Daily Update : 07-06-2018 | Download File :

Berita Global

  • Bursa saham AS pada perdagangan Rabu (06/06) ditutup menguat didorong oleh rilis data ekonomi AS yang positif menguatkan saham sektor keuangan. Selain itu, kabar bahwa pejabat AS mempertimbangkan tawaran Tiongkok untuk mengimpor barang-barang Amerika bernilai tambahan USD70 miliar juga menjadi faktor pendorong penguatan saham. Indeks Dow Jones menguat 1,40 persen ke 25.146,39 sementara S&P 500 menguat 0,86 persen ke 2.772,35. (Reuters)
  • Harga minyak mentah pada perdagangan Rabu (06/06) tercatat menurun dipicu kenaikan persediaan minyak di pasar AS. Stok minyak AS dilaporkan meningkat sebesar 2,07 juta barel per pekan lalu. Angka tersebu berbeda dari proyeksi sejumlah analis yang memperkirakan persediaan minyak domestik berkurang. Minyak mentah WTI ditutup turun 1,20 persen ke USD64,73 per barel dan minyak mentah Brent ditutup turun 0,03 persen ke USD75,36 per barel. (Kontan)
  • Defisit neraca pedagangan AS untuk bulan April mengalami penurunan menjadi USD46,20 miliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mecatatkan defisit sebesar USD47,20 miliar. Defisit tersebut merupakan yang terendah dalam tujuh bulan terakhir dipicu oleh peningkatan ekspor bahan industri serta kedelai dan jagung. (Bisnis Indonesia)
  • Reserve Bank of India memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya ke level 6,25 persen dari sebelumnya sebesar 6,00 persen. Kenaikan merupakan kali pertama dalam empat tahun terakhir. Keputusan tersebut diambil sejalan dengan kenaikan harga minyak dan pelemahan mata uang rupee yang terus berlanjut sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi inflasi. (CNN)

Berita Domestik

  • Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Mei 2018 tercatat sebesar 125,1, lebih tinggi dibandingkan dengan 122,2 pada bulan sebelumnya. Keyakinan konsumen yang lebih tinggi didorong oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) khususnya Indeks Penghasilan dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama. Hal ini didorong oleh adanya Tunjangan Hari Raya (THR) dan menyambut Hari Raya Idul Fitri. (Bank Indonesia)
  • Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat suku bunga penjaminan atau LPS Rate untuk simpanan berdenominasi rupiah di bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen dan 8,25 persen. Sementara itu, suku bunga penjaminan untuk simpanan berdenominasi valuta asing (valas) di bank umum dinaikkan sebesar 50 bps menjadi 1,25 persen. Tingkat bunga penjaminan tersebut berlaku 6 Juni 2018 sampai 17 September 2018. Kenaikan LPS rate dilakukan dengan mempetimbangkan keputusan Bank Indonesia (BI) yang telah menaikkan tinggat suku bunga acuannya (BI 7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) sebanyak dua kali dalam satu bulan terakhir, sebanyak 50 bps menjadi 4,75 persen serta faktor suku bunga pasar uang antar bank yang telah naik sekitar 66 bps pada periode 27 April-28 Mei 2018. (CNN Indonesia)
  • Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir tahun 2018 sebesar 5,2 persen. Proyeksi tersebut lebih rendah dari perkiraan Maret lalu yang sebesar 5,3 persen. Penurunan proyeksi ini terjadi seiring meningkatnya risiko ekonomi domestik yang berasal dari perlambatan kinerja ekspor dan pertumbuhan investasi tinggi sehingga meningkatkan impor serta pengetatan dan normalisasi kebijakan moneter yang dilakukan oleh beberapa negara di dunia. (CNN Indonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 28-05-2018 s.d 03-06-2018 | Download File :

Highlight Minggu Ini

  • Wall Street volatile pasca pengumuman pengenaan tarif impor baja dan aluminium pada kelompok negara sekutu.
  • Indeks dolar AS berada pada level 94,16 pada akhir pekan (01/06), naik dari pekan dengan ekspektasi pasar akan menguat.
  • IHSG menguat 0,13 persen secara mingguan ke level 5.983,59 dengan posisi jual bersih investor non residen.
  • Kurs Rupiah/USD menguat signifikan 1,65 persen secara mingguan.
  • Bank Indonesia dalam RDG Tambahan pada Rabu (30/05) kembali menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps sebagai langkah pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve.

I. Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street berfluktuasi dalam sepekan dan pada akhir pekan indeks Dow Jones mencatatkan pelemahan sebesar 0,48 persen secara mingguan, sebaliknya indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan 0,49 persen. Pergerakan bursa saham Wall Street selama sepekan dipengaruhi oleh isu – isu yang bervariasi. Sentimen negatif muncul dari kekhawatiran atas perang Dagang setelah AS mengumumkan akan mengenakan tarif impor baja sebesar 25 persen dan tarif impor aluminium sebesar 10 persen dari Eropa, Kanada, dan Meksiko. Perdana Menteri Kanada kemudian bereaksi dengan mengumumkan akan mengenakan bea masuk balasan senilai USD12,8 miliar atas impor produk AS. Uni Eropa dan Meksika diperkirakan juga akan melakukan tindakan balasan serupa. Dari rilis data, indikator – indikator ekonomi utama AS menunjukkan perkembangan bervariasi. Rilis awal PDB Q1 2018 menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,2 persen qoq, di bawah ekspektasi sebesar 2,3 persen qoq. Indeks kepercayaan konsumen bulan Mei, ADP Nonfarm Employment Change bulan Mei, dan penjualan rumah second bulan April juga menunjukkan capaian di bawah ekspektasi. Sebaliknya, indikator tingkat pengangguran bulan Mei, Nonfarm Payrolls bulan Mei, dan ISM Manufacturing bulan Mei menunjukkan capaian di atas ekspektasi. Angka tingkat pengangguran sebesar 3,8 persen pada bulan Mei merupakan level terendah dalam 18 tahun terakhir.

Dari kawasan Eropa, bursa saham Eropa ditutup melemah secara mingguan atau merupakan pelemahan mingguan yang kedua kali sejak bulan Maret lalu. Pelemahan ini dipengaruhi oleh beberapa hal, pertama, tensi geopolitik di Italia yang masih tinggi. Partai populis euroskeptic Italia tidak akan membentuk pemerintahan koalisi, sehingga meningkatkan kemungkinan pemilihan umum baru. Namun, kekhawatiran dari Italia sedikit mereda pasca keberhasilan Italia menjual obligasi pemerintahnya tenor 5 tahun dan 10 tahun. Faktor kedua yang mempengaruhi pergerakan bursa saham Eropa selama sepekan adalah pengenaan tarif impor baja dan aluminium oleh AS dan yang ketiga adalah anjloknya saham perbankan pasca Wall Street Journal melaporkan Deutsche Bank bermasalah. Dari kawasan Asia, menyusul berbagai sentimen global, bursa saham Asia sebagian besar ditutup melemah dengan bursa saham Singapura dan Malaysia mengalami pelemahan paling dalam. Bursa saham Indonesia menjadi satu – satunya yang mencatatkan penguatan secara mingguan di kawasan.

