ENG  |  IND
Pembiayaan Perubahan Iklim Global

Untuk mengimplementasikan aksi mitigasi dan adaptasi, pembiayaan perubahan
iklim adalah penting. Sumber pembiayaan dan investasi yang memadai dapat
membantu negara-negara dalam merespon perubahan iklim, sekaligus untuk
mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca.



Pembiayaan Perubahan Iklim Global

Berdasarkan Climate Funds Update, diperkirakan sekitar USD 34.688 juta dana yang telah dijanjikan, dimana 48%nya sudah didepositkan, tetapi hanya sekitar 7% yang sudah disebarkan / dimanfaatkan. Sumber pendanaan ini, diperoleh dari pendanaan publik dan swasta, dalam berbagai bentuk, baik dari sumber domestik dan internasional untuk negara maju dan berkembang. Sejumlah dana tersebut telah didedikasikan dan disalurkan melalui pendanaan publik internasional selama beberapa dekade terakhir untuk beberapa negara berkembang.

Informasi yang lebih detil mengenai kondisi terkini dari pembiayaan perubahan iklim dapat diperoleh melalui:

detail http://www.climatefundsupdate.org/.


Tipe Pendanaan
GREEN CLIMATE FINANCE (GCF)

Green Climate Fund (GCF) adalah pendanaan yang terdapat di dalam kerangka UNFCCC yang didesain sebagai mekanisme untuk membantu negara berkembang dalam aksi adaptasi dan mitigasi untuk melawan dampak perubahan iklim. Para pemimpin negara menunjukkan dukungan yang kuat terhadap GCF ini. Beberapa dari mereka telah menggunakan dana tersebut tidak kurang dari USD 10 miliar. Sampai saat ini, sebanyak USD 2,3 miliar dana total yang telah dijanjikan dalam pendanaan ini.

GCF telah menerima 67 institusi sebagai National Designated Authority (NDA) sampai dengan November 2014. Jika dirangkum, sekitar 36 negara menunjuk Kementerian Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Sektor Berbasis Lahan sebagai NDA, 19 negara memiliki Kementerian Keuangan atau Perbendaharaan sebagai NDA, 4 negara menunjuk Kementerian Energi sebagai NDA, 2 negara menunjuk Kementerian Perencanaan Nasional sebagai NDA, 3 negara memiliki badan dalam bentuk dewan sebagai NDA (di Indonesia, sebelumnya memiliki Dewan Nasional Perubahan Iklim / DNPI sebagai NDA), 2 negara memiliki Sekretaris Nasional sebagai NDA.

(http://news.gcfund.org)

CLEAN TECHNOLOGY FUND (CTF)

Dana sebesar USD 5,3 miliar dari Clean Technology Fund (CTF), merupakan sebuah peluang pendanaan untuk Climate Finance Funds yang dibentuk pada tahun 2008 dan bertujuan menyediakan pembiayaan dalam skala besar kepada negara dengan pendapatan tingkat menengah sebagai upaya untuk mendemonstrasikan, menyebarkan, dan mentransfer teknologi rendah karbon untuk menurunkan emisi gas rumah kaca jangka panjang.

Indonesia telah menggunakan dana sebesar USD 400 juta dari CTF untuk mengembangkan sekitar 800 MW pembangkit listrik tenaga panas bumi baru di 3 daerah, dan untuk menciptakan pembagian risiko dan fasilitas keuangan yang didesain untuk mempercepat investasi dalam bidang efisiensi energi dan pengembangan energi terbarukan. Rencana investasi CTF di Indonesia direncanakan untuk dilaksanakan di bawah naungan pemerintah, dan berkoordinasi dengan Asian Development Bank (ADB), anggota dari kelompok World Bank Group (IBRD, IFC), dan beberapa pemangku kepentingan kunci di Indonesia. Rencana investasi akan membolisasi dana sebesar USD 2.6 miliar untuk pembiayaan publik dan swasta demi melaksanakan beberapa target kunci peningkatan pengembangan potensial energi terbarukan dan efisiensi energi dari segi kemampuan teknologi dan ekonomi, karena diharapkan dapat menginisiasi transformasi menuju ekonomi rendah karbon.

