The 2nd Annual Islamic Finance Conference (AIFC)


Yogyakarta (23/8): The 2nd Annual Islamic Finance Conference (AIFC) hari pertama di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, digelar dalam 2 sesi panel yang masing-masing bertema “SDGs and Strategies in Combating Poverty and Income Inequality: Country Experience” dan “The Role of Islamic Finance Industry in Promoting Shared Prosperity”. Acara ini juga merupakan rangkaian dari kegiatan Voyage to Indonesia 2018, menuju Sidang Tahunan IMF-WB (International Monetary Funds -  World Bank) yang akan berlangsung pada bulan Oktober tahun 2018

Sesi panel pertama dimoderatori oleh Co-Director, World Development Report 2017 of World Bank, Dr. Yongmei Zhou dengan menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Mansur Muhtar, Vice President Sector Operations & Acting Chief Economist of IDB Group, Khalid Payenda, Deputy Minister of Finance Republic Islam of Afghanistan dan Dr. Subandi, Deputi Menteri PPN, Bappenas. Pada kesempatan ini, Mansur Muhtar memaparkan materi bertajuk “Road to Achieving SDGs in OIC Member Countries”. Kemudian, narasumber kedua pada sesi panel pertama, Khalid Payenda menyampaikan mengenai  beberapa program yang saat ini sedang berjalan untuk mengembangkan indikator sosio-ekonomi yang meliputi pengembangan pembangunan pedesaan dan manajemen pembangunan. Dia juga menyoroti bahwa telah terjadi kemajuan yang cukup besar di beberapa daerah di Afghanistan. Pelajaran lain yang dimiliki Afghanistan adalah bahwa semua mitra perlu dilibatkan untuk mengembangkan indikator sosio-ekonomi  ini, termasuk diantaranya sektor swasta. Pada kesempatan berikutnya, Dr. Subandi memaparkan materi tentang “Achieving SDGs in Indonesia: Strategy and Implementation”.

Sebelum memasuki sesi panel kedua, Dr. Francine Pickup (Deputy Country Director, UNDP Indonesia) menyampaikan paparan dalam afternoon lecture bertemakan “Sustainable Development Goals and the Contribution of Islamic Finance”. Francine menyampaikan bahwa inti dari nilai-nilai Islam menekankan pada keadilan sosial dan inklusivitas. Dengan semboyan SDG 'Leave No One Behind', keuangan Islam menawarkan prospek nyata untuk menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan bagaimana cara kita mencapai SDGs.

Selanjutnya, sesi panel kedua yang dimoderatori oleh Adiwarman Karim, CEO Karim Consulting Indonesia menghadirkan tiga narasumber. Hadir sebagai narasumber pertama, Prof. Mehmet Asutay, Director of Durham Center for Islamic Political Economy and Finance, Durham University menyampaikan paparan mengenai “Re-constructing Collaborative and Sharing Economy from Islamic Moral Economy Perspective” yang kemudian dilanjutkan dengan paparan dari Dr. Robert Pakpahan, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan  yang bertema “Project Financing Sukuk: Untuk Pembangunan Infrastruktur Indonesia”. Narasumber terakhir, Ratih Rachmawaty, Presiden Direktur Bank BTPN Syariah berbagi pengetahuan dan pengalamannya mengenai  pemberdayaan perempuan melalui keuangan inklusif.

Terakhir, digelar The Young Islamic Economist Forum (YIEF) yang merupakan forum bagi para ekonom muda untuk menuangkan berbagai macam gagasannya guna meningkatkan peran keuangan berbasis Islam dalam rangka memerangi kemiskinan dan ketimpangan. Pada sesi ini sembilan ekonom muda memaparkan papernya secara paralel. (cs/ps/atw)

Link download materi AIFC : http://fiskal.kemenkeu.go.id/aifc2017/index.php?r=seminarFiles/index

  Kurs Pajak : KMK Nomor 37/KM.10/2017,   USD : 13,226.00    AUD : 10,591.85    GBP : 17,745.58    SGD : 9,819.87    JPY : 11,959.78    EUR : 15,782.37    CNY : 2,020.92