Pasar Uang. Indeks dolar AS berada pada level 94,16 pada akhir pekan (01/06) atau menguat sebesar 0,26 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 93,92 pada penutupan akhir pekan sebelumnya. Selama sepekan, indeks dolar AS bergerak dalam rentang 93,75 – 95,03 dan level 95,03 merupakan level tertinggi baru di 2018. Meskipun yield treasury AS (UST) tenor

10 tahun mengalami penurunan selama sepekan, indeks dolar AS tetap melanjutkan relinya. Sumber penguatan indeks dolar AS ini berasal dari rilis data tingkat pengangguran, Nonfarm Payrolls, dan ISM Manufacturing yang menunjukkan capaian melebihi ekspektasi. Optimisme atas pertemuan AS – Korea Utara yang kembali terjadwal dan meredanya perang dagang dengan Tiongkok sebelumnya mendorong penguatan dolar AS ke level tertinggi baru di 2018, tetapi kemudian terkoreksi menyusul pengumuman pengenaan tarif impor baja dan aluminium.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS (UST) tenor 10 tahun berada pada level 2,917 persen pada akhir pekan (01/06), turun dibanding posisi pekan lalu yang sebesar 2,931 persen. Penurunan UST ini merefleksikan stance kebijakan the Fed yang lebih moderat. Salah satu indikator utama pasar tenaga kerja AS yang dipantau the Fed, yaitu rata – rata upah per jam. Agar inflasi mencapai target the Fed, rata – rata upah per jam ini diharapkan bisa secara konsisten tumbuh sebesar 0,3 persen sebulan. Pada kenyataannya, rilis bulan Mei menunjukkan angka persis 0,3 persen. The Fed masih menunggu perkembangan selanjutnya untuk mengonfirmasi angka ini dan sejauh ini kenaikan suku bunga the Fed diperkirakan akan terjadi sebanyak 3 kali di 2018.

Pasar Komoditas. Di awal pekan, harga minyak mentah global menguat tipis dibandingkan posisi Jumat (25/5), Brent menguat 0,42 persen ke level USD76,42 per barel. Penguatan harga minyak didorong oleh penurunan jumlah cadangan minyak mentah mingguan AS. Pergerakan harga minyak mentah di sepanjang pekan juga diwarnai oleh pandangan pelaku pasar yang meragukan komitmen OPEC untuk melakukan pemangkasan produksi di 2018 ini.

Harga acuan batubara ICE Newcastle menguat 5,31 persen ke level 111,05, merupakan posisi tertinggi sejak Februari 2018. Penguatan tersebut didorong oleh mengetatnya pasokan batubara global di tengah kebutuhan untuk menyuplai pembangkit listrik di Tiongkok.

Harga komoditas CPO mengalami pelemahan di tengah ekspektasi kenaikan ekspor dari Malaysia dan Indonesia. Dari sisi permintaan, di bulan Ramadhan terjadi kenaikan permintaan dari negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim. Namun, untuk negara-negara seperti Tiongkok, India, Uni Eropa, dan AS mencatatkan adanya penurunan permintaan. Secara total, tingkat permintaan global atas CPO mengalami penurunan.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG kembali menguat 0,13 persen secara mingguan ke level 5.983,59 di tengah posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark turun antara 31 hingga 58 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang mengalami penurunan mingguan secara nominal namun meningkat secara persentase, dan nilai tukar Rupiah terapresiasi 1,65 persen ke level Rp13.895 per USD.

IHSG tercatat menguat 0,13 persen secara mingguan ke level 5.983,59 dan diperdagangkan di kisaran 5.934,80 – 6.095,83 pada pekan ini. Investor nonresiden membukukan jual bersih sebesar Rp165,44 miliar pada pekan ini dan tercatat jual bersih Rp40,33 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan naik ke level Rp12,28 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp8,29 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak turun antara 31 s.d. 58 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 30 Mei 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp830,49 T, turun dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp832,08. Namun demikian, secara persentase kepemilikan non residen meningkat dari 37,99 persen terhadap total outstanding ke level 38,00 persen secara mingguan.

Nilai tukar Rupiah menguat signifikan sebesar 1,65 persen secara mingguan namun secara ytd masih mengalami pelemahan 3,13 persen, berada di level Rp13.896 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga pada pekan ini, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang stabil. Pekan ini Rupiah diperdagangkan di kisaran 13.875 – 14.095 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari AS, Conference Board (CB) Consumer Confidence AS pada bulan Mei 2018 tercatat sebesar 128, lebih tinggi dari posisi April sebesar 125,6 namun lebih rendah dari konsensus analis yang memperkirakan level 128,2. Hal ini mengindikasikan bahwa optimisme konsumen masih tinggi sehingga belanja konsumen AS diperkirakan masih akan tinggi ke depan. Nonfarm payrolls AS untuk bulan Mei 2018 tercatat mengalami kenaikan menjadi sebesar 223 ribu, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 159 ribu. Selain itu, tingkat pengangguran juga mengalami penurunan menjadi sebesar 3,8 persen, atau yang terendah yang sejak April 2000. Hal ini menunjukkan terjadinya penguatan pada pasar tenaga kerja di AS.

Dari kawasan Eropa, Inflasi Eropa pada bulan Mei 2018 sebesar 1,9 persen yoy. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bulan April yang sebesar 1,2 persen dan lebih tingi dibandingkan dengan prediksi analis sebesar 1,6 persen. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan inflasi yang terjadi di Jerman dan Prancis.

Dari kawasan Asia Pasifik, Manufacturing PMI Tiongkok untuk bulan Mei 2018 yang tercatat sebesar 51,9, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 51,4. Kenaikan tersebut dipicu oleh kenaikan produksi kendaraan. Hal ini menunjukkan adanya penguatan sektor manufaktur negara tersebut. Ekonomi India untuk Q1 tumbuh sebesar 7,7 persen, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang sebesar 7,0 persen. Pertumbuhan tersebut merupakan yang tercepat dalam 7 kuartal terakhir. Kenaikan ini terjadi dipicu oleh performa sektor pertanian, maunfaktur dan jasa.

