Analisis Persistensi Inflasi di Provinsi Papua Barat

Azwar Iskandar, Achmat Subekan

Abstract


This study was aimed to analyze the persistence of inflation in West Papua Province and commodities’s contibutions to its persistence. In other that, this study was aimed to know the role of TPID in controlling the inflation rate too. Using secondary time series data in 2009 until 2015 period from Bank Indonesia, this study estimated the persistence with Univariate Autoregressive (AR) Model approach. This study empirically showed that the inflation in West Papua has a high level persistence. This level indicated that inflation was relatively need long time to back to natural value after the shocks. It need 11.5 months to back to natural value. Furthermore, using Partial Adjustment Model (PAM), this study also showed that the persistence significantly caused by groups of prepared food, transportation, communication and monetary service as administered price and volatile foods groups. TPID as an inflation controller board have given good roles in coordinating both fiscal and monetary policies.


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat persistensi inflasi di Provinsi Papua Barat dan kontribusi persistensi inflasi sejumlah komoditas atau kelompok barang/jasa terhadap pembentukan persistensi di Provinsi Papua Barat. Selain itu, penelitian ini juga akan melihat peranan TPID menjalankan fungsinya dalam pengendalian inflasi di Provinsi Papua Barat. Dengan menggunakan data time series triwulanan tahun 2009 s.d. 2015 yang bersumber dari publikasi Bank Indonesia, penelitian ini mencoba mengestimasi dengan pendekatan Univariate Autoregressive (AR) Model. Penelitian ini membuktikan bahwa inflasi di Provinsi Papua Barat memiliki derajat persistensi yang tinggi. Persistensi inflasi yang tinggi mengindikasikan bahwa inflasi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali ke nilai alamiahnya setelah adanya shock. Tingginya derajat persistensi inflasi Provinsi Papua Barat tercermin dari lamanya jangka waktu yang dibutuhkan oleh inflasi untuk menyerap 50% shock yang terjadi sebelum kembali ke nilai alamiahnya. Jangka waktu yang dibutuhkan oleh inflasi Provinsi Papua Barat untuk kembali ke nilai alamiahnya yaitu selama 11,5 bulan. Dengan model Partial Adjustment Model (PAM) diketahui bahwa persistensi inflasi Provinsi Papua Barat dipengaruhi oleh shock yang terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok-kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebagai kelompok administered price dan kelompok bahan makanan sebagai kelompok volatile foods. Selain itu, keberadaan TPID di Provinsi Papua Barat sebagai upaya untuk mengoordinasikan kebijakan moneter dan fiskal regional dalam rangka mengontrol laju inflasi, terbukti memiliki arah hubungan negatif terhadap inflasi regional di Provinsi Papua Barat.


Keywords


persistensi; inflasi; papua; TPID

Full Text:

PDF Untitled Remote

References


Alamsyah, Halim. (2008). Persistensi Inflasi dan Dampaknya Terhadap Pilihan dan Respons Kebijakan Moneter. Disertasi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Arimurti, Trinil dan Trisnanto, Budi. (2011). Persistensi Inflasi Di Jakarta dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pengendalian Inflasi Daerah. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Bank Indonesia. (2010). Persistensi Inflasi Studi Di Kota Palangkaraya dan Sampit. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan IV.

Bank Indonesia Kendari. 2010. Penelitian Persistensi Inflasi Sulawesi Tenggara.

Bank Indonesia (2014). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Provinsi Papua Barat Triwulan IV 2014. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat .

Bank Indonesia (2015). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Provinsi Papua Barat Triwulan IV 2015. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat .

Bank Indonesia (2016). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Provinsi Papua Barat Triwulan I 2016. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat .

Carlino, Gerald dan Robert Defina. (1998). The Differential Regional Effects of Monetary Policy. The Review of Economics and Statistics, Vol. 80, No.4, November 1998. pp. 572-587.

Enders, Walter, 2004, Applied Econometric Time Series. 2nd Edition, New York: John Wiley and Sons, Inc.

Gujarati, Damodar (2004). Basic Econometrics, Fourth-Edition. New York: The McGraw-Hill Companies.

Iswardono (1997). Kebijakan Moneter di Indonesia (Indonesian Monetary Policy). Journal of Economics, FE UII, No. 2, Vol. 3, 1997.

Harmanta. (2009). Kredibilitas Kebijakan Moneter dan Dampaknya terhadap Persistensi Inflasi dan Strategi Disinflasi di Indonesia: dengan Model Dynamic Stochastic General Equilibrium (DSGE). Jakarta: Fakultas Ekonomi Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia.

Hidayat, Fatimah. (2013). Analisis Persistensi Inflasi Jawa Timur: Suatu Pendekatan Sisi Penawaran. Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Malang.

Marques, Carlos Robalo. (2004). Inflation Persistence: Facts Or Artefacts?. Working Paper Series no. 371.

Nopirin (1994). Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro (Edisi Pertama). Yogyakarta: BPFE.

Samuelson, PA, dan Nordhaus WD (2004). Ilmu Makroekonomi. Edisi Tujuh Belas, Diterjemahkan oleh Gretta, Theresa Tanoto, Bosco Carvallo, dan Anna Elly. PT. Media Global Edukasi, Jakarta.

Subekan, Achmat, Azwar. (2016). Analisis Pengaruh Kebijakan Moneter dan Fiskal Regional Terhadap Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Regional dan Pembuktian Flypaper Effect di Era Desentralisasi Fiskal di Provinsi Papua Barat . Kajian Akademis BPPK Kementerian Keuangan Tahun 2016.

Wimanda, Rizki E. (2006). Regional Inflation in Indonesia: Characteristic, Convergence, and Determinants. Bank Indonesia Working Paper, No.13, Oktober 2006.

Yanuarti, Tri. (2007). Has Inflation Persistence in Indonesia Changed?. Working Paper Bank Indonesia.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Kajian Ekonomi dan Keuangan