Seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Balikpapan


BALIKPAPAN (27/03): Badan Kebijakan Fiskal bekerja sama dengan Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Sekretariat Jenderal dan Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur Kementerian Keuangan mengadakan seminar “Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini” bertempat di Hotel Jatra Balikpapan, Kalimantan Timur. Seminar ini merupakan salah satu dari rangkaian seminar yang diadakan di tiap kota di seluruh Indonesia dengan tujuan memberikan informasi mengenai kebijakan fiskal dan perkembangan perekonomian terkini baik nasional maupun daerah.

Seminar diawali dengan welcoming remark oleh Mirza Effendi, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur yang juga menjabat sebagai Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Kalimantan Timur dan Utara dan dilanjutkan dengan keynote speech oleh Haryana, Sekretaris Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Peserta yang hadir dalam seminar ini 200 orang yang berasal dari akademisi, mahasiswa, perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur dan Utara serta instansi Pemerintah di Kalimantan Timur.

Seminar menghadirkan 3 orang pembicara yakni Heru Subiyantoro (Sekretaris Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan), Hidayat Amir (Peneliti Badan Kebijakan Fiskal) serta Abu Helmi (Kepala Biro Ekonomi Provinsi Kalimantan Timur), dengan moderator Edi Johan (Dosen Universitas Mulawarman, Balikpapan).

Hidayat Amir dalam paparannya menjelaskan bahwa perkembangan perekonomian global 2014 diperkirakan akan tumbuh lebih baik meskipun ada risiko pelemahan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih stabil dibandingkan dengan Peer Countries, namun defisit transaksi berjalan dapat menimbulkan risiko bagi Emerging Economies termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil berbagai studi dan kajian, Indonesia pada tahun 2030 diprediksi akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia, oleh karena itu ketimpangan ekonomi antar daerah harus segera dibenahi.

Heru Subiyantoro menjelaskan bahwa untuk menunjang percepatan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur di luar pulau Jawa mutlak harus dilaksanakan. Dengan infrastruktur yang baik maka diharapkan kegiatan ekonomi di daerah dapat berjalan dengan baik dan pada akhirnya akan membawa dampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Permasalahan yang terjadi adalah dana transfer ke daerah yang jumlahnya sangat besar belum memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di daerah.

“Arah pembangunan Kalimantan Timur sudah berada di jalur yang tepat dan selaras dengan tujuan pembangunan nasional dengan sektor pertambangan yang masih menjadi leading sector, namun demikian perlu dilakukan extra effort untuk mempertahankan kinerja perekonomian melalui transformasi ekonomi ke arah manufaktur berbasis sektor ekonomi unggulan terbarukan”, jelas Abu Helmi sebagai pembicara terakhir seminar.

Seminar kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab dari para peserta. (sh/mi)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 26/KM.10/2018,   USD : 13,923.00    AUD : 10,580.97    GBP : 18,532.57    SGD : 10,405.95    JPY : 12,726.78    EUR : 16,263.79    CNY : 2,173.07