IV. Perekonomian Domestik

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Tambahan Bank Indonesia pada tanggal 30 Mei 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75%, suku bunga Deposit Facility (DF) sebesar 25 bps menjadi 4,00%, dan suku bunga Lending Facility (LF) 25 bps menjadi 5,50%, berlaku efektif tanggal 31 Mei 2018. Kebijakan ini sebagai langkah pre-emptive, front- loading, dan ahead of the curve Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas khususnya stabilitas nilai tukar terhadap perkiraan kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi dan meningkatnya risiko di pasar keuangan global. Bank Indonesia meyakini kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan cukup baik dan kuat. Tekanan terhadap stabilitas sejak awal Februari lebih karena tren kenaikan suku bunga AS dan meningkatnya ketidakpastian global akibat perubahan kebijakan AS dan sejumlah risiko geopolitik. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengkalibrasi perkembangan baik domestik maupun global untuk memanfaatkan masih adanya ruang untuk kenaikan suku bunga secara terukur.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi keleluasaan untuk profesi analis dengan tidak lagi membatasi coverage emiten atau jumlah emiten yang ditangani oleh para analis. Dalam rumusan sebelumnya, OJK membatasi bahwa satu analis harus menangani 12 emiten. Saat mewacanakan satu analis 12 emiten, otoritas beralasan bahwa laporan keuangan perusahaan selalu dirilis setiap tiga bulan atau 12 minggu sekali. Dengan kata lain, satu emiten akan dikerjakan oleh analis dalam waktu 1 minggu. Terdapat kelebihan dan kekurangan dari rencana kebijakan tersebut. Kelebihannya adalah analis bisa leluasa melakukan analisis karena tidak dibatasi oleh regulasi. Adapun kekurangannya adalah sekuritas akan menuntut analis untuk kerja lebih keras sehingga ada kemungkinan analis tidak memahami sektor tertentu karena besarnya tuntutan dari perusahaan sekuritas.

Bank Dunia memberikan pinjaman sebesar USD300 juta ke Indonesia untuk meningkatkan prasarana dan pelayanan dasar yang relevan dengan pariwisata, memperkuat hubungan eknomi lokal dengan kepariwisataan dan menarik investasi swasta ke Indonesia. Tiga lokasi yang akan memanfaatkan pinjaman Bank Dunia, yakni Lombok di Nusa Tenggara Barat, segitiga Borobudur- Yogyakarta-Prambanan di Jawa Tengah, dan Danau Toba di Sumatra Utara.

Perekonomian Dunia Menuju New Normal, Bank Indonesia Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

  • Hingga akhir Mei 2018, Rupiah telah melemah 2,52 persen point-to-point, IHSG tercatat melemah 5,85 persen, dan imbal hasil SBN seri benchmark tenor 10 tahun tercatat naik 73 bps.
  • Bank Indonesia dalam RDG Tambahan pada Rabu (30/05) kembali menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps sebagai langkah pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve.
  • Standard and Poor’s (S&P) yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di BBB- (investment grade)dengan outlook stabil.

Memasuki bulan terakhir Q2 2018, kondisi pasar keuangan domestik masih diliputi tekanan yang bersumber dari dinamika perekonomian dunia yang tengah menuju arah keseimbangan baru atau a new normal. Pemulihan perekonomian Amerika Serikat yang diikuti oleh peningkatan inflasi mendorong the Fed untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuannya yang diperkirakan hingga 4 kali dalam tahun 2018. Hal ini memicu penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia. Selain itu, kebijakan fiskal Pemerintah AS yang ekspansif yang disertai pemotongan pajak pribadi dan korporasi telah menyebabkan kenaikan imbal hasil US Treasury seiring dengan perkiraan pelebaran defisit fiskal AS. Selain dari perkembangan kebijakan AS, dinamika perekonomian global juga banyak dipengaruhi oleh potensi perang dagang antara AS dan Tiongkok, eskalasi geopolitik Timur Tengah dan perkembangan ketegangan semenanjung Korea. Kombinasi hal-hal tersebut menciptakan tekanan bagi pasar keuangan negara berkembang yang ditandai dengan pelemahan mata uang dan arus modal keluar (capital outflow).

Hingga akhir bulan Mei 2018, tercatat Rupiah telah melemah 2,52 persen point-to-point dibandingkan posisi akhir tahun 2017 atau secara rata-rata, Rupiah terdepresiasi 2,53 persen year-to-date. Dari pasar saham, IHSG tercatat melemah 5,85 persen year-to-date dengan capital outflow mencapai Rp40,33 triliun. Sementara dari pasar SBN, imbal hasil SBN seri benchmark tenor 10 tahun tercatat naik 73 bps dalam periode Januari-Mei 2018 dengan total Rp5,66 triliun keluar dari pasar SBN. Kondisi ini menunjukkan kuatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik mengingat dalam periode yang sama di tahun 2017, pasar keuangan domestik ditandai dengan besarnya capital inflow, terutama ke pasar SBN. Tercatat dalam periode Januari hingga Mei 2017, capital inflow di pasar saham dan pasar SBN masing-masing mencapai Rp21,69 triliun dan Rp90,34 triliun dengan IHSG tercatat naik sebesar 8,33 persen, yield SBN tenor 10 tahun turun 101 bps dan Rupiah menguat 1,11 persen point-to-point.

Merespon kuatnya tekanan eksternal terutama dampaknya ke volatilitas nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia mengambil kebijakan penaikan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps masing-masing 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 16-17 Mei 2018 dan 25 bps dalam RDG Tambahan pada 30 Mei 2018.

Pesan yang disampaikan oleh Bank Indonesia pun berbeda untuk masing-masing kenaikan. Dalam kenaikan 25 bps pertama, Bank Indonesia menyiratkan pesan bahwa kebijakan tersebut merupakan respons yang diperlukan atas perkembangan dan faktor eksternal. Sebagai langkah stabilisasi jangka pendek, kenaikan suku bunga acuan ditujukan untuk menjaga besarnya interest rate differential setelah the Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada bulan Maret yang selanjutnya diikuti kenaikan suku bunga di banyak negara. Terjaganya nilai tukar Rupiah dan interest rate differential diharapkan mampu membawa masuk kembali modal asing ke pasar keuangan domestik atau setidaknya menahan arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Dalam kenaikan 25 bps yang kedua pada 30 Mei 2018, pesan utama yang disampaikan Bank Indonesia adalah kebijakan preventif dalam horizon yang lebih panjang dengan tujuan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah. Dengan kata lain, Bank Indonesia lebih mengambil posisi preventif atau preemptive atas perkiraan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat yang kemungkinan naik hingga empat kali pada tahun ini sekaligus potensi peningkatan risiko di pasar keuangan. Dengan demikian, interest rate differential yang terjaga antara 7-DRRR dengan Fed Fund Rate meskipun nantinya the Fed mengambil kebijakan penaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada FOMC Meeting pada 12-13 Juni 2018 akan membuat aset-aset keuangan domestik tetap menarik dan menguntungkan bagi investor asing. Posisi Bank Indonesia yang bersifat antisipatif juga menunjukkan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan fundamental perekonomian domestik secara keseluruhan seiring arah perekonomian global menuju keseimbangan baru.

Pengakuan atas fundamental perekonomian Indonesia yang kuat sekaligus bauran kebijakan yang kredibel berasal dari lembaga rating Standard and Poor’s (S&P) yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di BBB- (investment grade) dengan outlook stabil pada Kamis (31/5). Sebelumnya, S&P mengerek rating utang Indonesia ke level investment grade pada 19 Mei 2017. Dalam pernyataannya, S&P melihat kinerja fiskal Pemerintah terus membaik dengan beban utang Pemerintah yang stabil. Dari sisi eksternal, current account deficit Indonesia diproyeksikan akan menyempit dalam beberapa tahun ke depan, yang mencerminkan permintaan global yang stabil dan harga komoditas yang lebih tinggi. Selain itu, perumusan kebijakan Indonesia telah efektif dalam mendukung keuangan pemerintah yang berkesinambungan dan pertumbuhan ekonomi yang berimbang. Afirmasi dari S&P ini dapat menjadi tambahan tenaga bagi pasar keuangan domestik dengan memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut.

