Direktur Utama Center for Sustainable Development Goals Studies, Universitas Padjadjaran. Pada kesempatan ini, Bambang Brodjonegoro menyampaikan bahwa pemerintah perlu melakukan prioritas dan memberi lebih banyak perhatian pada pembangunan SDM di tahap sangat awal yakni 1000 hari pertama atau balita. Bambang berpendapat bahwa investasi SDM di umur tersebut akan memberi manfaat paling besar. Selain itu, pemerintah juga perlu memberi perhatian kepada para generasi milenial Indonesia karena merekalah yang sebentar lagi akan menjadi kelas menengah Indonesia berikutnya. Mantan Menteri Keuangan ini juga menyampaikan bahwa di titik manapun kemajuan pembangunan sebuah negara, SDM merupakan kunci pembangunan lebih lanjut.

Mengawali sesi kedua yang bertemakan “Human Capital and Future of Work”, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri berkesempatan menyampaikan pidato kunci. Hanif mengungkapkan bahwa industri perlu mentransformasi proses bisnis karena adanya kemajuan teknologi. Perubahan industri menyebabkan karakter pekerjaan serta kemampuan dan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan berubah, sehingga kurikulum pendidikan/pelatihan harus ikut berubah. Hanif juga menyampaikan beberapa hal penting yang harus dilakukan dalam menghadapi tantangan tenaga kerja, yakni: 1) investasi SDM yg berorientasi permintaan, fokus, masif, dan merata; 2) kepemimpinan (pemerintah)  yang mengajak industri/swasta berinvestasi bersama; 3) reformasi ketenagakerjaan untuk menyeimbangkan supply and demand dunia kerja. Sementara itu, Rudiantara menyatakan bahwa pemerintah sebagai regulator akan memfasilitasi masyarakat khususnya generasi muda yang ingin berinovasi terhadap kemajuan teknologi. Ia mengungkapkan bahwa kondisi era digital dan demografis Indonesia bisa menjadi kombinasi yang kuat untuk masa depan Indonesia. Sesi kedua yang dipandu oleh M. Iman Usman, Co-Founder and Chief of Product Ruangguru.com. menghadirkan 5 pembicara: 1) Jumain Appe (Kemristekdikti); 2) Phillia Wibowo, (Mckinsey&Company Indonesia); 3) Mary Cavar (Australia Productivity Commission); 4) Owais Parray, (International Labour Organization), dan; 5) Monica Lynn Mulyanto Oudang, (Go-Jek Indonesia).

Sesi ketiga dengan topik “Key Opportunities and Challenges in Human Capital Investment” diawali dengan penyampaian pidato oleh Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek. Nila mengungkapkan bahwa episode terpenting dalam kesehatan seseorang adalah 1000 hari pertama dalam hidupnya. Pada umur 2 tahun, otak anak sudah sebesar 80% ukuran saat ia dewasa nanti. Sehingga periode tersebut adalah masa penting dalam perkembangan SDM. Ia juga mengungkapkan bahwa untuk tiap $1 yang diinvestasikan pada nutrisi, akan menghasilkan manfaat senilai $48 dalam hal kesehatan dan pendidikan SDM. Sesi ketiga ini dipandu oleh Bernardus Djonoputro (Deloitte Infrastructure and Capital Indonesia) dan menghadirkan 5 pembicara, yakni: Fachmi Idris (BPJS-Kesehatan); Astera Primanto Bhakti (LPDP Kemenkeu); Totok Suprayitno (Mendikbud); Areef Suleman (Islamic Development Bank); Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), dan; Camilla Holmemo (World Bank). (atw/is)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 26/KM.10/2018,   USD : 13,923.00    AUD : 10,580.97    GBP : 18,532.57    SGD : 10,405.95    JPY : 12,726.78    EUR : 16,263.79    CNY : 2,173.07