(http://www.climateinvestmentfunds.org/cif/node/2)

GLOBAL ENVIRONMENT FACILITY (GEF)

The Global Environment Facility (GEF) adalah program kerjasama internasional yang melibatkan 183 negara, insitusi internasional, lembaga sosial masyarakat, dan sektor swasta untuk menangani isu lingkungan global. Berfungsi sebagai mekanisme pembiayaan untuk berbagai konvensi lingkungan internasional, sejak 1991, GEF menyediakan USD 14,6 miliar dalam bentuk hibah dan jumlah ini bertambah menjadi USD 74,3 miliar sebagai pembiayaan pembantu untuk 4.032 proyek di lebih dari 165 negara berkembang. Selama 24 tahun, baik negara berkembang maupun negara maju telah membiayai perencanaan proyek dan program dalam bidang keanekaragaman hayati, perubahan iklim, sektor air internasional, degradasi lahan, dan bahan kimia dan limbah. Melalui Small Grants Programme (SGP), GEF telah menyalurkan dananya melalui 20.000 lebih hibah ke LSM dan organisasi berbasis masyarakat dengan total USD 1 miliar.

Sejak bergabung dengan GEF, Indonesia menerima dana GEF dengan total USD 149.908.313 yang dikembangkan menjadi US 966.663.005 dari sumber pembiayaan pembantu untuk 42 proyek nasional, termasuk 21 proyek terkait biodiversity, 15 proyek terkait perubahan iklim, dan 3 multi-vokal proyek, dan 2 untuk polutan organik yang persisten di air, dan 1 dalam sektor air internasional.

(https://www.thegef.org/gef/)

CARBON MARKET

Carbon Market atau pasar karbon sering didefinisikan sebagai pasar yang diciptakan dari penjualan emisi karbon yang dapat digunakan untuk membantu negara dan swasta dalam membatasi emisi gas karbon dioksida. Hal ini juga sering diketahui sebagai penjualan emisi atau karbon.

Clean Development Mechanism (CDM), didefinisikan dalam artikel 12 dari protokol, yang mengijinkan negara dengan komitmen untuk menurunkan emisi atau membatasi emisinya di bawah pengaturan Kyoto Protocol (Negara-negara dalam Lampiran B) untuk mengimplementasikan proyek penurunan emisi di negara berkembang. Proyek tersebut dapat memperoleh Certified Emission Reduction (CER) dalm bentuk kredit, yang ekivalen dengan satu ton CO2, yang dimana dapat dihitung untuk memenuhi target penurunan gas rumah kaca, yang merupakan output dari pertemuan di Kyoto. Proyek CDM harus menyediakan penurunan emisi gas rumah kaca. Proyek CDM harus terkualifikasi dan melalui berbagai proses termasuk registrasi publik dan proses lainnya. Kemudian pemberian izin akan diberikan oleh Designated National Authorities (DNA). Pendanaan publik untuk proyek dan aktivitas CDM seharusnya tidak keluar dari bantuan perencanaan yang resmi.

(https://cdm.unfccc.int/)

JOINT CREDITING MECHANISM (JCM)

Joint Crediting Mechanism adalah proposal dari Pemerintah Jepang untuk mendorong organisasi sektor swasta di Jepang untuk menginvestasikan perencanaan aktivitas yang rendah karbon di Indonesia dengan memberikan sejumlah insentif. Aktivitas JCM melingkupi berbagai sektor, termasuk efisiensi energi, energi terbarukan, deforestasi dan degradasi hutan, manajemen limbah, penurunan emisi, dan industri atau manufaktur. Indonesia berharap bahwa JCM akan menjadi sangat menarik sebagai alternatif pendanaan untuk mendukung penurunan emisi gas rumah kaca baik yang dilakukan oleh sektor publik dan swasta di Indonesia dan mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa menganggu keberlanjutan lingkungan.

(http://www.mmechanisms.org/e/initiatives/).