Dari pasar keuangan global, pasar ekuitas global utama membukukan keuntungan yang solid pada minggu terakhir Mei 2018, sementara dolar AS dan imbal hasil obligasi US Treasury cukup tinggi karena pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat (AS) terbukti lebih kuat di bulan Mei daripada yang diperkirakan pasar. Indeks S&P500 ditutup naik naik 1,1 persen setelah sebelumnya melemah 1,6 persen pada awal pekan yang berakhir pada 1 Juni 2018, di tengah kekhawatiran tentang dampak global dari perkembangan politik Eropa dan berakhir naik 0,5 persen untuk minggu ini. Pasar ekuitas Eropa juga ditutup lebih tinggi dengan Euro Stoxx 600 naik 1 persen pada penutupan pekan untuk mengurangi kerugian dalam seminggu menjadi 1,1 persen dari sebanyak -2,3 persen hingga Kamis (31/05).

Tingkat pengangguran di AS turun menjadi 3,8 persen atau sama dengan kondisi bulan April 2000, yang merupakan level terendah sejak Desember 1969. Pertumbuhan lapangan pekerjaan baru di AS tercatat 223.000 pada bulan Mei atau lebih kuat dari ekspektasi pasar yang sebesar 190.000. Meskipun tingkat pengangguran turun menyamai posisi terendah multi-dekade dan lebih jauh di bawah proyeksi median komite kebijakan the Fed (FOMC) untuk tingkat 'long run' di 4,5 persen, pertumbuhan pendapatan hanya tumbuh rata-rata per jam 0,3 persen dalam sebulan dan 2,7 persen sepanjang tahun di mana walau keduanya lebih tinggi daripada yang diantisipasi pasar tetapi masih berada di bawah level tertinggi baru-baru ini sebesar 2,8 persen.

Sektor jasa swasta kembali berkontribusi pada sebagian besar peningkatan dalam sektor-sektor penghasil barang termasuk konstruksi (25.000) dan manufaktur (18.000). Secara keseluruhan, pertumbuhan lapangan kerja berlanjut pada 1,6 persen sepanjang tahun - sebagian besar sejalan dengan laju tahunan baru-baru ini setelah melambat secara umum selama beberapa tahun terakhir dari tingginya baru-baru ini 2,3 persen hingga tahun 2015 hingga Februari 2015.

Indeks manufaktur ISM AS - indikator aktivitas PMI ayang mendasari berbagai indeks serupa secara global tercatat naik pada bulan Mei atau kembali mendekati level tertinggi dalam 14 tahun pada bulan Februari 2018 dan berada pada salah satu tingkat yang paling ekspansif (di atas 50) dalam 20 tahun terakhir. Hal ini didukung oleh penguatan dari sub-indeks utama, termasuk produksi dan new orders. Kenaikan indikator new orders mencerminkan kekuatan domestik sementara sub-indeks pesanan ekspor baru turun lebih lanjut pada bulan Mei meskipun masih menunjukkan tingkat ekspansi yang solid.

Indikator ‘tekanan’ dalam indeks ISM manufaktur terus meningkat. Khususnya, sebagai indikator tekanan inflasi, indikator harga yang dibayarkan telah mencapai level tertinggi sejak April 2011. Tekanan pada kapasitas juga terjadi seiring indikator backlog yang menunjukkan kenaikan tertinggi sejak April 2004, sementara indikator waktu pengiriman kembali naik setelah sempat melambat tahun lalu setelah gangguan aktivitas terjadi ketika bencana angin topan menghantam AS bagian selatan. Pasar terus mencatat kekhawatiran tentang tarif yang mendasari harga untuk produk-produk baja. Produsen kini mencari sumber- sumber alternatif pasokan di luar negara-negara yang kemungkinan akan dikenakan tarif (dengan survei yang dilakukan sebelum pengumuman pekan lalu bahwa tarif baja dan aluminium akan diimplementasikan pada UE, Kanada dan Meksiko).

Sejalan dengan kenaikan imbal hasil obligasi US Treasury, ekspektasi pasar atas prospek tingkat kebijakan Fed telah pulih setelah sempat turun tajam awal pekan lalu di tengah kekhawatiran bahwa perkembangan politik Eropa dapat menyebabkan gejolak krisis Euro dengan konsekuensi global. Pasar kini kembali ke priced-in terhadap ekspektasi tiga kenaikan suku bunga Fed tahun ini, termasuk kenaikan pertama pada bulan Maret sebagaimana tersirat oleh median proyeksi FOMC dan masih ada peluang kenaikan keempat. Pasar sepenuhnya priced-in untuk kenaikan suku bunga berikutnya yang akan disampaikan pada pengumuman kebijakan Fed yang akan datang pada 14 Juni 2018.

Bertentangan dengan ekspektasi pasar, penurunan tingkat pengangguran AS menjadi 3,8 persen jauh di bawah tingkat laju inflasi non pengangguran atau nonaccelerating inflation rate of unemployment (NAIRU) seperti yang diperkirakan oleh OECD (bahkan diberikan beberapa revisi ke bawah baru-baru ini ke perkiraan mereka) seperti yang ditunjukkan oleh gambar 11 di bawah ini dan di bawah tingkat 'jangka panjang' sebesar 4,5 persen sesuai dengan estimasi median peserta komite kebijakan FOMC Federal Reserve AS pada pembaruan proyeksi terakhir mereka pada bulan Maret. Dalam keadaan seperti itu The Fed biasanya lebih suka menaikkan suku bunga kebijakannya setidaknya mendekati tingkat 'jangka panjang' untuk mencegah kenaikan inflasi yang berlebihan.

Tingkat suku bunga kebijakan Fed saat ini dalam kisaran 1,5 persen hingga 1,75 persen jauh di bawah perkiraan FOMC tentang tingkat jangka panjang di 2,875 persen (yang secara umum telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir dari perkiraan hingga awal 2014 sebesar 4 persen). Namun ketidakpastian yang terus berlanjut di antara pembuat kebijakan Fed mengenai NAIRU menggambarkan tekanan inflasi melambat untuk merespon penguatan yang sedang berlangsung di pasar tenaga kerja. Perkiraan The Fed tentang tingkat pengangguran jangka panjang juga semakin berkurang dari kisaran 5,2-5,8 persen pada Desember 2013 ke central tendency 4,3-4,7 persen seperti pada pembaruan proyeksi terakhir mereka di bulan Maret.

