Konferensi Internasional Ke-14 Indonesian Regional Science Association (IRSA) 2018


Surakarta, (24/7): Konferensi internasional tahunan yang menjadi agenda rutin Indonesian Regional Science Association (IRSA) kali ini diselenggarakan bekerja sama dengan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan beberapa institusi terkait, salah satunya adalah Badan Kebijakan Fiskal (BKF). IRSA  merupakan  organisasi  yang  dikelola  oleh  akademisi  di  Indonesia  yang  secara  aktif mempromosikan kemajuan penelitian pembangunan regional di seluruh Indonesia. Setiap tahun IRSA menyelenggarakan konferensi yang dihadiri oleh pembuat kebijakan dari berbagai institusi di Indonesia dan akademisi baik nasional maupun internasional. Konferensi tahun ini adalah yang ke-14 dengan mengusung tema “Strengthening Regional and Local Economy”.

Konferensi diawali dengan sambutan dari ketua panitia, Tri Mulyaningsih. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari presiden Regional Science Association International (RSAI), Prof. Budy Resosudarmo. Konferensi secara resmi dibuka oleh presiden IRSA, Prof. Arief A. Yusuf.

Keynote session pertama disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Bambang P.S. Brodjonegoro dengan materi bertemakan “Tackling Regional Disparity Through Local Initiative”. Beliau menyampaikan bahwa masalah utama yang terjadi di Indonesia adalah kesenjangan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah sebenarnya telah menjalankan beberapa kebijakan untuk mengatasi ketimpangan tersebut salah satunya dengan transfer keuangan daerah melalui Dana Alokasi Umum (DAU), tetapi kebijakan ini baru sebatas pengalokasian anggaran. Solusi dari ketimpangan daerah ini adalah pemerintah daerah harus dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk secara kreatif mengembangkan program inisiatif daerah.

Dalam konsep new economic geography model, beliau menambahkan bahwa pemerintah harus dapat berperan untuk meningkatkan investasi infrastruktur guna memperlancar mobilitas barang, modal, dan tenaga kerja. Di samping itu, pemerintah harus mampu menerapkan kebijakan ekonomi yang tepat seperti subsidi, pajak, atau program sosial yang langsung dapat mengurangi ketimpangan daerah.

Keynote session kedua disampaikan oleh Kepala BKF, Prof. Suahasil Nazara yang mengangkat isu “The Role of Local Economies on Achieving an Inclusive Growth in Indonesia”. Beliau menyampaikan apresiasinya kepada IRSA yang telah menyelenggarakan sebuah forum akademis yang peduli terhadap isu perkembangan regional dan juga mengharapkan kerja sama yang berkelanjutan dengan BKF. Dalam kurun 3 tahun terakhir partisipasi BKF dalam konferensi IRSA terus meningkat dilihat dari jumlah artikel ilmiah yang dipresentasikan, yaitu sebanyak 6, 14, dan 15 artikel berturut-turut pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Pada konferensi tahun ini BKF memiliki dua sesi khusus yang bertemakan “Local Government Budget and Regional Economy” dan “Village Fund” untuk memperebutkan IRSA-BKF Paper Award.

Dalam kurun dua dekade terakhir berbagai reformasi telah dilakukan dan regulasi yang penting telah ditetapkan untuk meningkatkan tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Melalui reformasi tersebut pertumbuhan semakin kuat, kesejahteraan meningkat, dan inflasi semakin terkendali. Dua puluh tahun setelah terjadinya krisis keuangan Asia (Asian Finansial Crisis/AFC), Indonesia memperoleh status investment grade dari berbagai lembaga credit rating dunia yang mengindikasikan kondisi fiskal yang aman. Hal ini juga dibuktikan dengan menguatnya pertumbuhan regional, yaitu Indeks Pertumbuhan Manusia (IPM) yang semakin meningkat dan angka kemiskinan yang semakin menurun di berbagai daerah. Di samping itu, telah terjadi pula pergeseran struktur ekonomi yang lebih disokong oleh sektor jasa

