Seminar Preheating AIFED Bertema Revolusi Industri digelar di Padang


Padang, (24/10); Sebagai rangkaian acara menuju Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED) yang akan diselenggarakan pada tanggal 7-8 Desember 2017 di Bali, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (FE UNAND) pada hari Selasa (24/10) menyelenggarakan seminar preheating AIFED di Aula Gedung Perpustakaan, Universitas Andalas, Padang. Seminar preheating bertajuk “Riding the Waves of Technological Changes: the Way Forward to Drive Productivity and Alleviate Inequality” ini dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah daerah setempat, pelaku usaha serta akademisi di wilayah Sumatera Barat.

Membuka seminar preheating, Dekan FE Universitas Andalas, Harif Amali Rivai, menyampaikan apresiasinya kepada BKF yang telah menyelenggarakan seminar preheating AIFED di Universitas Andalas, Padang. Harif mengajak peserta seminar untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai revolusi industri. Sementara itu pada sambutan pembuka berikutnya, Adriyanto, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, BKF, menyampaikan bahwa preheating AIFED ini bertujuan untuk mendapatkan kontribusi pemikiran, masukan, dan ide dari peserta terkait revolusi industri. Masukan-masukan tersebut nantinya akan berguna bagi pemerintah dalam proses menganalisis serta membuat kebijakan di masa depan. Selain itu, Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah akan bekerja proaktif untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan dari revolusi industri.

Acara inti seminar membagi diskusi ke dalam dua sesi. Sesi pertama yang dimoderatori oleh Dr. Sri Maryati, Dosen FE UNAND, menghadirkan dua pembicara. Pertama, Yasir Niti Samudro, Ph.D, BKF, dengan judul paparan “Analisis Pemanfaatan Teknologi Maju dalam Industri Manufaktur”. Dan kedua, Ir. Firdaus, M.M., Direktur Produksi PT. Semen Padang, dengan judul paparan “Peran dan Dampak Pemanfaatan Teknologi Maju dalam Industri Semen”. Yasir Niti Samudro memaparkan bahwa saat ini dunia sedang masuk ke dalam Revolusi Industri yang ke-4 yakni industri yang dapat menghubungkan antara sistem fisik dengan proses virtual dan cyber. Ia juga menyampaikan bahwa saat ini pertumbuhan di sektor manufaktur lebih didominasi oleh industri yang menggunakan teknologi rendah seperti industri mamin, tekstil, alas kaki, kulit dan tembakau. Dikatakan Yasir, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah merancang dukungan terhadap penggunaan teknologi maju dalam sektor manufaktur berupa insentif, infrastruktur dan sistem informasi, serta pendidikan dan pelatihan tenaga kerja. Sementara itu, Ir. Firdaus mengungkapkan bahwa kemajuan teknologi di industri semen berdampak positif pada kinerja PT. Semen Padang. Dengan teknologi yang handal, PT. Semen Padang memiliki daya saing yang tinggi dan semakin dapat memenuhi kebutuhan pasar.

Sesi kedua seminar yang dipandu oleh Dr. Hefrizal Handra, Dosen FE UNAND, juga menghadirkan dua pembicara, yakni Dr. Cornelius Tjahjaprijadi, peneliti BKF, memaparkan “Analisis Mendorong Pertumbuhan E-Commerce di Indonesia”, dan Dr. Vera Pujani, Dosen FE UNAND, memaparkan “Rekomendasi Kebijakan Dalam Rangka Memajukan Industri Manufaktur dan E-Commerce Nasional”. Salah satu pembicara, Dr. Cornelius mengungkapkan bahwa persentase transaksi e-commerce terhadap total transaksi ritel tumbuh dari 2,4% pada tahun 2005 menjadi 6% pada tahun 2014. Ia menyampaikan bahwa kombinasi akses internet yang mudah melalui smart phone dan  tingginya pengguna medsos semakin mendorong transaksi bisnis online. (atw/ap/at) 

  Kurs Pajak : KMK Nomor 45/KM.10/2017,   USD : 13,537.00    AUD : 10,372.05    GBP : 17,799.26    SGD : 9,943.59    JPY : 11,905.47    EUR : 15,740.55    CNY : 2,036.14