Proyeksi median FOMC pada Maret untuk tingkat pengangguran di bawah tingkat 'jangka panjang' pada tingkat 3,8 persen pada 2018 saat ini sudah tercapai dan diperkirakan 3,6 persen pada 2019 dan 2020. Tingkat pengangguran saat ini sama dengan tingkat pengangguran pada bulan April 2000, yang merupakan terendah sejak Desember 1969 (ketika itu 3,5 persen, tepat di atas terendah 3,4 persen selama tahun 1960-an). Tingkat 'setengah pengangguran' (termasuk mereka yang bekerja paruh waktu yang ingin bekerja lebih banyak jam) juga turun menjadi 7,6 persen di bawah pra-GFC pada level 7,9 persen pada bulan Desember 2006 atau yang terendah sejak Mei 2001 dan juga di bawah GFC tertinggi di atas 17 persen.

Saat ini pertumbuhan penghasilan per jam rata-rata mengalami penguatan sebesar 2,7 persen sepanjang tahun dan tampaknya memiliki dampak inflasi terbatas mengingat bahwa kondisi tersebut berada di bawah level tertinggi baru-baru ini sebesar 2,8 persen dan masih di bawah tingkat pra-GFC.

Hal ini mengingat bahwa rata-rata penghasilan per jam dapat dipengaruhi oleh perubahan komposisi pekerjaan antara pekerjaan membayar lebih tinggi dan lebih rendah. Indeks biaya tenaga kerja pada kuartal I 2018, yang belum menghitung perubahan komposisi dan merupakan ukuran upah yang disukai the Fed, tercatat pertumbuhan tahunan yang diperkirakan sebesar 2,7 persen sepanjang tahun. Hal ini merupakan pertumbuhan tercepat sepanjang tahun sejak kuartal III 2008. Namun hal ini terlalu singkat dari tingkat umumnya sebelum GFC yang melebihi 3 persen.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Highlight Minggu Ini

  • Wall Street volatile pasca pengumuman pengenaan tarif impor baja dan aluminium pada kelompok negara sekutu.
  • Indeks dolar AS berada pada level 94,16 pada akhir pekan (01/06), naik dari pekan dengan ekspektasi pasar akan menguat.
  • IHSG menguat 0,13 persen secara mingguan ke level 5.983,59 dengan posisi jual bersih investor non residen.
  • Kurs Rupiah/USD menguat signifikan 1,65 persen secara mingguan.
  • Bank Indonesia dalam RDG Tambahan pada Rabu (30/05) kembali menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps sebagai langkah pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve.

I. Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street berfluktuasi dalam sepekan dan pada akhir pekan indeks Dow Jones mencatatkan pelemahan sebesar 0,48 persen secara mingguan, sebaliknya indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan 0,49 persen. Pergerakan bursa saham Wall Street selama sepekan dipengaruhi oleh isu – isu yang bervariasi. Sentimen negatif muncul dari kekhawatiran atas perang Dagang setelah AS mengumumkan akan mengenakan tarif impor baja sebesar 25 persen dan tarif impor aluminium sebesar 10 persen dari Eropa, Kanada, dan Meksiko. Perdana Menteri Kanada kemudian bereaksi dengan mengumumkan akan mengenakan bea masuk balasan senilai USD12,8 miliar atas impor produk AS. Uni Eropa dan Meksika diperkirakan juga akan melakukan tindakan balasan serupa. Dari rilis data, indikator – indikator ekonomi utama AS menunjukkan perkembangan bervariasi. Rilis awal PDB Q1 2018 menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,2 persen qoq, di bawah ekspektasi sebesar 2,3 persen qoq. Indeks kepercayaan konsumen bulan Mei, ADP Nonfarm Employment Change bulan Mei, dan penjualan rumah second bulan April juga menunjukkan capaian di bawah ekspektasi. Sebaliknya, indikator tingkat pengangguran bulan Mei, Nonfarm Payrolls bulan Mei, dan ISM Manufacturing bulan Mei menunjukkan capaian di atas ekspektasi. Angka tingkat pengangguran sebesar 3,8 persen pada bulan Mei merupakan level terendah dalam 18 tahun terakhir.

Dari kawasan Eropa, bursa saham Eropa ditutup melemah secara mingguan atau merupakan pelemahan mingguan yang kedua kali sejak bulan Maret lalu. Pelemahan ini dipengaruhi oleh beberapa hal, pertama, tensi geopolitik di Italia yang masih tinggi. Partai populis euroskeptic Italia tidak akan membentuk pemerintahan koalisi, sehingga meningkatkan kemungkinan pemilihan umum baru. Namun, kekhawatiran dari Italia sedikit mereda pasca keberhasilan Italia menjual obligasi pemerintahnya tenor 5 tahun dan 10 tahun. Faktor kedua yang mempengaruhi pergerakan bursa saham Eropa selama sepekan adalah pengenaan tarif impor baja dan aluminium oleh AS dan yang ketiga adalah anjloknya saham perbankan pasca Wall Street Journal melaporkan Deutsche Bank bermasalah. Dari kawasan Asia, menyusul berbagai sentimen global, bursa saham Asia sebagian besar ditutup melemah dengan bursa saham Singapura dan Malaysia mengalami pelemahan paling dalam. Bursa saham Indonesia menjadi satu – satunya yang mencatatkan penguatan secara mingguan di kawasan.

Pasar Uang. Indeks dolar AS berada pada level 94,16 pada akhir pekan (01/06) atau menguat sebesar 0,26 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 93,92 pada penutupan akhir pekan sebelumnya. Selama sepekan, indeks dolar AS bergerak dalam rentang 93,75 – 95,03 dan level 95,03 merupakan level tertinggi baru di 2018. Meskipun yield treasury AS (UST) tenor

10 tahun mengalami penurunan selama sepekan, indeks dolar AS tetap melanjutkan relinya. Sumber penguatan indeks dolar AS ini berasal dari rilis data tingkat pengangguran, Nonfarm Payrolls, dan ISM Manufacturing yang menunjukkan capaian melebihi ekspektasi. Optimisme atas pertemuan AS – Korea Utara yang kembali terjadwal dan meredanya perang dagang dengan Tiongkok sebelumnya mendorong penguatan dolar AS ke level tertinggi baru di 2018, tetapi kemudian terkoreksi menyusul pengumuman pengenaan tarif impor baja dan aluminium.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS (UST) tenor 10 tahun berada pada level 2,917 persen pada akhir pekan (01/06), turun dibanding posisi pekan lalu yang sebesar 2,931 persen. Penurunan UST ini merefleksikan stance kebijakan the Fed yang lebih moderat. Salah satu indikator utama pasar tenaga kerja AS yang dipantau the Fed, yaitu rata – rata upah per jam. Agar inflasi mencapai target the Fed, rata – rata upah per jam ini diharapkan bisa secara konsisten tumbuh sebesar 0,3 persen sebulan. Pada kenyataannya, rilis bulan Mei menunjukkan angka persis 0,3 persen. The Fed masih menunggu perkembangan selanjutnya untuk mengonfirmasi angka ini dan sejauh ini kenaikan suku bunga the Fed diperkirakan akan terjadi sebanyak 3 kali di 2018.