Kepala BKF menekankan bahwa tantangan besar negara ini ada dua, yaitu ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara daerah dan urbanisasi yang begitu pesat. Strategi fiskal yang telah diambil pemerintah ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui program prioritas pemerintah, yaitu pengembangan sumber daya manusia, mempercepat infrastruktur, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kualitas dana transfer ke daerah dan dana desa. Beliau menegaskan bahwa alokasi dana khusus seperti dana insentif daerah (DID) diharapkan dapat mendorong daerah untuk meningkatkan kinerjanya dalam pengelolaan fiskal, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di samping itu, dana desa diharapkan tidak hanya sebatas alokasi dan penyerapan anggaran tetapi dapat memberikan dampak langsung ke masyarakat dalam mengurangi ketimpangan antar daerah, mengentaskan kemiskinan, dan mendukung kebijakan membangun daerah dari pinggiran.

Sesi dilanjutkan dengan diskusi panel paralel yang terbagi ke dalam 6 (enam) sesi dengan berbagai topik bahasan. Hari pertama sesi panel khusus BKF mengangkat tema “Local Government Budget” yang dipandu oleh Noor Iskandarsyah atas dua artikel yaitu “Modeling Local Governmental Expenditures for Poverty Alleviation in Indonesia” yang dibawakan oleh Muhammad Heru Akhmadi dan Imam Sumardjoko dari Politeknik Keuangan Negara STAN dan “Fiscal Disparities in Indonesia under Decentralization: To What Extent has General Allocation Grant (DAU) Equalized Fiscal Revenues? yang dibawakan oleh Takahiro Akita dari Rikkyo University, Jepang.

Sementara partisipasi peneliti BKF di hari pertama dipresentasikan oleh Afif Hanifah (Value Added Tax as Potential Revenue for Local Government in Indonesia), Hadi Setiawan (Tax Treatment on MSME’s: Comparison on ASEAN Countries and Evaluation on Indonesia Treatment), M. Zainul Abidin (Regional Transfer Funds Policy and The Role of Local Government on Geothermal Energy Development), dan Sofia A. Damayanty (Is VAT Affect the Poverty: Case on Staple Goods in Indonesia).

Hari kedua dilanjutkan sesi diskusi paralel dengan topik mulai dari Macroeconomic and Finansial Policy, Decentralization and Sustainability, Quality Growth,  sampai dengan Agriculture and Health Economics, Education and Social Capital. Pada hari kedua ini sesi khusus BKF mengusung tema “Village Funds and Local Development”. Diskusi dipimpin oleh Joko Tri Haryanto atas tiga artikel yaitu “Impact of Rural Development Program on Agriculture Production in Indonesia: IFLS Data Analysis” yang disampaikan oleh tim dari Universitas Udayana. Tulisan kedua dipresentasikan oleh Arif Budi Rahman (BKF) yang berjudul “The Village Fund and Its Potential Role in Reducing Rural Urban Migration: A Tale of Two Regencies”. Artikel ketiga yang berjudul “The Impact of Village Fund Program in Developing Physical Indrastructure: Cas eon Construction Value Across Provinces in Indonesia” dibawakan oleh Mochamad Thoriq Akbar (Universitas Padjajaran).

Konferensi diakhiri dengan penganugerahan pemenang IRSA-BKF Paper Award. Pemenang jatuh pada Takahiro Akita dari Rikkyo University, Jepang untuk sesi yang bertema Local Government Budget dan Mochamad Thoriq Akbar dari Universitas Padjajaran untuk sesi yang bertema Village Fund. Hadiah diserahkan langsung oleh Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, BKF, Hidayat Amir. Konferensi secara resmi ditutup oleh Wakil Presiden I IRSA, Djoni Hartono, beliau menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada peserta dan instansi pendukung konferensi IRSA 2018 dan menantikan partisipasinya pada konferensi IRSA tahun depan di Universitas Syiah Kuala, Aceh. (tt/sy)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 34/KM.10/2018,   USD : 14,478.00    AUD : 10,657.97    GBP : 18,575.08    SGD : 10,577.48    JPY : 13,053.76    EUR : 16,661.17    CNY : 2,113.87