Ketentuan Perpajakan Kawasan Khusus Keuangan pada Kawasan Ekonomi Khusus


Jakarta (12/03): Beberapa waktu yang lalu, Pusat Kebijakan Pendapatan Negara menyelenggarakan Focus Group Discussion bertema “Ketentuan Perpajakan Kawasan Khusus Keuangan pada Kawasan Ekonomi Khusus” bertempat di Nirwana Resort, Lagoi, Pulau Bintan Propinsi Kepulauan Riau pada tanggal 25 Februari 2014.

FGD dibuka oleh Wakil Menteri Keuangan II, dalam pembukaannya Wamen menyampaikan bahwa ide pembahasan offshore financial center diharapkan mampu menarik sebagian dana masyarakat Indonesia yang terparkir di luar negeri dengan membangun sektor keuangan yang kokoh melalui peluncuran produk-produk keuangan yang kompetitif. Salah satu  dilema yang harus dipecahkan adalah penentuan kebijakan perpajakan sebagai sumber pembiayaan anggaran negara dan sekaligus memiliki potensi menghambat pertumbuhan sektor riil dan keuangan bila ditetapkan terlalu tinggi

Selanjutnya FGD dilanjutkan dengan mendengarkan paparan dari beberapa narasumber yaitu:

Astera Primanto Bhakti (Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara) menyampaikan Beberapa praktek perpajakan di Labuan IOFC Malaysia dan Cayman Island, Beberapa tantangan yang harus diperhatikan dalam mendirikan OFC baik dalam perspektif non taxation (FATF recommendation; IAIS Insurance Core Princile; dan Basel Principles) maupun perspektif taxation (Harmful Tax Practice Principle, International standards on exchange of information for tax purposes) ,Tax amnesty dan, Skema trustee.

Dilanjutkan oleh Pahala N. Mansury  selaku Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri menyampaikan. Adanya peluang untuk menarik dana modal Indonesia yang berada di luar negeri baik yang dimiliki oleh korporasi maupun perorangan. Serta untuk menarik dana individual dilakukan pemberian bunga yang tinggi dan bebas repatriasi, produk keuangan yang menguntungkan dan participatory notes yang diterbitkan di luar negeri untuk membolehkan investasi yang nyaman di Indonesia.

Reet Chowdhuri, konsultan Mc Kinsey menyampaikan tahapan membangun Special Economic Zones (Kawasan Ekonomi Khusus), Review atas insentif perpajakan yang ditawarkan negara lain untuk menarik investasi asing,. Langkah selanjutnya berupa pengkajian yang lebih terperinci mengenai SEZ di Indonesia (termasuk target dan lokasi), insentif perpajakan dan pelibatan OJK dan BI untuk peluncuran Non Resident Indonesia Deposit.

Danny Septriadi dari Danny Darussalam tax center menyampaikan beberapa keunggulan OFC yang dimanfaatkan oleh pembayar pajak adalah layanan privasi dan konfidensial yang bisa dihilangkan untuk tujuan penyelidikan kejahatan. Namun layanan privasi dan konfidensial tetap diberlakukan bila menghadapi kepentingan penarikan perpajakan, serta teori OECD tentang Agglomeration theory yang menyatakan bahwa sektor luar negeri secara jangka panjang memiliki pengaruh negatif untuk pembangunan dan menciptakan rente ekonomi karena ekonomi berorientasi pada usaha menarik modal yang berpindah-pindah (mobile). Serta kemungkinan penerapan  Erosion on bank secrecy dan tax amnesty

Andrianto Wahyu Adi dari Bank Mandiri menyampaikan  Trade financing yang baik biasanya memiliki beberapa kriteria dasar yaitu (1) kemampuan memitigasi credit list/performance list, (2) feasibility information dari arus barang, arus dokumen dan arus uang, sehingga diperlukan satu sistem  yang bisa menelusuri keberadaan barang, dokumen dan arus uang pada setiap langkah pada proses perdagangan. Penggunaan L/C saat ini hanya berkisar 10%-15% dari transaksi perdagangan karena prosesnya yang mahal dan feasibility juga relatif lama.

Acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab terkait materi yang telah disampaikan oleh para pembicara. Sesi diskusi direspon sangat baik oleh para peserta, terbukti dengan acara diskusi baru ditutup melewati waktu yang telah ditentukan. Diskusi mengenai ketentuan perpajakan atas ide pendirian Offshore Financial Center (OFC) di Indonesia sebagai upaya untuk menarik dana masyarakat Indonesia di luar negeri menjadi hal yang mendominasi diskusi ini.(ss)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 26/KM.10/2018,   USD : 13,923.00    AUD : 10,580.97    GBP : 18,532.57    SGD : 10,405.95    JPY : 12,726.78    EUR : 16,263.79    CNY : 2,173.07