Pasar Komoditas. Di awal pekan, harga minyak mentah global menguat tipis dibandingkan posisi Jumat (25/5), Brent menguat 0,42 persen ke level USD76,42 per barel. Penguatan harga minyak didorong oleh penurunan jumlah cadangan minyak mentah mingguan AS. Pergerakan harga minyak mentah di sepanjang pekan juga diwarnai oleh pandangan pelaku pasar yang meragukan komitmen OPEC untuk melakukan pemangkasan produksi di 2018 ini.

Harga acuan batubara ICE Newcastle menguat 5,31 persen ke level 111,05, merupakan posisi tertinggi sejak Februari 2018. Penguatan tersebut didorong oleh mengetatnya pasokan batubara global di tengah kebutuhan untuk menyuplai pembangkit listrik di Tiongkok.

Harga komoditas CPO mengalami pelemahan di tengah ekspektasi kenaikan ekspor dari Malaysia dan Indonesia. Dari sisi permintaan, di bulan Ramadhan terjadi kenaikan permintaan dari negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim. Namun, untuk negara-negara seperti Tiongkok, India, Uni Eropa, dan AS mencatatkan adanya penurunan permintaan. Secara total, tingkat permintaan global atas CPO mengalami penurunan.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG kembali menguat 0,13 persen secara mingguan ke level 5.983,59 di tengah posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark turun antara 31 hingga 58 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang mengalami penurunan mingguan secara nominal namun meningkat secara persentase, dan nilai tukar Rupiah terapresiasi 1,65 persen ke level Rp13.895 per USD.

IHSG tercatat menguat 0,13 persen secara mingguan ke level 5.983,59 dan diperdagangkan di kisaran 5.934,80 – 6.095,83 pada pekan ini. Investor nonresiden membukukan jual bersih sebesar Rp165,44 miliar pada pekan ini dan tercatat jual bersih Rp40,33 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan naik ke level Rp12,28 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp8,29 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak turun antara 31 s.d. 58 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 30 Mei 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp830,49 T, turun dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp832,08. Namun demikian, secara persentase kepemilikan non residen meningkat dari 37,99 persen terhadap total outstanding ke level 38,00 persen secara mingguan.

Nilai tukar Rupiah menguat signifikan sebesar 1,65 persen secara mingguan namun secara ytd masih mengalami pelemahan 3,13 persen, berada di level Rp13.896 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga pada pekan ini, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang stabil. Pekan ini Rupiah diperdagangkan di kisaran 13.875 – 14.095 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari AS, Conference Board (CB) Consumer Confidence AS pada bulan Mei 2018 tercatat sebesar 128, lebih tinggi dari posisi April sebesar 125,6 namun lebih rendah dari konsensus analis yang memperkirakan level 128,2. Hal ini mengindikasikan bahwa optimisme konsumen masih tinggi sehingga belanja konsumen AS diperkirakan masih akan tinggi ke depan. Nonfarm payrolls AS untuk bulan Mei 2018 tercatat mengalami kenaikan menjadi sebesar 223 ribu, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 159 ribu. Selain itu, tingkat pengangguran juga mengalami penurunan menjadi sebesar 3,8 persen, atau yang terendah yang sejak April 2000. Hal ini menunjukkan terjadinya penguatan pada pasar tenaga kerja di AS.

Dari kawasan Eropa, Inflasi Eropa pada bulan Mei 2018 sebesar 1,9 persen yoy. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan bulan April yang sebesar 1,2 persen dan lebih tingi dibandingkan dengan prediksi analis sebesar 1,6 persen. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan inflasi yang terjadi di Jerman dan Prancis.

Dari kawasan Asia Pasifik, Manufacturing PMI Tiongkok untuk bulan Mei 2018 yang tercatat sebesar 51,9, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 51,4. Kenaikan tersebut dipicu oleh kenaikan produksi kendaraan. Hal ini menunjukkan adanya penguatan sektor manufaktur negara tersebut. Ekonomi India untuk Q1 tumbuh sebesar 7,7 persen, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang sebesar 7,0 persen. Pertumbuhan tersebut merupakan yang tercepat dalam 7 kuartal terakhir. Kenaikan ini terjadi dipicu oleh performa sektor pertanian, maunfaktur dan jasa.

IV. Perekonomian Domestik

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Tambahan Bank Indonesia pada tanggal 30 Mei 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75%, suku bunga Deposit Facility (DF) sebesar 25 bps menjadi 4,00%, dan suku bunga Lending Facility (LF) 25 bps menjadi 5,50%, berlaku efektif tanggal 31 Mei 2018. Kebijakan ini sebagai langkah pre-emptive, front- loading, dan ahead of the curve Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas khususnya stabilitas nilai tukar terhadap perkiraan kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi dan meningkatnya risiko di pasar keuangan global. Bank Indonesia meyakini kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan cukup baik dan kuat. Tekanan terhadap stabilitas sejak awal Februari lebih karena tren kenaikan suku bunga AS dan meningkatnya ketidakpastian global akibat perubahan kebijakan AS dan sejumlah risiko geopolitik. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengkalibrasi perkembangan baik domestik maupun global untuk memanfaatkan masih adanya ruang untuk kenaikan suku bunga secara terukur.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi keleluasaan untuk profesi analis dengan tidak lagi membatasi coverage emiten atau jumlah emiten yang ditangani oleh para analis. Dalam rumusan sebelumnya, OJK membatasi bahwa satu analis harus menangani 12 emiten. Saat mewacanakan satu analis 12 emiten, otoritas beralasan bahwa laporan keuangan perusahaan selalu dirilis setiap tiga bulan atau 12 minggu sekali. Dengan kata lain, satu emiten akan dikerjakan oleh analis dalam waktu 1 minggu. Terdapat kelebihan dan kekurangan dari rencana kebijakan tersebut. Kelebihannya adalah analis bisa leluasa melakukan analisis karena tidak dibatasi oleh regulasi. Adapun kekurangannya adalah sekuritas akan menuntut analis untuk kerja lebih keras sehingga ada kemungkinan analis tidak memahami sektor tertentu karena besarnya tuntutan dari perusahaan sekuritas.

Bank Dunia memberikan pinjaman sebesar USD300 juta ke Indonesia untuk meningkatkan prasarana dan pelayanan dasar yang relevan dengan pariwisata, memperkuat hubungan eknomi lokal dengan kepariwisataan dan menarik investasi swasta ke Indonesia. Tiga lokasi yang akan memanfaatkan pinjaman Bank Dunia, yakni Lombok di Nusa Tenggara Barat, segitiga Borobudur- Yogyakarta-Prambanan di Jawa Tengah, dan Danau Toba di Sumatra Utara.

