Sosialisasi Kebijakan Fiskal pada Mahasiswa Universitas Indonesia dan Internasional


Jakarta, (17/11): Badan Kebijakan Fiskal bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mengadakan sosialisasi kebijakan fiskal dengan tema Kebijakan Kerjasama Indonesia dengan Lembaga Bank Multilateral dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sosialisasi ini juga merupakan rangkaian The 15th Economix yang diselenggarakan oleh FEB UI. Bertempat di aula lantai 2 gedung RM Notohamiprodjo, acara sosialisasi ini dihadiri oleh mahasiswa dari dalam dan luar negeri.

Acara dibuka oleh Kepala Bagian Umum, Badan kebijakan FIskal, Lukas Lantip Ciptandi. Dalam sambutannya Lukas mengucapkan selamat datang kepada para mahasiswa yang hadir dan berharap diskusi yang berjalan memberi manfaat kepada semua pihak. Sosialisasi menghadirkan dua narasumber, Gandy Setiawan, Kepala Bidang Kerjasama Ekonomi dan Keuangan Asean dan Dalyono, Kepala Bidang Forum Multilateral. Diskusi dimoderatori oleh Adelia Surya Pratiwi, Staf khusus Kepala Badan Kebijakan Fiskal.

Dalam presentasinya, Gandy menjelaskan tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dalam perspektif kerja sama keuangan. MEA sendiri akan disusun berdasarkan empat pilar; 1. Sebuah kesatuan pasar dan basis produksi dimana tidak ada hambatan terhadap pergerakan barang, jasa, modal, investasi dan manusia, 2. Kawasan ekonomi dengan tingkat kompetitif yang tinggi, 3. Kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang merata dan inklusif, 4. Kawasan yang terintegrasi penuh dengan perekonomian global. Gandy menjelaskan bahwa Indonesia bisa memetik beberapa keuntungan seperti pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, meningkatkan investasi, dan mendorong inklusivitas ekonomi.

Narasumber kedua, Dalyono, membawakan materi tentang kebijakan ekonomi Indonesia terkait dengan Multilateral Development Banks (MDBs). MDBs adalah organisasi internasional yang dibentuk oleh berbagai negara dan berfungsi sebagai bank contohnya adalah Bank Dunia, Asian Development Bank, dan Islamic Development Bank. Dalyono juga menjelaskan bahwa saat ini kondisi perekonomian internasional mengalami berbagai tantangan, dimulai dari Re-Balancing perekonomian Cina, normalisasi kebijakan moneter, penuaan populasi secara umum, perubahan iklim dan bencana alam. Salah satu tantangan terbaru pada perekonomian internasional adalah bangkitnya paham proteksionisme di negara-negara maju. Indonesia harus bekerjasama dengan berbagai MDBs ini karena kebutuhan Indonesia untuk pendanaan berbagai proyek pembangunannya. (PG/ATW)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 49/KM.10/2017,   USD : 13,541.00    AUD : 10,210.46    GBP : 18,170.40    SGD : 10,025.91    JPY : 11,981.28    EUR : 15,962.94    CNY : 2,045.10