BKF Menggelar Seminar Preheating AIFED di Surabaya


Surabaya, (22/9): Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) pada hari Selasa (19/9) menyelenggarakan seminar preheating Annual International Finance on Economic Development and Public Policy (AIFED) di Aula Fajar Notonegoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Surabaya. Seminar preheating yang bertemakan “Riding the Waves of Technological Changes: the Way Forward to Drive Productivity and Alleviate Inequality” ini dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah daerah setempat, Direktorat Jenderal Pajak, para pengusaha serta akademisi.

Mengawali seminar preheating, Dr. Rudi Purwono, Wakil Dekan FEB UNAIR menyampaikan apresiasinya kepada BKF yang telah memilih UNAIR untuk menjadi partner penyelenggara seminar preheating AIFED di Surabaya. Dr. Rudi mengungkapkan bahwa topik yang diangkat pada seminar ini yakni mengenai perubahan teknologi  adalah topik yang luar biasa penting dan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Ia berharap para peserta seminar dapat berkontribusi aktif memberikan masukan yang konstruktif, baik perbaikan kebijakan ataupun usulan kebijakan baru yang akan berguna di masa depan.

Sementara itu, Adriyanto, Ph.D., Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF, dalam sambutan pembukanya menyampaikan bahwa seminar preheating ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan acara AIFED yang akan diselenggarakan di Bali pada tanggal 7-8 Desember 2017. Menurut Adriyanto, kemajuan teknologi sangat banyak membawa perubahan dan manfaat. Misalnya dari sektor transportasi berupa Gojek dan Uber yang memberikan konsumen alternatif transportasi yang mudah dan murah. Di sisi lain, apakah dampak positif tersebut seimbang dengan dampak negatif yang ditimbulkan? apakah Gojek dan Uber menciptakan lapangan kerja baru atau malah menghilangkan pelaku bisnis lama?. Adriyanto berharap melalui seminar ini pemerintah memperoleh gambaran seberapa besar dampak teknologi terhadap produktivitas dan kesenjangan. Ia juga meminta masukan dari pembicara serta peserta pada seminar ini. Masukan-masukan tersebut nantinya akan berguna bagi pemerintah dalam proses menganalisis serta membuat kebijakan di masa depan. Selain itu, Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah akan bekerja proaktif untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan dari kemajuan teknologi.

Seminar preheating membagi diskusi ke dalam 2 sesi. Sesi 1 yang dimoderatori oleh Khaerul Mubin, M.sc., dosen FEB UNAIR, mengangkat tema “Pemanfaatan Teknologi Maju dalam Industri Manufaktur”. Pada sesi 1 ini tiga orang pembicara bergantian memaparkan presentasi masing-masing. Mereka adalah: 1) Yasir Niti Samudro, Ph.D, Peneliti BKF, dengan judul paparan “Analisis Pemanfaatan Teknologi Maju dalam Industri Manufaktur”; 2) Sugiyanto, Direktur Properti Maspion Group, dengan judul paparan “Pemanfaatan Teknologi untuk Mendorong Daya Saing Perusahaan di Pasar Domestik dan Global”, dan; 3) Prof. Badri Munir Sukoco, Ph.D, Guru Besar FEB UNAIR, dengan judul “Rekomendasi Kebijakan Dalam Rangka Memajukan Industri Manufaktur Nasional dan Penyerapan Tenaga Kerja”. Salah satu pembicara, Yasir Niti Samudro memaparkan bahwa saat ini dunia sedang masuk ke dalam Revolusi Industri yang ke-4 yakni industri yang dapat menghubungkan antara sistem fisik dengan proses virtual dan cyber. Yasir mengungkapkan beberapa prasyarat infrastruktur untuk revolusi industri ke-4 yakni power supply, internet broadband, data center, serta kebijakan-kebijakan pendukung. Ia juga menyampaikan beberapa model dukungan pemerintah dalam menyongsong datangnya industri 4.0 yang sudah diprogramkan Kementerian Perindustrian, yaitu: 1) memberikan insentif bagi perusahaan padat karya; 2) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika terkait dengan ekspansi internet broadband; 3) menyediakan sistem informasi industri nasional demi melayani kepentingan industri, dan; 4) mengadakan pendidikan pelatihan untuk membentuk high skill labor.

Sesi 2 diskusi yang bertemakan “Mendorong Pertumbuhan E-Commerce di Indonesia” dimoderatori oleh Jayadi, M.Ec.Dev., yang merupakan dosen pada FEB UNAIR. Sesi ini juga menghadirkan 3 pembicara yakni: 1) Dr. Cornelius Tjahjaprijadi, peneliti BKF, memaparkan “Hasil Analisis Mendorong Pertumbuhan E-Commerce di Indonesia”; 2) Ir. Arief Tri Hardjoko, MT., Bappeda Provinsi Jawa Timur, memaparkan “Antisipasi Pemerintah Daerah dalam Menghadapi Tantangan Berkembangnya E-Commerce dan Pemanfaatannya untuk Perekonomian Daerah”, serta; 3) Dr. Rudi Purwono, dosen FEB UNAIR, memaparkan “Rekomendasi Kebijakan Dalam Mengembangkan E-Commerce”. Pada kesempatan ini Dr. Cornelius mengungkapkan bahwa persentase transaksi e-commerce terhadap total transaksi ritel tumbuh dari 2,4% pada tahun 2005 menjadi 6% pada tahun 2014. Ia menyampaikan bahwa kombinasi akses internet yang mudah melalui smart phone dan  tingginya pengguna medsos semakin mendorong transaksi bisnis online. Sementara itu, dalam paparannya Dr Rudy mengharapkan e-commerce dapat menciptakan banyak enterpreneur baru di Indonesia. Selain itu, Ia juga berharap perkembangan e-commerce  juga bisa dimanfaatkan oleh usaha kecil dan menengah.

Setelah kedua sesi diskusi selesai, acara preheating ditutup dengan penyampaian summary seminar oleh Rummaya, Ph.D., yang merupakan dosen pada FEB UNAIR. Pada kesempatan ini juga diumumkan bahwa BKF menggelar kompetisi penulisan artikel untuk mahasiswa. Artikel harus bertemakan Role of Technology Towards Indonesia 2045 dengan pilihan sub-tema Traditional Market, Labor Market, dan Digital Economy. Sepuluh mahasiswa pemenang artikel terbaik akan diberangkatkan ke Bali untuk mengikuti seminar AIFED pada tanggal 8-9 Desember 2017 (tiket dan akomodasi ditanggung). (atw/adp)

 

Kompetisi Penulisan Artikel Selengkapnya

  Kurs Pajak : KMK Nomor 40/KM.10/2017,   USD : 13,501.00    AUD : 10,540.84    GBP : 17,755.46    SGD : 9,902.59    JPY : 11,975.02    EUR : 15,845.42    CNY : 2,030.25