Perekonomian Dunia Menuju New Normal, Bank Indonesia Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

  • Hingga akhir Mei 2018, Rupiah telah melemah 2,52 persen point-to-point, IHSG tercatat melemah 5,85 persen, dan imbal hasil SBN seri benchmark tenor 10 tahun tercatat naik 73 bps.
  • Bank Indonesia dalam RDG Tambahan pada Rabu (30/05) kembali menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps sebagai langkah pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve.
  • Standard and Poor’s (S&P) yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di BBB- (investment grade)dengan outlook stabil.

Memasuki bulan terakhir Q2 2018, kondisi pasar keuangan domestik masih diliputi tekanan yang bersumber dari dinamika perekonomian dunia yang tengah menuju arah keseimbangan baru atau a new normal. Pemulihan perekonomian Amerika Serikat yang diikuti oleh peningkatan inflasi mendorong the Fed untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuannya yang diperkirakan hingga 4 kali dalam tahun 2018. Hal ini memicu penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia. Selain itu, kebijakan fiskal Pemerintah AS yang ekspansif yang disertai pemotongan pajak pribadi dan korporasi telah menyebabkan kenaikan imbal hasil US Treasury seiring dengan perkiraan pelebaran defisit fiskal AS. Selain dari perkembangan kebijakan AS, dinamika perekonomian global juga banyak dipengaruhi oleh potensi perang dagang antara AS dan Tiongkok, eskalasi geopolitik Timur Tengah dan perkembangan ketegangan semenanjung Korea. Kombinasi hal-hal tersebut menciptakan tekanan bagi pasar keuangan negara berkembang yang ditandai dengan pelemahan mata uang dan arus modal keluar (capital outflow).

Hingga akhir bulan Mei 2018, tercatat Rupiah telah melemah 2,52 persen point-to-point dibandingkan posisi akhir tahun 2017 atau secara rata-rata, Rupiah terdepresiasi 2,53 persen year-to-date. Dari pasar saham, IHSG tercatat melemah 5,85 persen year-to-date dengan capital outflow mencapai Rp40,33 triliun. Sementara dari pasar SBN, imbal hasil SBN seri benchmark tenor 10 tahun tercatat naik 73 bps dalam periode Januari-Mei 2018 dengan total Rp5,66 triliun keluar dari pasar SBN. Kondisi ini menunjukkan kuatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik mengingat dalam periode yang sama di tahun 2017, pasar keuangan domestik ditandai dengan besarnya capital inflow, terutama ke pasar SBN. Tercatat dalam periode Januari hingga Mei 2017, capital inflow di pasar saham dan pasar SBN masing-masing mencapai Rp21,69 triliun dan Rp90,34 triliun dengan IHSG tercatat naik sebesar 8,33 persen, yield SBN tenor 10 tahun turun 101 bps dan Rupiah menguat 1,11 persen point-to-point.

Merespon kuatnya tekanan eksternal terutama dampaknya ke volatilitas nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia mengambil kebijakan penaikan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps masing-masing 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 16-17 Mei 2018 dan 25 bps dalam RDG Tambahan pada 30 Mei 2018.

Pesan yang disampaikan oleh Bank Indonesia pun berbeda untuk masing-masing kenaikan. Dalam kenaikan 25 bps pertama, Bank Indonesia menyiratkan pesan bahwa kebijakan tersebut merupakan respons yang diperlukan atas perkembangan dan faktor eksternal. Sebagai langkah stabilisasi jangka pendek, kenaikan suku bunga acuan ditujukan untuk menjaga besarnya interest rate differential setelah the Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada bulan Maret yang selanjutnya diikuti kenaikan suku bunga di banyak negara. Terjaganya nilai tukar Rupiah dan interest rate differential diharapkan mampu membawa masuk kembali modal asing ke pasar keuangan domestik atau setidaknya menahan arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Dalam kenaikan 25 bps yang kedua pada 30 Mei 2018, pesan utama yang disampaikan Bank Indonesia adalah kebijakan preventif dalam horizon yang lebih panjang dengan tujuan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah. Dengan kata lain, Bank Indonesia lebih mengambil posisi preventif atau preemptive atas perkiraan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat yang kemungkinan naik hingga empat kali pada tahun ini sekaligus potensi peningkatan risiko di pasar keuangan. Dengan demikian, interest rate differential yang terjaga antara 7-DRRR dengan Fed Fund Rate meskipun nantinya the Fed mengambil kebijakan penaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada FOMC Meeting pada 12-13 Juni 2018 akan membuat aset-aset keuangan domestik tetap menarik dan menguntungkan bagi investor asing. Posisi Bank Indonesia yang bersifat antisipatif juga menunjukkan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan fundamental perekonomian domestik secara keseluruhan seiring arah perekonomian global menuju keseimbangan baru.

Pengakuan atas fundamental perekonomian Indonesia yang kuat sekaligus bauran kebijakan yang kredibel berasal dari lembaga rating Standard and Poor’s (S&P) yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di BBB- (investment grade) dengan outlook stabil pada Kamis (31/5). Sebelumnya, S&P mengerek rating utang Indonesia ke level investment grade pada 19 Mei 2017. Dalam pernyataannya, S&P melihat kinerja fiskal Pemerintah terus membaik dengan beban utang Pemerintah yang stabil. Dari sisi eksternal, current account deficit Indonesia diproyeksikan akan menyempit dalam beberapa tahun ke depan, yang mencerminkan permintaan global yang stabil dan harga komoditas yang lebih tinggi. Selain itu, perumusan kebijakan Indonesia telah efektif dalam mendukung keuangan pemerintah yang berkesinambungan dan pertumbuhan ekonomi yang berimbang. Afirmasi dari S&P ini dapat menjadi tambahan tenaga bagi pasar keuangan domestik dengan memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut.

Dari pasar keuangan global, pasar ekuitas global utama membukukan keuntungan yang solid pada minggu terakhir Mei 2018, sementara dolar AS dan imbal hasil obligasi US Treasury cukup tinggi karena pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat (AS) terbukti lebih kuat di bulan Mei daripada yang diperkirakan pasar. Indeks S&P500 ditutup naik naik 1,1 persen setelah sebelumnya melemah 1,6 persen pada awal pekan yang berakhir pada 1 Juni 2018, di tengah kekhawatiran tentang dampak global dari perkembangan politik Eropa dan berakhir naik 0,5 persen untuk minggu ini. Pasar ekuitas Eropa juga ditutup lebih tinggi dengan Euro Stoxx 600 naik 1 persen pada penutupan pekan untuk mengurangi kerugian dalam seminggu menjadi 1,1 persen dari sebanyak -2,3 persen hingga Kamis (31/05).

Tingkat pengangguran di AS turun menjadi 3,8 persen atau sama dengan kondisi bulan April 2000, yang merupakan level terendah sejak Desember 1969. Pertumbuhan lapangan pekerjaan baru di AS tercatat 223.000 pada bulan Mei atau lebih kuat dari ekspektasi pasar yang sebesar 190.000. Meskipun tingkat pengangguran turun menyamai posisi terendah multi-dekade dan lebih jauh di bawah proyeksi median komite kebijakan the Fed (FOMC) untuk tingkat 'long run' di 4,5 persen, pertumbuhan pendapatan hanya tumbuh rata-rata per jam 0,3 persen dalam sebulan dan 2,7 persen sepanjang tahun di mana walau keduanya lebih tinggi daripada yang diantisipasi pasar tetapi masih berada di bawah level tertinggi baru-baru ini sebesar 2,8 persen.

