Pemerintah Optimis Pertumbuhan Indonesia Membaik di 2017


Jakarta, (12/1): Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menggelar analyst meeting pada Kamis sore di Aula Mezzanine, Gedung Djuanda I. Kegiatan yang bertujuan untuk memberikan update kepada para ekonom tentang perkembangan ekonomi terkini ini, dihadiri oleh ekonom, akademisi, pelaku industri perbankan dan keuangan serta pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan.

Kepala BKF, Suahasil Nazara, menyampaikan dalam paparannya bahwa perekonomian di Indonesia di tahun 2017 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, meskipun Indonesia masih menghadapi ketidakpastian global namun pertumbuhan Indonesia akan tetap stabil. Pemerintah sendiri memproyeksikan pertumbuhan pada tahun 2017, sebesar 5,1%. Nilai tersebut ungkap Suahasil sama dengan pertumbuhan yang diproyeksikan oleh IMF. Sementara itu, World Bank memproyeksikan pertumbuhan yang lebih optimis dengan nilai sebesar 5,3%. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat internasional melihat pertumbuhan Indonesia yang terus membaik. Selain proyeksi beberapa organisasi internasional, beberapa lembaga rating internasional juga memiliki pandangan yang sama tentang prospek perekonomian Indonesia. Fitch Ratings salah satunya, baru saja memberikan penilaian terhadap Indonesia dengan hasil outlook yang positif. Hal ini menurut Suahasil menjadi tanda bahwa investor luar masih percaya atas kinerja perekonomian Indonesia.

Suahasil juga mengungkapkan bahwa selain tantangan dari eksternal, Indonesia juga dihadapkan oleh tantangan dari sisi internal, seperti tingkat produktivitas dan daya saing yang masih rendah, kemiskinan dan ketimpangan antar daerah. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut pengelolaan fiskal yang kredibel, efektif, efisien dan berkesinambungan menjadi hal mutlak yang harus dilakukan. Lebih lanjut Suahasil mengatakan salah satu bentuk komitmen pemerintah untuk terus menjaga kredibilitas APBN dapat dilihat dari pengelolaan APBN 2016. Menurutnya meskipun dalam realisasi APBN 2016 terjadi peningkatan defisit sebesar 2,46% dari PDB, angka tersebut masih sesuai dengan amanat undang-undang. Ia juga menilai, dengan angka tersebut, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan tetap terjaga.

“Walaupun defisit meningkat dari 2,35% menjadi 2,46%, namun kita yakini kenaikan ini diperlukan untuk tetap menjaga momentum belanja tetapi juga cukup kredibel untuk tidak membuat pemerintah dipojokkan oleh pasar. Kita tetap bisa membangun kepercayaan pasar” ujar Suahasil. Ia juga meyakinkan bahwa pemerintah akan tetap memegang teguh prinsip untuk menjaga defisit APBN dibawah 3%. “Kita menganggap bahwa rule 3% menjadi rule yang sangat penting untuk kita pertahankan” lanjut Suahasil.

Selain menjaga defisit tetap di bawah 3%, pemerintah juga akan terus berupaya untuk melakukan optimalisasi penerimaan negara dan menjaga belanja yang produktif dan berkualitas. (is/atw)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 49/KM.10/2017,   USD : 13,541.00    AUD : 10,210.46    GBP : 18,170.40    SGD : 10,025.91    JPY : 11,981.28    EUR : 15,962.94    CNY : 2,045.10