Sektor jasa swasta kembali berkontribusi pada sebagian besar peningkatan dalam sektor-sektor penghasil barang termasuk konstruksi (25.000) dan manufaktur (18.000). Secara keseluruhan, pertumbuhan lapangan kerja berlanjut pada 1,6 persen sepanjang tahun - sebagian besar sejalan dengan laju tahunan baru-baru ini setelah melambat secara umum selama beberapa tahun terakhir dari tingginya baru-baru ini 2,3 persen hingga tahun 2015 hingga Februari 2015.

Indeks manufaktur ISM AS - indikator aktivitas PMI ayang mendasari berbagai indeks serupa secara global tercatat naik pada bulan Mei atau kembali mendekati level tertinggi dalam 14 tahun pada bulan Februari 2018 dan berada pada salah satu tingkat yang paling ekspansif (di atas 50) dalam 20 tahun terakhir. Hal ini didukung oleh penguatan dari sub-indeks utama, termasuk produksi dan new orders. Kenaikan indikator new orders mencerminkan kekuatan domestik sementara sub-indeks pesanan ekspor baru turun lebih lanjut pada bulan Mei meskipun masih menunjukkan tingkat ekspansi yang solid.

Indikator ‘tekanan’ dalam indeks ISM manufaktur terus meningkat. Khususnya, sebagai indikator tekanan inflasi, indikator harga yang dibayarkan telah mencapai level tertinggi sejak April 2011. Tekanan pada kapasitas juga terjadi seiring indikator backlog yang menunjukkan kenaikan tertinggi sejak April 2004, sementara indikator waktu pengiriman kembali naik setelah sempat melambat tahun lalu setelah gangguan aktivitas terjadi ketika bencana angin topan menghantam AS bagian selatan. Pasar terus mencatat kekhawatiran tentang tarif yang mendasari harga untuk produk-produk baja. Produsen kini mencari sumber- sumber alternatif pasokan di luar negara-negara yang kemungkinan akan dikenakan tarif (dengan survei yang dilakukan sebelum pengumuman pekan lalu bahwa tarif baja dan aluminium akan diimplementasikan pada UE, Kanada dan Meksiko).

Sejalan dengan kenaikan imbal hasil obligasi US Treasury, ekspektasi pasar atas prospek tingkat kebijakan Fed telah pulih setelah sempat turun tajam awal pekan lalu di tengah kekhawatiran bahwa perkembangan politik Eropa dapat menyebabkan gejolak krisis Euro dengan konsekuensi global. Pasar kini kembali ke priced-in terhadap ekspektasi tiga kenaikan suku bunga Fed tahun ini, termasuk kenaikan pertama pada bulan Maret sebagaimana tersirat oleh median proyeksi FOMC dan masih ada peluang kenaikan keempat. Pasar sepenuhnya priced-in untuk kenaikan suku bunga berikutnya yang akan disampaikan pada pengumuman kebijakan Fed yang akan datang pada 14 Juni 2018.

Bertentangan dengan ekspektasi pasar, penurunan tingkat pengangguran AS menjadi 3,8 persen jauh di bawah tingkat laju inflasi non pengangguran atau nonaccelerating inflation rate of unemployment (NAIRU) seperti yang diperkirakan oleh OECD (bahkan diberikan beberapa revisi ke bawah baru-baru ini ke perkiraan mereka) seperti yang ditunjukkan oleh gambar 11 di bawah ini dan di bawah tingkat 'jangka panjang' sebesar 4,5 persen sesuai dengan estimasi median peserta komite kebijakan FOMC Federal Reserve AS pada pembaruan proyeksi terakhir mereka pada bulan Maret. Dalam keadaan seperti itu The Fed biasanya lebih suka menaikkan suku bunga kebijakannya setidaknya mendekati tingkat 'jangka panjang' untuk mencegah kenaikan inflasi yang berlebihan.

Tingkat suku bunga kebijakan Fed saat ini dalam kisaran 1,5 persen hingga 1,75 persen jauh di bawah perkiraan FOMC tentang tingkat jangka panjang di 2,875 persen (yang secara umum telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir dari perkiraan hingga awal 2014 sebesar 4 persen). Namun ketidakpastian yang terus berlanjut di antara pembuat kebijakan Fed mengenai NAIRU menggambarkan tekanan inflasi melambat untuk merespon penguatan yang sedang berlangsung di pasar tenaga kerja. Perkiraan The Fed tentang tingkat pengangguran jangka panjang juga semakin berkurang dari kisaran 5,2-5,8 persen pada Desember 2013 ke central tendency 4,3-4,7 persen seperti pada pembaruan proyeksi terakhir mereka di bulan Maret.

Proyeksi median FOMC pada Maret untuk tingkat pengangguran di bawah tingkat 'jangka panjang' pada tingkat 3,8 persen pada 2018 saat ini sudah tercapai dan diperkirakan 3,6 persen pada 2019 dan 2020. Tingkat pengangguran saat ini sama dengan tingkat pengangguran pada bulan April 2000, yang merupakan terendah sejak Desember 1969 (ketika itu 3,5 persen, tepat di atas terendah 3,4 persen selama tahun 1960-an). Tingkat 'setengah pengangguran' (termasuk mereka yang bekerja paruh waktu yang ingin bekerja lebih banyak jam) juga turun menjadi 7,6 persen di bawah pra-GFC pada level 7,9 persen pada bulan Desember 2006 atau yang terendah sejak Mei 2001 dan juga di bawah GFC tertinggi di atas 17 persen.

Saat ini pertumbuhan penghasilan per jam rata-rata mengalami penguatan sebesar 2,7 persen sepanjang tahun dan tampaknya memiliki dampak inflasi terbatas mengingat bahwa kondisi tersebut berada di bawah level tertinggi baru-baru ini sebesar 2,8 persen dan masih di bawah tingkat pra-GFC.

Hal ini mengingat bahwa rata-rata penghasilan per jam dapat dipengaruhi oleh perubahan komposisi pekerjaan antara pekerjaan membayar lebih tinggi dan lebih rendah. Indeks biaya tenaga kerja pada kuartal I 2018, yang belum menghitung perubahan komposisi dan merupakan ukuran upah yang disukai the Fed, tercatat pertumbuhan tahunan yang diperkirakan sebesar 2,7 persen sepanjang tahun. Hal ini merupakan pertumbuhan tercepat sepanjang tahun sejak kuartal III 2008. Namun hal ini terlalu singkat dari tingkat umumnya sebelum GFC yang melebihi 3 persen.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 26/KM.10/2018,   USD : 13,923.00    AUD : 10,580.97    GBP : 18,532.57    SGD : 10,405.95    JPY : 12,726.78    EUR : 16,263.79    CNY : 2,173.07